Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, 11 July 2011

Meminjam Sore

Meminjam Sore

Hujan bercanda mesra dengan bumi. Suaranya riang, diiringi teriakan anak jalanan menawarkan ojek payung dengan harga seribu perak. Sekalipun mereka tak mendapat satu atau dua penumpang, tak ada satupun yang berani melarang mereka berlarian kesana kemari tanpa payung mereka di tenga hujan yang ramah ini.

Jecorz ramai. Diisi dengan manusia yang selalu merasa nyaman berada di dalamnya. Setiap kali aku melihat ke dalam cafĂ© itu melewati jendela kacanya yang besar, ­aku hanya melihat orang-orang yang tak menantikan hujan reda. Setidaknya hari ini.

Jarum menit sudah berputar hampir sepertiganya. Lelaki itu tak juga datang. Kami sering seperti ini. Menyengajakan pertemuan di tempat yang sama dengan pertemuan pertama kami setengah tahun yang lalu. Jecorz. Bedanya, sore itu ia datang dengan sebuah waktu yang pasti. Tidak terlambat, tidak juga terlalu awal.

Aku ingat waktu itu kepalaku tiba-tiba memutar ke arah pintu masuk saat loncenh yang sengaja di pasang di ujung pintu berbunyi. Aku menangkap lelaki bertubuh sedang mengenakan kemeja biru muda rapi lengkap dengan celana bahan dan sepatu pantofelnya yang mengkilap. Badannya tegap. Tangan kanannya memegangi tas yang ia selempangkan di sisi kanannya, dan tangan kirinya menenteng map yang berisi jejalan kertas-kertas yang berisi tulisan. Sesaat itu pula aku hanya melengos biasa dan kembali ke buku di depanku yang sudah ku baca berulang-ulang. Buku lama yang termasuk langka.

Halaman berikutnya baru ku buka, dan aku masih belum bisa terlarut lagi dalam kata-kata si penulis. Aku terus saja mengagumi buku itu. Buku yang sudah lama aku beli. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana indah dan kejamnya sore. Hanya satu sore, dan penulis menjabarkannya hingga banyak yang berprasangka berbeda pada sore.

Masih satu kata di awal halaman itu. Seseorang menjawil pundakku. Aku menoleh. Belum aku menterjemahkan siapa lelaki ini, mulutnya sudah terbuka. “Maaf, ini meja favoritku”.

Aku tersenyum. “Ini meja favoritku juga.”

Ia berjalan ke sebelah kursi di depanku yang masih semeja. “Boleh aku duduk di sini? Ini kursi favoritku.”

Senyumku semakin lepas, berkeliaran menyeruak pipi, kemudian menyalak di mata. Lelaki itu, lelaki yang ku tangkap sosoknya tadi, memohon padaku. Aku mengiyakan, dan buru-buru berkutat kembali pada ‘Sore’-ku, menenggelamkan rasa gembiraku yang tiba-tiba mencuat di barisan kata-kata.

Lama. Aku tahu pesanannya sudah datang. Tapi tak sedikitpun dari mereka yang disentuh. Aku juga tak kunjung membalik halaman berikutnya. Aku masih berkutat di halaman yang sama, dan tidak membacanya. Aku seperti menunggu sesuatu.

Benar, ia menekan permukaan punggung tanganku yang memang sengaja mengarah padanya. Aku menurunkan bukuku, dan menemukan dirinya menopang dagunya sedikit membungkuk. Senyum maafnya tergaris di bibir. Aku berusaha tenang.

“Sore?”

Aku menutup bukuku. Sampulnya sederhana. Langit sore dengan matahari yang lelah dan langit yang meredup. Tak ada lampu kota yang mulai berpendaran. Semuanya tentang langit yang bisa menguasai bumi pada waktu itu. Di bagian depannya hanya tertulis satu kata : Sore. Bercetak tebal di tengah. Di bagian belakangnya hanya sepenggal paragraf yang mampu menggambarkan bagaimana ‘Sore’ ini dimata penikmatnya yang paling sederhana.

