Membaca novel fiksi yang menceritakan tentang penolakan atas sebuah adat yang mengukungnya, terkadang membuat saya berpikir untuk menulis juga tentang adat dan norma yang berlaku di dalam hidup saya. Dalam hal ini, adat yang saya maksud adalah adat orang jawa.
Namun sayangnya, saya tidak bisa melakukannya. Bukan karena adat tersebut terlalu sempurna sehingga saya tak bisa menentangnya. Atau malah saya berpihak kepada adat tersebut karena ia sama sekali tidak mengganggu hidup saya. Melainkan karena saya hidup di tahun 2014.
Barangkali jika saya menjadi nenek atau ibu, saya akan dapat banyak bercerita. Tentang tentangan atau dukungan.
Wednesday, 10 December 2014
Monday, 1 December 2014
Ingatan Tentang Mbah Kung
Sore yang masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Kudapati Mbah Kung duduk di ruang tamu, di kursi hijau dekat radio, menghadap ke pintu rumah. Lagu campursari berkumandang. Sarung coklatnya masih menempel selepas sholat Ashar, suaranya merdu mengikuti alunan lagu. Apalagi tepuk tangannya. Tak pernah bisa dipisahkan dengan matanya yang sesekali tertutup karena menikmati lagu. Seperti lupa kalau beliau sudah punya cucu tiga.
Atau jika sore hujan angin dan listrik mati sehingga tak dapat menyalakan radio, yang dilakukan Mbah Kung adalah nembang. Ditemani kopi, pisang goreng, dan aku yang sedang membaca di teras depan rumah. Menyenangkan.
Hari ini Mbah Kung tak menanyakan lagi ada pentas apa di THR. Dulu, ketika Mbah Kung masih ingat cara mengendarai sepeda motor, aku adalah pilihan pertama dan satu-satunya yang akan diajak pergi ke THR atau ke Taman Budaya Cak Durasim. Sebagai asisten pembaca jadwal pementasan ludruk, ketoprak, wayang, atau campur sari.
Namun, ketika usianya memakan segala ingatan tentang tetek bengek THR dan seni pertunjukan tradisional lainnya, yang tersisa adalah menanyakan apakah aku sudah membeli tiket masuk pertunjukan Ketoprak yang dihadiri oleh Kirun.
Kala itu November. Hujan tak bisa terprediksi. Bisa-bisa hujan angin. Karena tak ingin kehabisan tiket, aku menerobos hujan deras sehabis kuliah seharian. Sampai THR pukul 6 sore dengan basah kuyup. Kubeli 2 tiket.
Sampai di rumah, kupamerkan dua tiket yang disampul plastik. Mbah Kung hanya berkata, “Numpak opo? Iso mbonceng aku?” (Naik apa? Bisa memboncengku?) Aku tak kecewa. Sama sekali tidak. Mbah Kung hanya menanyakan apakah aku sudah membeli tiket. Tak pernah menawarkan dirinya untuk ikut serta.
Pada hari pertunjukan, hatiku melengos. Tak sampai dua puluh orang hadir untuk menonton. Kupilih baris kedua depan panggung dengan mudahnya. Pertunjukan berlangsung dengan ringannya. Jika Mbah Kung dapat hadir, barangkali suaranya tertawa adalah yang paling keras.
Belum selesai pertunjukan, seorang kakek yang duduk di belakangku menyodorkan dua tiket doorprize-nya kepadaku. Katanya, barangkali aku yangbedjo. Kemudian ia pulang bersama cucu perempuannya. Dan ketika itu aku rindu Mbah Kung.
Yang dalam ingatanku, Mbah Kung yang jago nembang, Mbah Kung yang tenang tapi pandai melucu, Mbah Kung yang petuah-petuahnya bisa kucerna dengan sifatku yang keras kepala, Mbah Kung yang mewarisi gaya tulisan aksara jawa kepadaku yang kata Mbah Uti sama persis.
Ah, namun sayangnya, aku baru pertama kali bertemu Mbah Kung ketika beliau sudah tidak bisa merespon cepat dengan siapa dia berbicara dan tak dapat mengenali orang dengan mudah.
Surabaya, 1 Demember 2014
**
Mendadak rindu Mbah Kung. Rindu kepada manusia yang hanya bertemu sekali. Itupun tak sampai satu jam dan hanya berinteraksi melalui ciuman tangan dua kali. Paragraf terakhir menerangkan tentang bagaimana keadaan Mbah Kung ketika aku bertemu dengannya.
Mbah Kung masih hidup. Tapi, aku dan ibuku tak pernah tumbuh bersamanya semenjak kecil. Jadi, selama ini aku membuat ingatan tentang beliau meski tak sepenuhnya benar. Sebenarnya hanya tak sebatas ini ingatan yang kubuat. Tapi, aku terbata dengan ingatan tersebut. Karena ingatan di atas tak pernah terjadi.
Cerita di atas adalah komparasi antara ingatan yang kubuat tentang Mbah Kung dan peristiwa yang membuatku rindu kepadanya. Kadang aku juga menerka apa yang biasa ia lakukan jika aku tumbuh bersama beliau.
Jadi, beginilah Nita kalau sedang rindu, tapi orangnya tak pernah bertemu atau berinteraksi. Suka membuat ingatan.
Ini sudah Demember. Mari kita bicarakan ingatan.
Wednesday, 29 October 2014
Debaran Bertemu Debaran
Rumah yang kami tempati sedang dibetulkan. Atap kamarku
sampai teras depan masih menggunakan atap lama yang bisa membuat sinar matahari
leluasa masuk menerpa kasur.
Rumah ini sudah dibetulkan semenjak aku duduk di bangku SD. Material
yang menyusun rumah kami sudah tua. Beberapa yang bermaterial kayu telah hamper
habis dimakan rayap. Kata ibu, rumah kami hampir roboh.
Namun, karena keterbatasan biaya, bapaklah yang mengerjakan hampir
semua pekerjaan pembetulan rumah. Karena alasan yang sama juga, pembetulan
rumah tidak dapat dilakukan hanya dengan hitungan bulan. Melainkan dengan
hitungan tahun.
Yang kusuka dari acara pembetulan rumah adalah kami seakan mendapatkan
kesempatan yang langka : bertukar tempat tidur.
Tak ada kalimat kepemilikan “Ini kamarku, tidur saja sendiri
di kamarmu.” Yang menurutku membuat seorang mengotak-ngotakkan kepentingan dan
privasi dalam sebuah ruangan yang disebut kamar.
Hari ini aku tidur berdua dengan adik di kamar ibu. Besok
bisa saja tidur sendiri di kamar adik. Atau malah tidur bersama ibu, nenek dan
adik di ruang tamu. Menyenangkan.
Yang kusuka dari tidur bersama adalah : debaran bertemu
dengan debaran. Setidaknya itu yang kurasakan ketika tidur bersama adik. Apalagi
ketika keduanya masih terjaga dan saling bertatapan.
Pernah mengenal percobaan getaran yang dirasakan oleh
telinga ketika ditempelkan pada rel kereta api? Atau, praktek dengan dua gelas
air mineral yang dihubungkan oleh sehelai benang yang panjang yang kemudian
bisa mengantarkan suara?
Dengan teori yang sama, aku percaya dengan adanya
penghantaran debaran jantung ketika sedang tidur beralaskan kasur yang sama.
Jadi, secara tidak langsung kita sebenarnya dapat ikut merasakan debaran
jantung seseorang ketika sedang tidur dengan alas yang sama.
Aku juga pernah
mendengar bahwa yang dapat mendekatkan dua orang manusia adalah makan bersama,
tidur bersama, dan mandi bersama. Aku selalu
menganggap bercanda tentang poin yang terakhir. Dan biasanya, untuk merekatkan
rasa, dalam berteater dibutuhkan makan bersama dan tidur bersama tersebut.
Cukup logis jika kedua premis tersebut dikaitkan menjadi
sebab akibat. Menurutku.
Aku juga percaya bahwa tidur adalah titik dimana manusia paling
terlihat jujur. Karena mana mungkin kita dapat mengendalikan diri kita untuk
tidak kentut dengan suara yang keras, kan? Dalam keadaan terjaga, seseorang
akan izin untuk keluar untuk melepaskan gas tersebut atau malah main tuduh
ketika gas tersebut berbau sangat menyengat.