“Iya.” Aku mengangguk.

“Novel langka! Dari mana kau mendapatkannya?” tanyanya menggebu.

Aku tersenyum menyambut pertanyaannya dengat alis yang terangkat satu. Rupanya ia tahu buku ini. “Sudah lama aku mendapatkannya. Mengapa?”

“Boleh aku meminjamnya?”

Aku diam. Tidak menjawab izinnya. Otakku kosong. Tidak mencerna kata-katanya.

“Aku Rafdi,” ujarnya. Tangannya terulur menyambut tanganku untuk bersalaman dengannya. Ini yang kumau.

“Faina. Kau boleh memanggilku apa saja.” Aku membalas uluran tangannya.

Setiap orang yang kukenal memiliki panggilan tersendiri. Tapi ada beberapa dari mereka yang tidak mau memutar otaknya untuk mencari nama lagi untuk memanggilku.

“Fo. Boleh kupanggil nama itu?” Ia meminta izin lagi.

Fo. Aku tak pernah dipanggil seperti itu. Ia yang pertama memanggil itu. “Mengapa Fo?”

“Entahlah. Nama itu terasa unik saja di bibirku. Aku baru saja mengucapkannya tadi. Bagaimana? Kau boleh memanggilku apa saja. Biar kita impas.”

“Bagus. Aku suka.” Sekali. “Aku memanggilmu Di. Boleh?”

“Tentu saja,” ujarnya. Matanya tersenyum.

Dan setelah itu Di menyeruput minuman yang sudah lama dihadapannya tanpa memutuskan pandangannya padaku.

“Dari mana kau mengenal ‘Sore’?” tanyaku setelah melihatnya meletakkan mugnya, dan merapikan sisa minumannya pada tepi bibirnya.

Bibirnya terbuka, melontarkan sederet kata. Fasih. Di menceritakan bagaimana sore miliknya begitu indah. Sesekali aku memberi beberapa kata di percakapan kita. Semuanya tak bercelah. Mengalir begitu saja. Bahkan, ketika kita meneguk masing-masing minuman kita, kita tidak memberhentikan percakapan kita.

Di juga mencitai sore. Di sudah lama menginginkan buku itu. Di bermaksud meminjam ‘Sore’ milikku. Tidak harus sekarang, katanya. Ia harus menyelesaikan tugas akhirnya.

Terburu, Di menyuruhku mencatat nomor teleponku di selembar tisu yang ada di meja.

“Aku akan menghubungimu secepatnya. Sampai jumpa,” ujarnya terburu. Di berhenti sejenak untuk mengeluarkan telepon genggamnya, dan menyalin nomor teleponku. Dan pergi, meninggalkan senyum setelah menutup pintu pintu Jecorz.

Aku mengingatnya. Senyumnya. Sampai sekarang. Bagaimana tidak? Setelah aku meminjamkan ‘Sore’-ku, kita sering bertemu. Menikmati sore dari beberapa sudut kota. Ia tahu banyak ternyata. Hampir semua sore yang ia tunjukkan tidak kalah indah dengan tulisan di ‘Sore’ yang aku pinjamkan kepadanya.

“Maaf”. Di baru datang. Membawa payung ke hadapanku. Wajahnya penuh penyesalan. Di selalu membuat kesalahan tentang waktu. Aku tahu.

“Ze?”

Di mengangguk. Garis wajahnya jujur. Di tidak bisa berbohong kepada wanita manapun. Aku membalasnya dengan senyumanku. Menenangkannya. Kami lalu berjalan ke mobilnya. Dan melaju membelah hujan.

“Kita selalu seperti ini, ya?”

Setiap sore, kami bertemu di tempat yang sama. Di mengajakku berkeliling kota. Menghabiskan sore di antara kepulan asap kendaraan bermotor. Memperebutkan senja paling indah yang dimiliki jalanan dan gedung-gedung rendah. Sebagai ganti karena Di tak bisa mengembalikan ‘Sore’-ku. Di tak bisa memberikan alasannya. Lebih baik tak berkata apapun daripada harus berbohong, katanya.

“Sore selalu indah, Di”

“Maaf aku tak bisa mengembalikan ‘Sore’-mu”. Kalimat ini selalu terlontar dari bibirnya.

Aku tertawa. Meringankan rasa bersalahnya. Sesungguhnya, sore seperti inilah yang aku inginkan. Dengan mata, aku menikmati seluruhnya hingga matahari tak berpendar lagi. Bukan imajinasiku yang melihat sore yang diceritakan si penulis di ‘Sore’-nya. Sore selalu berbeda. Dan ‘Sore’ selalu sama dengan kata-katanya.

“Fo, aku mencintaimu,” ujarnya. Kalimat ini juga selalu terlontar dari bibirnya. “Sore ini berbeda. Tak seperti setengah tahun yang lalu. Sore setengah tahun yang lalu hangat. Mata kita bisa meraba awan-awan itu. Tapi sore ini berbeda, Fo. Tak ada awan”.

Itu janjiku. Aku akan menjawab pertanyaannya kepadaku kalau langit menyajikan sore yang berbeda. Aku tahu sore selalu indah di mata kami. Tapi hari ini tidak. Kukira hari ini mustahil ada, sehingga aku dapat dengan mudah berkelit. Sore benar-benar bosan dengan kecantikannya. Rona langit murung, pertanda bosan. Sejujurnya, aku mencintainya juga. Tapi..

“Ze? Bagaimana dengan dia?” Untuk pertama kalinya, kalimat ini keluar dari ujung lidahku.

“Ze sedang tugas akhir. Aku tak tega menambahi bebannya. Biarlah Ze lulus, kemudian kita akan menikmati sore hingga garis ajal. Kau setuju?”

Mobil Di dan lainnya berhenti di satu titik. Berjalan berimpit. Sesekali klakson meraung di luar mobil Di. Di tetap tenang. Aku tak ragu dengan kalimat Di barusan. Di selalu memberikan janjinya, meski harus terlambat.

Di sela-sela hujan, diiringi petir dan suara klakson yang berlomba meyakinkanku, aku masih ragu. Apakah Ze sanggup menerima berbagai alasan Di? Apakah Ze sanggup mendengar bahwa tunangannya yang sudah memberikan tiap sore yang indah kepadaku setengah tahun terakhir?

Ah, itu nanti saja. Yang ada di hadapanku hanya ada Di menatap serius ke arah guyuran hujan yang tak kunjung mau mereda.

“Baiklah”. Sore selalu indah sebagaimana mestinya.