Ini hanya racauan mentah. Apakah iya teori tersebut pernah
dibahas dari banyak aspek, aku belum pernah membacanya. Jika ada dan hendak
berdiskusi, silakan hubungi saja. Lagi pula, kalimat-kalimat diatas adalah
hasil dari pemikiranku saja. Karena tidak ada yang akan tertarik dengan bahasan
yang tidak penting seperti ini, maka kuputuskan untuk kurekamnya dengan menulis
di blog. Siapa tahu aku mendapat orang dengan pemikiran yang sama. Kan lumayan.
Jadi, barangkali aku akan sering memposting tentang racauan
racauan di dalam otakku ke dalam tulisan seperti ini. Karena meracau itu
menyenangkan. Dan menulis itu mengasyikkan!
Friday, 3 October 2014
Kebiasaan Berulang dan Tak Dilarang
Siapa yang tak bahagia jika pekerjaan yang menjadi pengisi
di waktu luangnya telah menjadi pekerjaan yang selalu mengisi. Meskipun membuatnya
harus menyisihkan waktunya untuk melakukan pekerjaan tersebut. Bahkan,
pekerjaan tersebut telah mengisi sudut ruang pikirnya yang tak sadar.
Ini mengenai hobi saya. Menulis, tentunya. Sebenarnya saya
tak pernah paham menulis ini adalah hobi atau bakat.
Saya mulai menulis ketika masih memakai dasi berwarna merah setiap
hari. Ingatan saya tentang menulis ketika itu adalah ketika kelas enam SD, saya
pernah membuat sebait puisi entah tentang apa di buku paket kawan sebangku yang
saya kira adalah buku paket saya. Dan sejak waktu itu saya selalu menyisakan
satu halaman di setiap buku tulis untuk mencoretinya.
Karena kedua orang tua saya tak pernah melarang anaknya
melakukan apapun asalkan positif, maka kebiasaan menulis saya semakin menjadi. Apalagi
ibu memperbolehkan dua sampai tiga halaman belakang di setiap buku tulis
anaknya adalah halaman yang sah untuk keperluan lain selain mencatat. Banyak rangkaian
kalimat yang terlatih dan terekam dari halaman tersebut.
Banyak yang bilang jika tulisan saya indah. Diksinya ajaib,
diskripsinya membuat terbayang, dan majasnya tak pernah terpikirkan. Namun,
jika ada yang menyeletuk bahwa ini adalah bakat, saya tak akan pernah menolak
untuk mendapatkan anugrah langka dari Tuhan yang satu itu.
Jika memang menulis ini bakat, barangkali itu adalah turunan
dari bapak dan ibu ketika saya berada dalam kandungan. Karena ibu tinggal di
Surabaya dan bapak bekerja di Palembang, maka suratlah yang mengisi komunikasi
diantara mereka. Saya pernah tak sengaja menemukannya. Dan tiga jam membaca surat-surat
mereka seperti berlalu lewat begitu saja.
Kata seorang kawan, hal itu bisa saja terjadi. Karena ketika
mengandung, apa saja yang dilakukan orang tua, dapat langsung menurun atau
tertular ke anaknya. Maka dari itu, orang tua pantang melakukan beberapa hal
buruk seperti yang dipercaya orang jawa. Contohnya kawan saya. Ibunya suka
melihat kesenian tradisional jawa ketika mengandungnya. Hasilnya, dia suka mempelajari
seni karawitan, tembang-tembang jawa, dan kesenian tradisional lainnya.
Tak jarang dalam pertemuan yang mengumpulkan orang-orang
yang memiliki keterterikan dalam bidang yang sama (seputar menulis dan sastra) dimana
ketika itu terdapat beberapa orang yang sudah mengenal saya dan tulisan-tulisan
saya, mereka selalu menyeletuk kecintaan saya terhadap menulis. Sehingga
menulis seperti predikat yang tak sengaja menggantung dalam nama saya. Saya tak
dapat menolak untuk bersyukur.
Bagi saya, menulis adalah salah satu media yang dapat
membuat saya lebih percaya diri. Tak jarang saya lolos dalam beberapa screening dengan metode essay dalam
pendaftarannya. Karena saya percaya pada kekuatan penuh dalam tulisan saya.
Semudah itu.
Meski belum pernah menjuarai lomba, menghasilkan buku, atau
bahkan banyak tulisannya yang terpotong tak sampai seperempatnya, saya
mencintai menulis entah sejak kapan dan sampai kapan. Entah ini passion saya atau bukan, yang jelas
menulis telah menyerang saya seperti apa yang saya jelaskan pada paragraf
pertama. Karena saya percaya kalau passion
tak pernah menghianati tuannya meskipun keduanya saling menyakiti.
Tak sedikit pengalaman buruk tentang menulis datang. Salah
satunya pernah dijiplak dan diubah oleh seseorang, yang kemudian di-post di blognya karena saya sempat mengunggahnya
ke internet. Salah seorang kawan saya yang amat tahu bagaimana gaya saya
menulis yang melaporkan hal tersebut. Kecewa dan marah jelas ada. Saya hanya
menegurnya. Namun sampai detik ini saya masih melakukan hal yang sama :
mengunggah karya-karya kecil saya ke internet.
Meski saya suka menulis, nilai pelajaran Bahasa Indonesia
saya tak pernah melebihi angka 8. Saya tak pernah hapal majas-majas dan tak
pernah bisa membuat sebuah kalimat dari majas yang ditentukan, namun ketika
menulis barang satu paragraf saja, isinya majas semua. Tak pernah mengerti
bagaimana struktur kebahasaan, kalimat baku, ejaan yang disempurnakan (EYD),
dan hal teknis lainnya.
Karena menulis sejatinya adalah tak menghadirkan teori.
Setidaknya itu yang saya lakukan selama beberapa tahun belakangan.
Saya tak pernah bisa menjawab bagaimana teknik dan cara agar
tulisan menarik. Karena sampai hari ini proses menulis yang saya jalani masih
dalam proses pengolahan. Belum matang. Saya hanya bisa berkata: ’menulislah saja tanpa cara’. Roma tak
dibangun dalam sehari.
Jika memang bakat menulis dalam diri saya adalah salah,
setidaknya menulis adalah salah satu kebiasaan yang berulang dan tak dilarang.
Friday, 22 August 2014
Resensi Bekisar Merah (dan Belantik) Karya Ahmad Tohari
Judul : Bekisar Merah
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Cetakan : Cetakan Kedua, Maret 2013 (Cover Baru)
Jumlah Halaman : 360 Halaman
SINOPSIS
Bekisar adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas---kulit putih, mata eksotis---membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.
Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.
Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini yang memang sudah menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serbamudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.
Di tengah kebingungannuya itulah Lasi bertemu dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Merea kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Nmaun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta,. Berhasilah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?
**
Sebelum saya membaca Bekisar Merah, saya telah membaca
e-Book dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak. Meski hanya sampai
3 halaman saja, setidaknya saya sudah berkenalan dengan gaya bahasa Ahmad Tohari
yang ringan, lugas, dan sederhana.
Buku ini diawali dengan segala detil suasana desa Karangsoga
ketika hujan sedang turun. Cara penulis membawa suasana tersebut dengan cara
menceritakan satu detil kejadian kecil dalam suasana tersebut, lalu loncat ke
deskripsi suasana kecil yang lainnya, hingga akhirnya meruncing tentang salah
satu tokoh yang bernama Darsa sebagai penyadap nira.
Cerita begitu mengalir dengan deskripsi dan narasi yang
begitu detil namun sederhana. Apalagi penulis selalu menceritakan keadaan desa
Karangsoga secara terperinci dan detil. Membuat saya, atau bahkan perantau yang
penat dengan kesibukan kota ingin segera kembali ke desa untuk sekadar pulang,
berlibur, atau menikmati suasana dan udara yang tak dapat mereka beli di kota.
Saya rindu Trenggalek.