Surabaya, 11 Juli 2011
Rahmadana Junita

Sunday, 19 June 2011

Cemburu

Dengan berbagai nafas, kau mendesah dengan caramu. Aku tahu.
Aku tahu dengan berbagai cara bahwa kau membenciku. Ah, tidak. Kau tak pernah membenciku. Aku tahu itu. Kau menjaga perasaanku. Hanya saja kau membenci segala cara agar aku bisa dekat denganmu.
Aku mengenalmu lama. Sejak hujan belum memberikan gemelitiknya di punuk bukit. Sejak mereka belum mengenalmu sebagai manusia datar. Dan aku sudah mulai mengenalmu ketika kau memberikan tanda-tanda akan ada kecemburuanku padamu. Tidak, aku tahu itu akan terjadi. Tapi rasanya ada keyakinan yang membuat ketakutanku pada kecemburuan itu perlahan akan menghilang partikel demi partikel. Aku menuruti kemauan dari keyakinanku sendiri. Bukankah bangga memiliki manusia yang sepertimu?
Aku tahu bagaimana kau. Aku tahu bagaimana caramu berbicara kepadaku, dan aku selalu menirukannya, kemudian tertawa. Aku tahu bagaimana kau tetap kukuh memegang tombak pendapatmu. Aku tahu bagaimana kau menceritakan kecintaanmu, tetapi tak pernah ada aku di dalamnya. Aku tahu bagaimana kau memutuskan asamu yang sedang berada di bawah, dan kau memaksaku untuk menghiburmu, kemudian tak ada lagi kalimat-kalimat selanjutnya. Pedih memang setelah tahu bahwa aku bukan satu-satunya yang tahu bagaimana gestur bajumu bergerak. Tapi aku yakin, aku dan kau masih dalam bendungan 'kita'.
Aku tahu, kelima indramu masih berfungsi dengan benar. Tapi aku yang selalu menjadi indra keduamu. Kau ingat itu? Kau ingat bagaimana kau memaksaku mencicipi rasa sayuran yang sama sekali tidak aku sukai? Atau ketika kau mengusulkanku untuk melihat bulan malam ini. Bahkan ketika kau menemukan benda yang menarik perhatianmu, kau selalu memberiku kesempatan untuk menyentuhnya, merasakan sensasi yang sama seperti apa yang kau rasakan. Ya, kau selalu menanyakan apakah bau parfummu hari ini berlebihan atau tidak. Dan yang paling menyenangkan adalah ketika kau berbicara, dan aku mendengarmu bagaimanapun kau menghentikan kalimat-kalimatku. Aku terlanjur menikmatinya. Setidaknya, itu membuat aku bisa dekat denganmu. Membuat sebuah waktu milik kita.
Detik masih bergerak enam derajad selama enam puluh kali, membentuk satuan bernama menit. Terus seperti itu. Kau memperlakukan aku dengan cara yang sama. Dan aku tetap berdiri dari segala keyakinan yang sudah menyerah. Dan aku masih mencari alasan dan merayu untuk membuat keyakinan itu tetap hidup. Berdiri kokoh disini. Tetap seperti ini saja.
Tapi sayang, angin meniup setiap bagian jiwanya. Dia menemukan sesuatu! Dan apa? Aku tak lagi menjadi indra keduanya. Tak lagi berpedapat bagaimana rasanya daun mahoni yang gugur di depan matanya. Dia pernah berkata, dia menemukan hidupnya!
Ya, aku tahu. Kau sering menyangkal ajakanku ketika aku tidak membawa botol kenangan. Dan segala cercaan kebosananmu terhadap emosi yang tersenggol. Apa pedulinya? Kau sering memperlakukanku seperti itu, kan?
Dan.. sekarang apa lagi? Manusia-manusia baru itu menyanyi bahwa mereka mengerti bagaimana kau menghitungi helai-helai rambutmu?
Sayang, aku cemburu.

Surabaya, 19 Juni 2011

Saturday, 28 May 2011

Lelakiku

Lanjutan yang ini.

Aku mencintainya. Mencintai lelaki yang kusebut Galang. Dia mencintaiku. Kami mencinta. Tak seperti Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta, atau Jack dan Rose di dalam film Titanic. Tak perlu ada orang yang tahu. Cukup kita berdua yang mencinta. Cukup kita berdua yang tahu. Cukup langit kosong, dan wewangian kamboja.

Dia lelaki pertama yang kutemui kala hati ini sedang linglung mencari sandaran. Tak ada yang tersedia disana. Ia lewat, tersenyum. Tanpa menyajikan nama, ia siap menjadi seorang lelaki yang malam hadirkan untukku. Hanya untukku. Tak ada hal lain yang memilikinya. Tidak juga Tuhan maha semesta alam. Dia milikku. Tuhan tak akan pernah mengambilnya sebelum mengambil sisa ejaan dari kata-kataku, dari peradaban manusia yang tumbuh liar seperti alang-alang.

Tak ada wanita yang jatuh cinta padanya sebelum aku mencintainya. Dia hanya lelaki sebelum aku mencintainya. Dia hanya membatin sebelum aku mencintainya.

Dari setiap malam, aku selalu merindukannya. Merindukan nasihat, suara, bahasa, huruf, angan. Omong kosong! Caranya bangga dengan gayanya. Caranya memberi taburan ganja pada setiap senyum yang merekah ketika aku berkata kalau hari ini indah. Kepada tawa buatan untuk membuatku semakin mencintainya.