Karena ketika menulis saya selalu mengedepankan deskripsi
dan narasi, maka tulisan Ahmad Tohari patut diacungi jempol dan dapat dijadikan
contoh dalam membuat deskripsi dan narasi yang detil, ringan, dan mampu membawa
imajinasi pembaca.
Banyak nilai tambah yang terkandung dalam buku ini. Nasihat-nasihat
jawa, tembang-tembang jawa buatan Eyang Mus, quote yang menggunakan bahasa jawa
lalu diartikan ke bahasa Indonesia, kritikan kepada mahasiswa, pandangan
penulis terhadap kejadian yang terjadi di permukaan masyarakat yang diolah
dalam bentuk percakapan atau narasi, dan sebagainya.
Saya sendiri membaca kurang lebih empat poin yang saya tulis
berdasarkan pendangan saya dari buku ini.
- Lasi adalah perempuan berdarah setengah Jepang. Di
desa tempat ia lahir, tumbuh, besar, dan menikah, Karangsoga, keberadaannya
kerap menjadi olok-olok bagi kawannya
ketika kecil karena memiliki ciri khas tubuh yang berbeda dengan lainnya: kulitnya yang putih bersih
dan matanya yang khas. Setelah ia dewasa, ia pun menjadi bulan-bulanan warga
desa Karangsoga, seperti karena tak kunjung menikah, setelah menikah tak kunjung
punya anak, sampai dihianati suaminya. Namun, ketika kakinya menginjak kota
Jakarta, ia seperti barang berharga yang diagung-agungkan oleh beberapa pihak
sehingga karena kenaifannya, ia menjadi objek bisnis berahi kalangan elite.
- Dikutip dari percakapan Kanjat dan dosen
pembimbing skripsinya, Doktor Jirem : “Keterpihakanmu terhadap masyarakat
penyadap, saya kira, merupakan manifestasi perasaan utang budi dan terima
kasihmu kepada mereka yang telag sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan
sebuah dosa ilmiah. Jat, kamu tahu, sudah
terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima
kasih kepada “ibu” yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka
seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut
dalam arus kecenderungan pragmatis. Agakanya mereka lupa bahwa dari segi-segi
tertentu pragmatisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena
takut dibilang moralis.
Maka banyak sarjana seperti kita lupa, atau pura-pura lupa bahwa misalnya, guru yang mendidik mereka dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi digaji oleh masyarakat; bahwa sarana pendidikan yang mereka pakai dari gedung sekolah sampai laboratorium juga dibiayai dengan pajak orang banyak. Mereka lupakan ini semua sehingga status yang mereka peroleh dari sesarjanaan mereka hampir tak punya fungsi sosial. Mereka sekana merasa bahwa status kesarjanaan yang mereka peroleh semata-mata merupakan prestasi pribadi karenanya hanya punya fungsi individual.
Jat, dengan demikian amat banyak sarjana seperti kita yang kehilangan keanggunan di mata masyarakat yang telah membesarkan kita. Mereka tak bisa berterima kasih dan membalas budi. Maka jangan heran bila masyarakat telah kehilangan banyak kepercayaan dan harapan atas diri orang-orang seperti kita.”
Sebagai mahasiswa, membaca kalimat-kalimat Doktor Jirem seperti ditampar oleh dosen yang menjadi panutan dan saya hormati. Sakit, mengena, dan membuat saya sadar kalau saya mahasiswa yang belum melakukan apa-apa untuk Indonesia. - Berkaitan dengan poin sebelumnya. Pak Tir
barangkali ia adalah sebagai wakil atau simbol dari masyarakat pada umumnya. Menyekolahkan
anaknya, Kanjat, sampai ke perguruan tinggi dan tidak tahu apa itu makna dari
Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT), berpikiran bahwa sarjana yang telah lulus ‘harusnya’
bekerja, berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri, bergaji banyak, lalu makmur.
Pak Tir sendiri tidak tahu jika ada yang harusnya ‘dikembalikan’ kepada rakyat.
- Allah SWT menghadiahkan satu bulan istimewa dalam satu tahun yang mana lebih istimewa dari seribu bulan: Bulan Ramadhan. Dalam kesusahan hidup masyarakat Karangsoga, mereka lantas amat bersyukur atas datangnya bulan yang penuh berkah tersebut. Dimana ketika kebutuhan gula naik, sehingga penyadap nira di Karangsoga mendapatkan nilai jual lebih besar dan mahal dari gula yang dibuatnya. Fakta ini menyebabkan kehidupan di Karangsoga makmur dalam kurun waktu satu bulan. Dalam hal ini penulis mampu menceritakan suka cita yang meruah yang saya sendiri dapat merasakan kegembiraannya. Apalagi ditambah tembang milik Eyang Mus:
Dina Bakda uwis leren nggone pasa
Padha ariaya seneng-seneng ati rag
Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar
Bingar-bingar mangan enak nganti meklar
Di hari Lebaran sudah kita purnakan puasa
Kita berhari raya , bersenang jiwa dan raga
Berbusana baru, menyantap nasi pulen
Riang gembira santap enak hingga perut
Kenyang benar
Sebetulnya ada banyak poin yang menarik untuk dibahas. Tapi
hanya empat poin di atas yang membuat saya berhenti membaca, berpikir, dan
bernapas dalam karena ikut memikirkan dan merasakan apa yang dituliskan
penulis.
Sebagai orang jawa, penulis sering memasukkan kalimat-kalimat
dan frasa-frasa yang berbahasa jawa, seperti yang saya jelaskan di atas. Meski
diberi keterangan berupa bahasa Indonesia, tetap saja bagi saya yang notabene
juga berdararah Jawa, pembawaan bahasanya akan terasa berbeda. Ini menjadi
nilai tambah yang juga sekaligus menjadi nilai kurang untuk mereka yang tidak
mengerti bahasa jawa ketika keterangan bahasa indonesianya tidak dimunculkan.
Dari segi penokohan, penulis cukup mampu menyajikan karakter
yang kuat. Meski digambarkan seperti Lasi yang begitu polos dan Kanjat yang
sepertinya pasrah terhadap apa yang diterima Lasi, menurut saya hal tersebut
adalah cara penulis bagaimana menguatkan karakter-karakter yang dibuatnya. Apalagi
keberadaan Eyang Mus yang menurut saya beliau adalah karakter yang memiliki
jiwa tersendiri yang sengaja dimunculkan penulis dalam buku ini.
Setiap buku selalu memiliki nilai kurang karena ditulis oleh
manusia. Seperti buku ini. Yang pertama, terjadi kontras ketika penulis menceritakan tentang
kota Jakarta. Tak sebegitu terperinci seperti mendeskripsikan desa Karangsoga.
Membuat saya bertanya apakah hal ini berkaitan dengan unsur ekstrinsik penulis?
Yang mana menurut biografi singkat yang saya baca dari internet, penulis tidak
betah tinggal di kota besar dan sampai hari ini tetap bertahan untuk tinggal di
tempat kelahirannya, Banyumas.
Yang kedua adalah plot, terutama dalam pembangunan konflik. Meski
memiliki plot yang mengalir dan halus, pembangunan beberapa konflik di akhir
cerita terasa kurang. Seperti ketika Lasi mengetahui kalau pernikahannya
hanyalah main-main. Hal tersebut diceritakan hanya satu sampau dua halaman. Justru
pada konflik pertama pada awal cerita, ketika Lasi dihianati suaminya, pembangunan
konflik sangat halus dan konflik yang terjadi begitu terasa, dan memiliki
antiklimaks yang pelan dan mengalir.
Yang ketiga dan terakhir adalah kesan tergesa dalam akhir
cerita. Temponya berbeda dengan awal cerita yang begitu lamban dan mengalir.
Konflik terakhir yang dibangun hanya dibawakan sebanyak tiga sampai empat
halaman kemudian diselesaikan dengan menggunakan sebelas sampai lima belas
halaman. Barangkali karena penyelesaian terjadi di kota Jakarta, dan berkaitan
dengan kekurangan yang saya bahas di atas.
Saya rasa itu saja. Kekurangan yang ada rasanya akan
tertutupi oleh nilai tambah yang menawarkan banyak hal yang barangkali jarang
dimiliki oleh buku lain. 4,3 dari 5 saya rasa cukup.
Nah, saat ini saya sedang memulai membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Ah, kalau saya adalah mahasiswa sastra, sepertinya hubungan unsur ekstrinsik Ahmad Tohari terhadap karya-karyanya menarik untuk dijadikan topik penelitian skripsi. Kalau saja.
Wednesday, 13 August 2014
Merantau dan Kepulangan
Oh Ibu, tenang sudah lekas seka air matamu
Sembabmu malu dilihat tetangga
Sembabmu malu dilihat tetangga
Oh Ayah, mengertilah rindu ini tak
terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya
Laraku setiap teringat peluknya
Berkali-kali saya mendengar lagu
ini dan baru kemarin sore sebelum berangkat ke kampus mengerti apa maksudnya:
percakapan bapak dan ibu ketika anaknya sedang dalam perantauan. Setibanya di
kampus, kawan saya bertanya, “Kuliah di Matematika pengabdian kepada
masyarakatnya apa saja?” Jujur saya tidak mengerti. Percakapan kami sebelumnya memang
mengarah kepada hal tersebut. Adalah tentang KKN yang memiliki hubungan dengan
pengabdian kepada masyarakat yang sayangnya tidak diadakan di ITS.
Malamnya, ketika saya membaca
buku Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari di kamar, saya telah sampai ketika Kanjat
mengalami dilema untuk penulisan skripsinya. Isi skripsinya tentang
kenyataan-kenyataan tentang penyadap nira di desa Karangsoga, tempatnya
dibesarkan. Lantas ia sempat ragu jika penulisan skripsinya menonjolkan
keterpihakannya terhadap kehidupan masyarakat di kampungnya. Sayangnya, keterpihakannya
tersebut didukung oleh dosen pembimbingnya.
“Jat, kamu tahu, sudah terlalu
banyak kaum sarjana seperti kita telah kehilangan rasa terima kasih kepada ‘ibu’
yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut
dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan
pragmatis. Agaknya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pramagtisme
menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang
moralis.” Doktor Jirem, Dosen pembimbing skripsi Kanjat, Bekisar Merah oleh
Ahmad Tohari hal. 92 cetakan baru.
Percakapan dengan dosen
pembimbingnya mengarah kepada pemikirannya tentang biaya pendidikannya yang
diambil dari keuntungan yang tidak wajar dari penjualan gula nira yang dijual
kepada ayahnya. Dan sekaligus menampar saya sebagai mahasiswi yang sorenya
diberi pertanyaan tentang pengabdian kepada masyarakat. Di tengah dilemanya
tersebut, Kanjat memutuskan untuk pulang tanpa mengerti apa keperluannya untuk
pulang.
Saya menatap langit-langit kamar
sebentar memikirkan sesuatu. Kemudian meneruskan membaca.
Beberapa jam yang lalu saya
membaca tumblr Banda Neira tentang lagu Di Beranda. Tentang bagaimana proses
penemuan lagu tersebut. Dan baru saja saya melihat rak sepatu. Hanya sepatu merah
saya yang tersisa. Biasanya ada lima pasang sepatu memenuhi baris pertama. Jika
saya pergi, baris pertama tersebut kosong. Barangkali itu yang dirasakan nenek
ketika bapak dan ibu pergi bekerja, kedua adik berangkat sekolah dan aku kuliah
: kosong.
Tidak sampai 24 jam, saya
dihadapkan suatu hal yang berkaitan : merantau dan kepulangan.
Sejak lama saya tertarik dengan
pembahasan seperti ini. 21 tahun besar di Surabaya dan hanya pergi ke luar kota
tidak sampai sebulan membuat saya kadang berpikir untuk merantau saja selepas
kuliah nanti. Alasannya : bosan di Surabaya, ingin merantau, ingin merasakan
jauh dari orang tua, ingin merasakan kepulangan karena rindu, ingin merasakan
mengumpat rindu, dan semacamnya.
Saya salah satu orang yang sangat
mengagumi perantau. Jauh dari orang tua, mengatur keuangan sendiri, mengalami
rindu kepada orang tuanya, mengalami interaksi bersama orang tua di telepon,
dan semacamnya yang tidak bisa dirasakan saya dan teman-teman yang tidak
merantau.
Beberapa dari mereka memiliki
kebiasaan yang unik tentang kepulangan. Ada yang tidak bisa pulang karena tidak
pernah sempat, ada yang ingin pulang namun terkendala biaya, ada yang selalu
memiliki kesempatan pulang, sampai ada yang tidak ingin pulang karena ia
menyepelekan perkara pulang. Ada.
Saya amat suka perjalanan ke luar
kota bersama teman-teman. Perjalanan tersebut bagi saya adalah miniatur kecil
bagaimana merantau nanti. Alhamdulillah, ibu dan bapak tidak pernah membatasi
anaknya untuk pergi asalkan kami terbuka mengenai mengendarai apa, dengan
siapa, hendak kemana, sampai berapa hari, dan semacamnya.
Dalam perjalanan tersebut, kadang
ibu atau bapak sms makan apa, tidur dimana, lagi ngapain, lagi dimana, uangnya
cukup atau tidak, dan semacamnya. Tak sedikit dari sms tersebut saya acuhkan. Ini
membuat saya tidak rindu rumah. Namun jika saya ke luar kota dan sedang di
rumah saudara dengan fasilitas yang mirip dengan rumah seperti makan tiga kali
sehari, ibu dan bapak amat jarang mengirimkan sms yang serupa. Ini membuat saya
rindu dengan rumah.
Ah, saya tidak bisa membayangkan
bagaimana nantinya jika saya pergi ke perantauan untuk bekerja, membantu bapak
dan ibu membiayai sekolah kedua adik. Apakah mereka masih menanyakan tidur
dimana ketika saya sudah memiliki tempat kos yang layak? Apakah mereka masih
menanyakan sudah makan apa belum ketika saya sudah memiliki jatah makan dari
kantor? Apakah mereka masih menanyakan uangnya cukup atau tidak karena saya
belum bisa mengatur keuangan?
Postingan ini mulai terasa
sentimentil.
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Dan jika suatu saat buah hatiku buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Untuk sementara waktu pergi
Usalah kau pertanyakan kemana kakinya kan
melangkah
Kita berdua tahu dia pasti pulang ke rumah
Kita berdua tahu dia pasti pulang ke rumah
…pulang ke rumah…
Monday, 11 August 2014
Membaca Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari
Aku punya kawan. Namanya Ikal. Sekampus beda jurusan. Bacaan
kita sama: novel-novel lama, novel-novel sastra terbitan Balai Pustaka, dan
semacamnya yang seringkali aku amat jarang menemukan orang yang punya selera
tua yang sama. Aku maklum dengan diriku. Karena aku memang anak muda salah era
(kapan-kapan kuceritakan akan hal ini).
Dari dia aku merasa kecil. Jaman dia SMA, bacaannya sudah novel
sastra terbitan Balai Pustaka. Aku: novel teenlit yang digilir di kelas. Dari
dia juga aku dapat eBook novel tahun 80an (cmiiw) Cintaku di Kampus Biru oleh
Ashadi Siregar berikut triloginya. Dan eBook tersebut aku print ke kertas
novel, lalu akan kujilid. Sayangnya karena printer rusak, maka aku urung. Dia
juga mengusulkan beberapa nama yang harus aku baca karyanya. Salah satunya
karya Ahmad Tohari.
Aku sempat browsing film yang bagus di Indonesia. Salah
satunya adalah Sang Penari. Penasaran, aku lihat di Youtube. Sebelumnya aku
sudah tahu kalau Sang Penari adalah bentuk adaptasi novel dari Ahmad Tohari
yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Tertarik dengan ceritanya, aku baca
review-review yang ditulis terhadap film tersebut. Lalu bukunya. Ternyata, Ronggeng
Dukuh Paruk memiliki trilogi yaitu: Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera
Bianglala.
Ketika itu aku baru ingat kalau Hestia, kawanku yang
berkuliah di Ilmu Perpustakaan, pernah mengusulkan Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari ketika mengerti sedang belajar sastra. Buka goodreads, ternyata
mereka memiliki eBook dari ketiga trilogi tersebut. Aku download ketiganya.