Dia temanku. Bukan kekasih. Ketika aku menawarkan diri untuk menjadi pelacurnya, ia menolak. Lebih banyak lelaki biadab untukmu, sayang, begitu katanya. Dia temanku. Bukan kekasih. Cintaku padanya dan cintanya padaku bukan batasan. Bukan sebuah kata ghaib yang mudah raib. Dia temanku. Bukan kekasih. Dia tak pernah berani menyalakan korek di depan lidahku.

Lelakiku, begitu aku menyebutnya. Dia seutuhnya milikku. Setiap sudut tubuhnya. Setiap tetes minuman yang diteguknya. Setiap butir nasi yang terselip di ruang kosong di kedua giginya. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya, bahkan setiap butir nada yang terurai dari desahan setiap malam, itu milikku.

Dia satu-satunya lelakiku. Hanya dia. Aku pun wanitanya. Tapi bukan miliknya. Dia milikku. Aku yakin, tak ada yang menggantikannya meskipun dia adalah seorang lelaki jalang dengan segundang kata cinta. Aku yang memberiku kata cinta kepada lelakiku. Aku wanita yang mencintainya dengan segenap nyawa yang kumiliki. Aku wanita yang mencintainya dengan syarat, dia tetap disini.

Aku sangat mencintainya. Dan ketika malam mendorongku untuk menanyakan apakah ia akan tetap disini bersamaku, aku hanya mendengarkan cecapannya, tawa, kemudian kutanyakan kembali. Dia kembali mencecap. Kembali tertawa. Tuhan, aku sangat mencintainya. Meskipun pelaminan bukan garis akhir kita.

Aku bertanya lagi. Dia tidak mencecap lagi. Dia tidak tertawa lagi. Dia menatap mataku. Dia menggenggam tanganku. Ku izinkan bibirnya berucap kata yang ku rencanakan untukku.

“Aku imajimu. Selama kau ada, aku ada”



Surabaya, 13 April 2011.
Track #04.

Wednesday, 6 April 2011

Lelakiku. cerpen ngadat

Aku mencintainya. Mencintai lelaki yang kusebut Galang. Dia mencintaiku. Kami mencinta. Tak seperti Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta, atau Jack dan Rose di dalam film Titanic. Tak perlu ada orang yang tahu. Cukup kita berdua yang mencinta. Cukup kita berdua yang tahu. Cukup langit kosong, dan wewangian kamboja.

Dia lelaki pertama yang kutemui kala hati ini sedang linglung mencari sandaran. Tak ada yang tersedia disana. Ia lewat, tersenyum. Tanpa menyajikan nama, ia siap menjadi seorang lelaki yang malam hadirkan untukku. Hanya untukku. Tak ada hal lain yang memilikinya. Tidak juga Tuhan maha semesta alam. Dia milikku. Tuhan tak akan pernah mengambilnya sebelum mengambil sisa ejaan dari kata-kataku, dari peradaban manusia yang tumbuh liar seperti alang-alang.

Tak ada wanita yang jatuh cinta padanya sebelum aku mencintainya. Dia hanya lelaki sebelum aku mencintainya. Dia hanya membatin sebelum aku mencintainya.

Dari setiap malam, aku selalu merindukannya. Merindukan nasihat, suara, bahasa, huruf, angan. Omong kosong! Caranya bangga dengan gayanya. Caranya memberi taburan ganja pada setiap senyum yang merekah ketika aku berkata kalau hari ini indah. Kepada tawa buatan untuk membuatku semakin mencintainya.

Dia temanku. Bukan kekasih. Ketika aku menawarkan diri untuk menjadi pelacurnya, ia menolak. Lebih banyak lelaki biadab untukmu, saying, begitu katanya. Dia temanku. Bukan kekasih. Cintaku padanya dan cintanya padaku bukan batasan. Bukan sebuah kata ghaib yang mudah raib. Dia temanku. Bukan kekasih. Dia tak pernah berani menyalakan korek di depan lidahku.