Baru terbaca lima halaman di buku pertama, file yang aku simpan di flashdisk
tersebut di-format oleh adikku.
Sabtu kemarin, aku mengiyakan ajakan saudaraku, Nanda, untuk
mencari binder yang sesuai dengan keinginannya di beberapa toko buku terdekat.
Di Petra Togamas, ia tak menemukan barang yang sesuai dengan keinginannya.
Namun aku menemukan cita-citaku : Ronggeng Dukuh Paruk cover film. Fyi, novel
dengan cover film ini di dalamnya berisi ketiga trilogi yang sebelumnya dijual
dalam keadaan terpisah. Aku menimangnya. Tapi tak kubeli. Klise saja : uangku
tak cukup.
Di Gramedia Expo, Nanda menemukan benda yang ia inginkan.
Mirip dengan apa yang benar-benar ia inginkan. Namun aku tak melirik satu novel
pun di sana. Setelahnya, motor ku arahkan ke Toko Buku Murah Online. Namanya
saja yang ‘online’. Disana aku kembali menemukan buku Ronggeng Dukuh Paruk.
Tetap saja tak kubeli. Selain uangku tak cukup, plastik segelnya terbuka
setengah.
Namun aku melirik Di Kaki Bukit Cibalak yang harganya pas
dengan uang yang kubawa. Tapi pilihan jatuh kepada Bekisar Merah. Jika ditanya
kenapa, aku jawab saja berjodoh. Meski harganya agak menyembul dari nominal
yang aku bawa, akhirnya dengan meminjam uang lima ribu dari Nanda, aku berhasil
membawanya dalam pelukan.
Hari ini baru masuk bab tiga, halaman 75. Dan baru kali ini
aku menandai halaman dengan sticky notes transparan warna-warni sebagai
penunjuk adegan yang menarik, nasihat, kalimat, fakta yang menjadi pertanyaan,
dan sebuah tembang yang dinyanyikan oleh Eyang Mus. Sensasinya luar biasa.
Karena aku biasa memakai sticky notes dengan ukuran besar yang kutempelkan di
pembatas sebagai catatan jika menemukan kosakata baru. Tak pernah menandai
beberapa hal yang menarik dengan penanda tertentu. Jika ingin membacanya lagi,
maka aku mencari halamannya.
Ada nasihat berupa bagaimana cara agar suami tidak marah
ketika kaki tempat tidurnya telah dibakar untuk memanasi tungku, sampai tentang
tanah sebagai sumber kehidupan untuk anak cucu meski luasnya hanya secuil. Dan
banyak lagi yang harus kau baca sendiri.
Membaca Bekisar Merah yang dilanjutkan dwiloginya yang masih
dalam satu buku, Belantik, dapat membuat bahagia. Tunggu saja resensi dari saya
ya. Anggap saja ini Pre-Resensi.
ps: aku belum menyelesaikan Larung oleh Ayu Utami. Novel
tersebut sudah kelangkahan berapa novel ya hehe
Thursday, 24 July 2014
Bukan Resensi : Dilan oleh Pidi Baiq
Postingan ini dipost juga di tumblr saya. Harusnya postingan ini dipost di disini saja karena saya memosting hal-hal yang agak serius. Seperti postingan ini. Tapi saya ingin memostingnya tumblr dan blog. Kau mau berkehendak apa?
Buku diatas barusan selesai saya baca. Dalam sehari! Belum saya simpan di rak buku selama seminggu setelah membelinya, tiba-tiba saja saya ingin membuka dan membacanya. Padahal saya belum menyelesaikan Larung milik Ayu Utami.
Alasan saya membeli buku ini? Sebetulnya sederhana. Tapi detilnya agak rumit. Begini :
Senin tanggal 14 lalu, saya berputar-putar sebentar di Gramedia Tunjungan Plaza untuk menunggu janjian sama kawan menonton bioskop. Tiba-tiba saja sebuah judul buku menarik perhatian saya. DILAN : Dia adalah Dilanku tahun 1990. Pengarangnya Pidi Baiq.
Saya teriak histeris tapi berbisik seperti menggumam. Seperti menemukan buku yang telah lama dicari. Padahal, saya baru tahu buku itu hari itu juga. Lantas, kenapa saya histeris?
1. 1990. Saya selalu berharap menjadi remaja tahun 90an. Atau setidaknya dapat jodoh yang tumbuh di era 90an (tua ya hehe).
2. Pidi Baiq. Saya bukan fans amatirnya. Apalagi fanatik. Tapi saya ingat postingan tumblrnya yang beberapanya selalu bikin saya heran dengan sudut pikirnya.
Iya itu saja. Lalu saya punya cita-cita untuk memilikinya. Cover, sinopsis, tetek bengek di belakang buku sama sekali bukan pengaruh utama untuk memiliki cita-cita seperti itu. Sederhana ya? Hehe
Tapi sayangnya, saya harus sedikit urung. Klise : uang yang saya bawa nggak cukup.
Hari Rabu, tiba-tiba iseng untuk pergi ke toko buku diskon dekat rumah. Ingin beli Dunia Sophie kalau masih ada. Sekalian ngecek apa ada novel yang saya cita-citakan untuk dimiliki tersebut. Ternyata ada. Tapi sayangnya, saya harus urung lagi. Uangnya nggak cukup.
Hari Jum'atnya, setelah bahagia karena telah menemukan Cutting Mat dan Pen Cutter yang sedang diidam-idamkan selama setengah tahun belakangan dan dapat diskon sepuluh persen (hehe), motor saya belokkan ke toko buku murah yang Rabu kemarin saya kunjungi. Hari itu kebahagiaanku melimpah ruah. Cita-citaku kesampaian!
Hehe.
Baru saja kemarin, sambil menunggu sahur (liburan, saya nokturnal. Kata ibu, saya ini Kalong. Anak Kelelawar), saya buka bungkus Dilan. Dan saya jatuh cinta ketika aku (Milea) bercerita tentang bahasa yang digunakan Dilan : sedikit melayu dan baku. Lalu saya ingat Zetra Kyanofaruq dan Ananda Badudu.
Berlembar-lembar ditelan mata karena diksinya yang ringan, lalu ketiduran di halaman 200. Dan kulahap sisanya ketika beli kebab dan menemani kawanku pergi bimbingan Kerja Praktek.
Ini Teenlit. Tapi pakai setting tahun 1990. Nggak ada mol, handphone, internet, drama yang berlebihan, si cantik nan modis dan si cupu yang ndeso, dan sebagainya a la teenlit-teenlit era sekarang.
Pertemuan mereka sederhana. Plotnya amat klise. Diksinya biasa saja, tidak banyak narasi. Settingnya itu-itu saja. Dramaturginya apalagi. Hehe.
Tapi saya bisa jatuh cinta. Kluget-kluget (gerakan ulat dalam bahasa jawa) sendiri karena melting, tertawa lepas sendiri, dan tersenyum sendiri. Ya Tuhan, saya jatuh cinta sama Dilan! Sampai-sampai saya enggan meminjamkan buku ini kepada siapapun. Agar yang jatuh cinta sama Dilan saya saja.
Pidi Baiq berhasil membuat saya jatuh cinta kepada Dilan karena karakternya yang lugas, sederhana, manis, menyenangkan, spontan, memiliki sudut pandang yang berbeda, dan pasti membuat jatuh cinta gadis remaja, wanita yang ingin menjadi gadis remaja, sampai perempuan yang mengingat dirinya pernah menjadi gadis remaja.
Apalagi ia menyuguhkan set SMA. Masa yang paling didambakan terulang kembali. Dan tiba-tiba saya teringat dengan Ada Apa Dengan Cinta. Dilan adalah Rangga dengan karakter yang bertolak belakang. Namun keduanya dapat membuat perempuan seperti saya kluget-kluget.
Untuk lebih penasaran, bacalah komentar-komentar pembaca yang lain di goodreads. Ini linknya. Tinggal klik kanan - open in new tab. Tak perlu buka google. Komentar-komentarnya juga mewakili saya banget.
Sudah saya bilang, ini bukan resensi. Semoga saja bukan bukan spoiler.
Ratingnya? 4,5 dari 5. Setengahnya karena kejadian-kejadian yamg membuat Milea penasaran dan saya ikut penasaran nggak dijawab di halaman selanjutnya.
Image Source : Google |
Alasan saya membeli buku ini? Sebetulnya sederhana. Tapi detilnya agak rumit. Begini :
Senin tanggal 14 lalu, saya berputar-putar sebentar di Gramedia Tunjungan Plaza untuk menunggu janjian sama kawan menonton bioskop. Tiba-tiba saja sebuah judul buku menarik perhatian saya. DILAN : Dia adalah Dilanku tahun 1990. Pengarangnya Pidi Baiq.
Saya teriak histeris tapi berbisik seperti menggumam. Seperti menemukan buku yang telah lama dicari. Padahal, saya baru tahu buku itu hari itu juga. Lantas, kenapa saya histeris?
1. 1990. Saya selalu berharap menjadi remaja tahun 90an. Atau setidaknya dapat jodoh yang tumbuh di era 90an (tua ya hehe).
2. Pidi Baiq. Saya bukan fans amatirnya. Apalagi fanatik. Tapi saya ingat postingan tumblrnya yang beberapanya selalu bikin saya heran dengan sudut pikirnya.
Iya itu saja. Lalu saya punya cita-cita untuk memilikinya. Cover, sinopsis, tetek bengek di belakang buku sama sekali bukan pengaruh utama untuk memiliki cita-cita seperti itu. Sederhana ya? Hehe
Tapi sayangnya, saya harus sedikit urung. Klise : uang yang saya bawa nggak cukup.
Hari Rabu, tiba-tiba iseng untuk pergi ke toko buku diskon dekat rumah. Ingin beli Dunia Sophie kalau masih ada. Sekalian ngecek apa ada novel yang saya cita-citakan untuk dimiliki tersebut. Ternyata ada. Tapi sayangnya, saya harus urung lagi. Uangnya nggak cukup.
Hari Jum'atnya, setelah bahagia karena telah menemukan Cutting Mat dan Pen Cutter yang sedang diidam-idamkan selama setengah tahun belakangan dan dapat diskon sepuluh persen (hehe), motor saya belokkan ke toko buku murah yang Rabu kemarin saya kunjungi. Hari itu kebahagiaanku melimpah ruah. Cita-citaku kesampaian!
Hehe.
Baru saja kemarin, sambil menunggu sahur (liburan, saya nokturnal. Kata ibu, saya ini Kalong. Anak Kelelawar), saya buka bungkus Dilan. Dan saya jatuh cinta ketika aku (Milea) bercerita tentang bahasa yang digunakan Dilan : sedikit melayu dan baku. Lalu saya ingat Zetra Kyanofaruq dan Ananda Badudu.
Berlembar-lembar ditelan mata karena diksinya yang ringan, lalu ketiduran di halaman 200. Dan kulahap sisanya ketika beli kebab dan menemani kawanku pergi bimbingan Kerja Praktek.
Ini Teenlit. Tapi pakai setting tahun 1990. Nggak ada mol, handphone, internet, drama yang berlebihan, si cantik nan modis dan si cupu yang ndeso, dan sebagainya a la teenlit-teenlit era sekarang.
Pertemuan mereka sederhana. Plotnya amat klise. Diksinya biasa saja, tidak banyak narasi. Settingnya itu-itu saja. Dramaturginya apalagi. Hehe.
Tapi saya bisa jatuh cinta. Kluget-kluget (gerakan ulat dalam bahasa jawa) sendiri karena melting, tertawa lepas sendiri, dan tersenyum sendiri. Ya Tuhan, saya jatuh cinta sama Dilan! Sampai-sampai saya enggan meminjamkan buku ini kepada siapapun. Agar yang jatuh cinta sama Dilan saya saja.
Pidi Baiq berhasil membuat saya jatuh cinta kepada Dilan karena karakternya yang lugas, sederhana, manis, menyenangkan, spontan, memiliki sudut pandang yang berbeda, dan pasti membuat jatuh cinta gadis remaja, wanita yang ingin menjadi gadis remaja, sampai perempuan yang mengingat dirinya pernah menjadi gadis remaja.
Apalagi ia menyuguhkan set SMA. Masa yang paling didambakan terulang kembali. Dan tiba-tiba saya teringat dengan Ada Apa Dengan Cinta. Dilan adalah Rangga dengan karakter yang bertolak belakang. Namun keduanya dapat membuat perempuan seperti saya kluget-kluget.
Untuk lebih penasaran, bacalah komentar-komentar pembaca yang lain di goodreads. Ini linknya. Tinggal klik kanan - open in new tab. Tak perlu buka google. Komentar-komentarnya juga mewakili saya banget.
Sudah saya bilang, ini bukan resensi. Semoga saja bukan bukan spoiler.
Ratingnya? 4,5 dari 5. Setengahnya karena kejadian-kejadian yamg membuat Milea penasaran dan saya ikut penasaran nggak dijawab di halaman selanjutnya.
Monday, 7 July 2014
Surat Cinta untuk Gembeng
Gembeng.
Itu bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah NasZz Safita (facebook), @safeetannas atau Annas Safita. Di Tiyang Alit (UKM teater kampusku), masing-masing anggotanya memiliki nama panggung. Dan beberapa diantaranya yang nyaris tidak punya nama asli. Karena kami biasa memanggilnya dengan nama panggung.
Seperti Gembeng ini. Nama aslinya Tata. Karena mengalami proses yang panjang, akhirnya ia diberi nama panggung Gembeng. Dan semua orang memanggilnya begitu.
Saya nggak pernah menyangka bisa kenal dengan dia. Karena sejak pertama kali mengenal parasnya, yang ada di kepala cuma satu : mlete, matanya suka nantang. Lalu tiba-tiba kita ketemu di Tiyang Alit. Ah, ternyata watak aslinya nggak jauh nyeleneh.
Tidak tahu mengapa, beberapa hari belakangan kami didekatkan karena percakapan yang tidak pernah saya temui dengan teman perempuan sepantaran lainnya. Diantara perempuan lain ketika bertemu (mungkin) hanya membicarakan tentang isi hatinya yang kemudian disebut curhat atau beberapa hal-hal yang cewek banget, kami malah jarang melakukan hal itu.
Kami berbicara tentang macam-macam. Tentang teori-teori yang kita buat, tentang perilaku seseorang, tentang alam, semesta, buku, karakter, sudut pandang, logika, filsafat, seni, film, menerka apa yang seharusnya tak boleh kami terka, dan macam-macam.
Ketika sesi curhat berjalan, kami sering memecahnya menjadi logika-logika dari sudut pandang kami, lalu menjadi teori baru yang lain. Jika dengan cara itu tidak terpecahkan, maka kami memilih untuk membahasnya kapan-kapan, atau malah akan kami lupakan.
Selera musik kami beberapanya saling berhimpitan. Adalah Banda Neira dan Adhitia Sofyan. Akustik-akustik menye yang diksinya bisa dibuat bahan untuk berdiskusi.
Dia adalah kawan cakap perempuan yang tak pernah saya temukan sebelumnya. Ini yang membuat saya betah ngobrol berjam-jam dengan dia. Karena kegalauan saya telah berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Ah, kami tidak selamanya cocok dan saling menghargai dalam berpandangan. Sering di dalam forum rapat masing-masing dari kami malah merasa saling benar padahal salah satu diantaranya ada yang salah. Dan yang salah sebenarnya sadar kalau ia salah. Tapi tetap tak mau mengalah. Namun setelah forum selesai, kekonyolan tetap terjadi seakan permusuhan tadi tidak ada.
Postingan ini tidak dibuat dengan cuma-cuma. Tidak juga dibuat karena mengharap imbalan yang serupa. Atau apa.
Gembeng baru saja berulang tahun seminggu yang lalu. 30 Juni. Saya ingat karena pernah membaca KTPnya. Bukan karena notifikasi Facebook. Dan sampai sekarang saya belum mengucapkan doa-doa yang biasa diucapkan kepada orang yang berulang tahun. Karena saya mempunyai kebiasaan buruk : ingat dan sadar hari ulang tahun seorang kawan, namun lupa mengucapkan.