Lelakiku, begitu aku menyebutnya. Dia seutuhnya milikku. Setiap sudut tubuhnya. Setiap tetes minuman yang diteguknya. Setiap butir nasi yang terselip di ruang kosong di kedua giginya. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya, bahkan..



***

lagi lagi cerpen saya ngadat. nggak tahu deh apa alesannya. kalo sudah menikmati dan merencanakan alur nya, justru saya ndak tahu mesti dibagaimanakan cerita ini huhu.

Thursday, 18 November 2010

Gadis Penghujan. silahkan berkomentar

Hujan. Dia tak pernah ragu untuk memberikan sebuah kebencian kepada Damar. Lelaki yang terkurung dalam rumahnya sendiri. Begitu juga hatinya. Baginya, mendekati wanita sama seperti mencelakai dirinya sendiri. Memperdekat waktu mautnya.

Di kamarnya, dia duduk di tepi jendela. Memandangi jalanan hujan yang terceermin dari hatinya. Sepi. Sesekali embun yang menghiasi kaca jendelanya, dihapusnya agar tak menghalangi pandangannya.

Di depannya, tersaji secangkir coklat panas yang sudah mulai mendingin dan belum tersentuh. Dia layaknya seseorang yang cemas menunggu kekasihnya, atau bisa juga seperti narapidana yang menunggu eksekusi.

“Den Damar, cokelat panasnya sudah mulai dingin. Saya ganti dengan yang baru, ya, Den?” ujar Nunik, pembantu rumahnya. Ia dengan sigap mengambil cangkir di sebelah laptop kesayangan Damar. Menggantinya dengan yang baru.

Tak berselang lama, Nunik kembali dengan nampan dan cangkir diatasnya. Pengganti cokelat panas yang dingin dengan cokelat panas yang masih mengepul asapnya.

Seberlalunya Nunik, Damar seakan ditampar. Seorang gadis melawati depan rumahnya ditemani payung pelanginya. Menatap lurus kedepan.

Ia tercengan. Tanpa ia kira, gadis itu berhenti. Menatap Damar sejenak, tersenyum kecil, kemudian kembali berjalan lurus. Damar tahu, pipi gadis itu merona.

Damar masih diam. Mengikuti detik demi detik gadis itu berlalu.mengingat detil pada setiap sudut di tubuhnya. Aura gadis itu menembus kebencian, kaca jendela, dan sesuatu yang tidak ia sadari. Aura gadis itu menyeruak di hatinya.

Setelah gadis itu berlalu, ia tersenyum nakal. Berhasil menyimpan detil gadis itu dalam memorinya. Coklat panas yang baru saja disajikan diseruputnya seteguk, lalu ia tenggelam dalam laptopnya. Tanpa harus ada yang menolong.


***


Esoknya, Damar tetap menghadapi minuman, tempat duduk, dan posisi yang sama. Diam. Menunggu gadis yang sama dalam hujan gerimis. Gadis kemarin sore.

Tetapi, sejak langit memuntahkan matahari dan menelannya kembali, ia tak menemukan gadis kemarin diantara hujanan itu. Ia hanya bertemu nihil.


***


Satu minggu kemudian, entah apa yang membuat matahari berpesta, dan langit enggan menurunkan hujannya. Damar membencinya. Membenci keraguan atas langit dan membenci dirinya sendiri karena telah merindukan gadis itu.

Ia masih menunggu rerintikan hujan turun dari langit, yang bisa menghadirkan gadis yang dirindukannya. Sepertinya, ia jatuh cinta.

Tapi kali ini Tuhan mengabulkan permintaannya. Rerintikan itu meramaikan hati Damar yang biru, lalu membasahi pilunya.

Gadis yang sama berjalan melewati depan rumah Damar dengan acuh. Tangan sebelah kirinya membawa payung untuk melindungi tubuhnya, dan tangan yang lainnya membawa sebuah tongkat panjang untuk meraba jalanan.

Damar tersentak. Sejak kapan gadis itu buta? Bukankah seminggu yang lalu gadis itu masih bisa menatap damar, dan menyadari keadannya?