Tidak ada penyelamatan. Tidak ada perayaan. Tidak ada kejutan.
Hanya ada doa : Semoga tahun depan bisa memperpanjang KTP. Dan begitu seterusnya setiap lima tauhn sekali.
Aamiin.
Amini aja. Kayak gak pernah ngamani doa temen biar nggak jomblo aja. Hehe.
Itu bukan nama aslinya. Nama aslinya adalah NasZz Safita (facebook), @safeetannas atau Annas Safita. Di Tiyang Alit (UKM teater kampusku), masing-masing anggotanya memiliki nama panggung. Dan beberapa diantaranya yang nyaris tidak punya nama asli. Karena kami biasa memanggilnya dengan nama panggung.
Seperti Gembeng ini. Nama aslinya Tata. Karena mengalami proses yang panjang, akhirnya ia diberi nama panggung Gembeng. Dan semua orang memanggilnya begitu.
![]() |
Gembeng dan Gombel (saya) setelah Dies Natalis Teater Tiyang Alit 18 |
Saya nggak pernah menyangka bisa kenal dengan dia. Karena sejak pertama kali mengenal parasnya, yang ada di kepala cuma satu : mlete, matanya suka nantang. Lalu tiba-tiba kita ketemu di Tiyang Alit. Ah, ternyata watak aslinya nggak jauh nyeleneh.
Tidak tahu mengapa, beberapa hari belakangan kami didekatkan karena percakapan yang tidak pernah saya temui dengan teman perempuan sepantaran lainnya. Diantara perempuan lain ketika bertemu (mungkin) hanya membicarakan tentang isi hatinya yang kemudian disebut curhat atau beberapa hal-hal yang cewek banget, kami malah jarang melakukan hal itu.
Kami berbicara tentang macam-macam. Tentang teori-teori yang kita buat, tentang perilaku seseorang, tentang alam, semesta, buku, karakter, sudut pandang, logika, filsafat, seni, film, menerka apa yang seharusnya tak boleh kami terka, dan macam-macam.
Ketika sesi curhat berjalan, kami sering memecahnya menjadi logika-logika dari sudut pandang kami, lalu menjadi teori baru yang lain. Jika dengan cara itu tidak terpecahkan, maka kami memilih untuk membahasnya kapan-kapan, atau malah akan kami lupakan.
Selera musik kami beberapanya saling berhimpitan. Adalah Banda Neira dan Adhitia Sofyan. Akustik-akustik menye yang diksinya bisa dibuat bahan untuk berdiskusi.
Dia adalah kawan cakap perempuan yang tak pernah saya temukan sebelumnya. Ini yang membuat saya betah ngobrol berjam-jam dengan dia. Karena kegalauan saya telah berakhir dan terbawa sampai ufuk timur terjauh.
Ah, kami tidak selamanya cocok dan saling menghargai dalam berpandangan. Sering di dalam forum rapat masing-masing dari kami malah merasa saling benar padahal salah satu diantaranya ada yang salah. Dan yang salah sebenarnya sadar kalau ia salah. Tapi tetap tak mau mengalah. Namun setelah forum selesai, kekonyolan tetap terjadi seakan permusuhan tadi tidak ada.
Postingan ini tidak dibuat dengan cuma-cuma. Tidak juga dibuat karena mengharap imbalan yang serupa. Atau apa.
Gembeng baru saja berulang tahun seminggu yang lalu. 30 Juni. Saya ingat karena pernah membaca KTPnya. Bukan karena notifikasi Facebook. Dan sampai sekarang saya belum mengucapkan doa-doa yang biasa diucapkan kepada orang yang berulang tahun. Karena saya mempunyai kebiasaan buruk : ingat dan sadar hari ulang tahun seorang kawan, namun lupa mengucapkan.
Tidak ada penyelamatan. Tidak ada perayaan. Tidak ada kejutan.
Hanya ada doa : Semoga tahun depan bisa memperpanjang KTP. Dan begitu seterusnya setiap lima tauhn sekali.
Aamiin.
Amini aja. Kayak gak pernah ngamani doa temen biar nggak jomblo aja. Hehe.
Sunday, 6 July 2014
Keinginan yang Lain
Kalau boleh flashback, tahun 2013 kemarin saya dipertemukan dengan banyak orang-orang baru yang benar-benar heterogen. Ceritanya panjang. Mulai dari diberi kesempatan untuk mengikuti workshop Klasik Muda, sampai menjadi bagian dari Surabaya Youth Carnival 2013 sebagai Human Resource.
Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteer, founder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.
Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.
Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.
Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".
Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.
Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.
Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.
Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.
Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?
Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.
Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.
Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.
Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.
Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.
Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.
Aamiin..
Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteer, founder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.
Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.
Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.
Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".
Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.
Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.
Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.
Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.
Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?
Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.
Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.
Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.
Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.
Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.
Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.
Aamiin..
Friday, 4 July 2014
Penyebab Hari Ini
Kita tidak pernah memilih : peristiwa mana yang harus kita
ingat secara cermat, kesalahan-kesalahan yang harusnya jadi pelajaran, orang-orang
yang akan sering kita temui, atau apa saja yang semesta inginkan terjadi kepada
kita secara tidak sadar.
Tuhan itu satu. Maka kita ini banyak macamnya. Meski tidak mirip
secara mutlak, setidaknya, tak hanya aku saja atau kalian saja yang memiliki
masa lalu yang sama. Misalnya : menjadi korban bully.
Tuhan menciptakan makhluknya dengan berbagai pola yang sama,
dan diletakkan pada pribadi-pribadi yang berbeda secara acak. Ini sebabnya kita
akan bertemu dengan berbagai orang yang heterogen, namun beberapa diantaranya
memiliki beberapa kesamaan. Entah dua diantaranya, tiga, atau bahkan semuanya.
Bermain dengan karakter adalah suatu hal yang menarik bagi
saya. Dalam menulis, saya suka membuat satu karakter baru yang kuat. Dalam berteater,
saya suka membedah karakter tokoh-tokoh yang ada dalam naskah. Ini menyebabkan
saya suka bertemu dengan orang-orang yang heterogen. Entah hanya untuk
observasi, atau hanya berkenalan saja. Yang nantinya akan menjadi bahan
karakter baru dalam cerita-cerita saya.
Berkenalan dengan satu karakter itu tidak mudah. Amat tidak
mudah.
Misalnya, ketika kita bertemu dengan orang yang selalu
melipat tangannya di depan dada tersenyum sekenanya dan obrolan yang pedas ketika
ia berkenalan dengan orang yang baru. Kita boleh berpikir macam-macam tentang
dia. Negatif atau positif. Tapi dari situ membuat saya bertanya : apa sebab
yang membuatnya bersikat seperti itu?
Dalam naskah teater justru lebih mudah. Dicari saja dialog
atau bahasa tubuh lainnya yang diberikan oleh penulis dalam naskahnya. Tapi
dalam realitas?
Saya yakin, masing-masing dari kita pasti pernah bertemu
dengan manusia lainnya dengan karakter yang tidak biasa. Hadapilah, tak perlu
mencela, tak perlu dibuat bahan tertawaan dibelakangnya. Dia lebih berani
menjadi dirinya sendiri dengan masa lalu yang barangkali kita tak bisa hadapi.
Atau malah, masa lalumu akan terkesan biasa saja di matanya.
Karena saya pernah mengalaminya. Saya tahu bagaimana
rasanya. Lalu saya pernah mengalami krisis karakter. Untungnya, saya tidak bisa
menjadi orang yang bukan saya. Ini membuat saya paham kalau sifat seseorang atau sikap yang ia lakukan
hari ini adalah akibat dari kejadian-kejadian yang menimpanya secara berkala di
masa lalu, dan apa saja yang kita terima secara tidak sadar pada hari ini secara
terus-menerus akan menjadi sebab bagaimana sikap dan sifat kita nantinya.
Kita tidak pernah memilih : peristiwa mana yang harus kita
ingat secara cermat, kesalahan-kesalahan yang harusnya jadi pelajaran, orang-orang
yang akan sering kita temui, atau apa saja yang semesta inginkan terjadi kepada
kita secara tidak sadar.
Karena Tuhan memiliki pola-Nya.
Sunday, 22 June 2014
Zetra
Zetra, anggap saja kita pernah berkenalan sebelumnya. Anggap
saja kau adalah seorang kawan yang lama kukenal. Bukan sebuah karakter yang
namanya kucomot dari internet, lalu kutambahkan beberapa karakter favoritku.
Anggap saja kau adalah sebagian hidup yang ada begitu saja, tidak berarti apa-apa,
apalagi begitu berharga.
*
Begini.
Aku mengagumimu semenjak mengenalmu dari sebuah percakapan
tentang langit pada hari itu. Setelah nama dari masing-masing kita disebutkan,
kau langsung saja mengenalkan padaku bagaimana ritme hidupmu.
“Dari dua puluh empat jam, aku hanya sempatkan pukul lima
sampai pukul enam sore untuk berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Selain
pada pukul itu, semuanya harus tertata dengan sempurna.”
Hanya karena dalam hari-hari sebelumnya kita selalu bertemu
di tempat yang sama. Seperti kita berkenalan lewat apa yang kita lakukan di
tempat yang sama, sebelum akhirnya mengenalmu dalam sebuah nama. Zetra
Kyanofaruq.
Kau tidak pernah tergesa untuk datang pada pukul lima, dan
meninggalkan tempat pada pukul enam dengan tenang. Padahal sebetulnya kau tidak
betul-betul untuk tidak melakukan apa-apa, kan? Pada satu jam itu, dalam
perhatianku sebelum kita bertukar nama, kau selalu mengeluarkan buku gambar dan
pensil. Lalu menggambar. Atau jika tidak, bola matamu berputar seolah sedang
berpikir atau sedang mengingat sesuatu.
Setelah sebulan mengenalmu, baru saja kutahu bagaimana ritme
hidupmu berlangsung. Tubuhmu seakan dirancang untuk tidak bisa berhenti. Ritme hidupmu
cepat. Kau tidak mengenal kata terlambat. Semua hal yang berkaitan denganmu
tidak boleh secara tergesa apalagi spontan. Semuanya harus tertata atas
kendalimu. Kau perhatikan hal kecil. Kau rancang semua plan A hingga plan Z.
Tempat tinggalmu, contohnya. Kau pilih kost yang satu arah
dengan fotokopi, tempat makan yang sehat, bengkel, warnet, dan minimarket. Sehingga
kau dapat melakukan banyak pekerjaan dalam satu kali jalan. Di tempat kost, kau
memilih kamar yang dekat dengan pagar kost agar tak begitu banyak waktu kau
habiskan untuk berjalan dari kamar kost sampai pagar. Ah, kau bahkan memakai
alasan enggan bercakap dan berinteraksi dengan tetangga kamar agar tak
menyendat waktumu.
Teorimu : “Semakin banyak teman semakin dapat buatku
terhambat.”
Kau robot macam apa?
Namun tetap saja aku mengagumi bagaimana kau hidup dengan
ritme hidup yang cepat. Tidak ada toleransi pada satu detik. Bisa ajari aku
untuk beberapa semester kedepan?
Monday, 9 June 2014
Berbicara Sedikit Tentang Aktor
Pertama kali melihat John Watson pada serial TV Sherlock
Holmes, yang membuat aku tertarik untuk menerka siapa dia adalah dari caranya
menggerakkan tangan ketika sedang akan berpikir sebelum membuat sebuah
keputusan. Sedikit meremas salah satu telapak tangannya, memainkan sedikit bibirnya,
dan kedikan kepalanya. Familiar. Membuatku menduga bahwa ia adalah aktor yang
sama yang memerankan Bilbo Baggins di film The Hobbits.
Martin Freeman. Setelah memastikan di IMDb. Ternyata mereka
adalah benar orang yang sama.
Kedua, adalah ketika iseng melihat video-video mime(pantomim) di laptop Rengga dengan
seorang kawan yang lainnya, Bowo. Aku bagian melihat saja. Tidak memilihkan video
mana yang akan dilihat. Bowo memainkan video ini :
Yang menarik bagiku adalah gerakan pemeran utama (sang mime)
pada detik ke 30-40 berupa caranya mengedikkan kepala dan menggerakkan mulutnya
ketika berpikir. Membuatku ingin menerka kalau ia adalah orang yang sama di
serial TV Sherlock Holmes. Pemeran John Watson, tentunya. Artinya, adalah orang
yang sama dengan orang yang memerankan Bilbo Baggins.
Martin Freeman. Benar, ternyata. Aku memastikan di credit
tittle nya.
Aku bahagia ketika dapat menerka seorang aktor dari bahasa
tubuhnya. Seperti Martin Freeman ini. Ia memerankan tiga tokoh yang berbeda.
Yang jelas-jelas aku tidak menerkanya dari wajah. Karena ia memerankan tiga tokoh
dengan make-up yang berbeda. Bilbo
Baggins dengan make-up fantasi
menjadi seorang Hobbit, John Watson dengan make-up
realis, dan seorang mime dengan make-up mime.
Tiga karakter berbeda, dengan make-up yang jelas-jelas berbeda, namun sang aktor membawakan
dengan beberapa bahasa tubuh yang sama. Aku menemukannya di dua aktor monolog
di Tiyang Alit. Mas Tile yang memerankan tokoh dalam naskah monolog Arkeologi
Beha dan Black Jack memiliki karakter ‘Mas Tile’ yang sama. Inyong yang
memerankan tokoh dalam naskah monolog Prodo Imitatio dan Bangsat juga memiliki
karakter ‘Inyong’ yang sama pula. Aku tak bisa menjelaskan disini kalau kalian
sendiri tidak mengamatinya.
Jika seorang aktor memerankan beberapa tokoh dengan karakter
yang berbeda, namun terletak banyak perbedaan bahasa tubuh, dan aku tidak dapat menerka
jika mereka adalah aktor yang sama, aku berpendapat ia memiliki keaktoran yang
luar biasa.
Seperti aku menemukannya pada diri Johnny Depp. Sepanjang
pengetahuanku, ia menjadi pemeran utama dalam film Pirates of the Caribbean
sebagai Jack Sparrow, Charlie and the Chocolate Factory sebagai Willy Wonka,
Alice in the Wonderland sebagai Hatters, Finding Neverland sebagai Sir James
Matthew Barrie, dan beberapa film lainnya. Asyiknya, aku tak menemukan kesamaan
karakter ‘Johnny Depp’.
Ah, barangkali aku belum saja menemukan kelemahan Johnny
Depp dalam membawakan sebuah karakter. Seperti Martin Freeman dan Jim Sturgess. Aku telah menemukan beberapa bahasa tubuh yang sama dari mereka. Hihi.
Sunday, 1 June 2014
Hai, Juni
Ah, klise sekali jika paragraf pertama aku mambahas tentang tidak terurusnya blogku ini. Aku tidak rindu menulis. Sesungguhnya, aku selalu menulis. FYI, menulis dengan tangan itu menyenangkan. Daripada dengan keyboard dan laptop. Ah, beberapa dari kalian pasti tahu bagaimana merdunya pena yang bergesek dengan kertas, dan aromanya yang harum.
Baru saja tertantang untuk bermain FCT lagi. Kali ini dengan ritme berbeda. Jika FCTku dulu satu cerita selesai dalam satu hari. Jika tidak, maka akan menjadi sebuah hutang untuk hari berikutnya. Kali ini tidak. Satu cerita barangkali akan selesai dalam satu minggu.
Tidak, bukan hanya satu. Melainkan dua.
Satu akan ku-post disini, satunya akan kupost di tumblrku. Agar tumblrku juga dapat dibaca. Dua cerita yang berbeda, tentunya. Namun memiliki tema dan judul yang sama. Sepertinya asyik. Untuk meletakkan perbedaannya, barangkali aku akan menjelaskan setelah dua - tiga paket FCT selesai. Barangkali juga ketika itu semesta akan paham.
Baiklah, sebagai bocoran, sila buka tumblrku di rahamnita.tumblr.com
Jadi, siapa yang ikut denganku?
Subscribe to:
Posts (Atom)