Segera Damar menutup tirai jendelanya. Toh gadis itu juga tidak akan menyadari sikap Damar kali ini. Buktinya, ia masih berjalan lurus dengan tatapan matanya yang kosong.

Damar menopang dagunya dengan kedua tangannya. Menatap lauar laptopnya kosong. Hatinya berkecamuk. Menolak untuk kecewa pada gadis itu. Uantuk apa kecewa? Gadis itu tidak bersalah!!

Tidak! Gadis itu hanya kehilangan penglihatannya! Apa aku harus menghilangkan perasaan ini juga? Aku cuma syok! Ya, hanya syok. Aku hanya butuh waktu. Hatinya meyakinkan.

Ia segera mematikan laptopnya, meninggalkan mejanya. Membiarkan dirinya sendiri tenggelam tenang dipelukan selimut. Membiarkan cokelat panasnya mendingin.


***


Hari berlalu. Masa pancaroba itu beralih menjadi musim hujan. Walaupun setiap hari langit tidak menurunkan hujan derasnya, setidaknya Damar masih bisa tersenyum dan meneguk cokelat panasnya diiringi gerimis yang lagi-lagi bisa menghadirkan gadis penghujan itu.

Ia semakin yakin dengan perasaannya. Ia todak perduli dengan keadaan gadis itu. Hatinya memilihnya. Memilih gadis itu.

Satu minggu berlalu, cukup mempertebal tekad Damar untuk menyatakan perasaannya. Ia tak perduli dengan semua risiko yang akan ia terima. Setidaknya, ia berani mengungkapkan. Bukan mengrungnya seperti tubuhnya.

Tanpa menunggu lama, gadis itu tampak melawati jalur yang sama. Damar segera mengambil payungnya, berlari ke luar rumah, dan berdiri di depan pintu pagarnya. Menunggu gadis itu berhenti dihadapannya.

'tuk tuk tuk'tongkatnya meraba jalanan. Menjadi mata kedua bagi gadis itu. Tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Damar. Jantung Damar semakin berdebar tak terarah. Ia berharap gadis itu tidak mendengarnya.

Gadis itu berhenti di hadapan Damar. Dia merasakan ada yang berbeda dari ketukan tongkatnya. Ternyata tongkatnya mengetuk-ngetuk kaki Damar. Dan Damar terperangah oleh wajah gadis itu. Sangat cantik.

“Maaf, saya mau lewat”, ujar gadis itu.

“Boleh ngobrol sebentar? Sedang tidak terburu – buru, kan?” pinta Damar. Gadis itu hanya tersenyum mengiyakan. Sepertinya ia tahu dengan siapa dia berhadapan.

Tanpa pikir panjangm Damar mengajak gadis itu masuk. Dia bukakan pintu pagarnya, mempersilahkan gadis itu masuk. Mereka melewati pekarangan rumah Damar. Gadis itu tersenyum menikmati aroma tanah yang tercipta dari pekarangan itu. Mereka akhirnya berhenti di teras rumah Damar dan mempersilahkannya duduk.

“Ehm ,aku selalu melihatmu melewati rumahku hanya ketika hujan turun. Mengapa begitu?” tanya Damar terbata.

“Aku mencintai hujan. Walaupun dia mengambil kedua orang tuaku bersamaan dengan penglihatanku beberapa minggu yang lalu”, ujar gadis itu tersenyum.

“Maaf. Aku tidak bermaksud untuk...” Damar merasa bersalah.

“Tidak apa-apa”, ujarnya sambil tersenyum lagi. “Hujan menjadi pengganti mataku. Aku mencari kawan ketika hujan. Aku Adel. Kau?” ujarnya sambil menjulurkan tangannya.

“Aku Damar”, ujar Damar membalas uluran tangan Adel.

Kesunyian menelan mereka. Satunya bingung bagaimana memulai untuk mengutarakan perasaannya. Dan yang lainnya, terlalu nyaman dengan keadaan yang sengaja dibuat untuknya.

“Adel”, Damar mencoba membunih kesunyiannya dengan keberaniannya.

“Ya?”

“Aku.. Aku jatuh cinta padamu. Aku ingin menjadi kawa hidupmu. Aku ingin menjadi matamu hingga nyawaku benar-benar kosong. Kau mau?”

“Aku buta, Damar. Apa kau mau?”

Damar berlutut di depan Adel. Menggenggam tangannya erat. Berharap Adel benar-benar mendengar hatinya.

“Apakah cinta begitu rumit? Aku hanya mencintaimu. Hatiku yang memilihmu. Bukan kelima indraku”.

Adel tersenyum. Dia berdiri, dan membawa Damar ke pekarangan rumahnya. Memastikan dugaan pertamanya.

“Apakah kau lelaki tempo hari yang duduk de jendela rumah ini sebelum aku kelihatan penglihatanku?”

“Iya”, Damar kaget. Ternyata Adel hafal letak rumahnya.

“Aku mau”, jawab adel sederhana. Membuat hati Damar melambung. Ternyata dugaan Adel benar.


***


Adelia,

Mungkin setelah kau membaca ini, aku sedang tenang di alam lain. Aku samasekali tidak ingin mengecewakanmu. Maaf, ternyata dugaanku salah. Aku mengira aku dapat sembuh dari penyakitku untukmu. Tuhan yang berkehendak.

Biarkan aku dapat melihat anak-anakmu ketika kau menatap Mereka.


Damar.


Adel diam. Dia tidak mengerti jiwanya berada dimana. Ia berdiri lalu berlari meninggalkan lamaran milik mereka yang seharusnya dimulai 4 jam yang lalu.

Sesampainya di jalanan yang dianggapnya sepi, dia menangis tanpa tujuan. Ia ingin berteriak memohon Tuhan untuk mengembalikan DamarNya. Tapi akan percuma. Adel tahu itu. Ia memilih diam. Membuat percakapan kecil dengan hujan.

“Hujan, aku mencintaimu! Mengapa kau mengambil mereka? Ayah, ibu, bahkan Damar! Damar yang kau beri!” tanyanya pada hujan. Ia masih berjalan lurus di tengah jalanan.

“Karna aku ingin mempertemukan kau dengan mereka”, jawab hujan melewati telinganya.

Pada waktu yang sama, sebuah mobil sport melaju kencang ke arah Adel tanpa ia sadari. Hujan menelan deru mesinnya. Adel baru saja sadar mobil itu berada disana ketika mobil itu menghatam keras tubuhnya dan terlempar.


End,

Surabaya, 17 11 2010

11:44pm

inspired by : Incident Obsession – Lady Rain

Monday, 26 April 2010

Cinderella Jam Maghrib

seperti permintaan Tita(@titaaaaa), gue mosting cerita ini. haha selamat menikmati ya all.


Cinderella Jam Maghrib


Pagi yang cerah. Pagi ini dapat dirasakan oleh semua penghuni bumi. Tak terkecuali Rilly. Rilly sebenarnya ikut merasakan cerahnya pagi ini. Tapi ia tak menunjukkan kalau pagi ini bener-bener cerah seperti biasanya. Padahal, hari-hari sebelum hari ini ia selalu ceria walaupun pagi tak megitu cerah.

Dengan langkah gontai, ia memasuki gerbang menuju kelasnya. Tak seperti biasanya, ia selalu melangkah riang sambil menyanyikan lagu kesukaannya : Cuppy Cake dan menyapa kawan-kawannya walau kawannya tak kenal dengannya .

Pin yang tersemat di tas selempangnya tak tersentuh sama sekali. Padahal ia paling suka mengetuk-ngetuk pinnya dengan kuku-kukunya hingga seirama dengan lagu yang dimainkannya. Hari ini ia hanya berjalan malas sambil ngemut lollipop rasa stroberi dan bibir dimanyunkan.

“Kenape lu, Ril?” Tanya Raka, teman sebangkunya setelah Rilly duduk dibangkunya dengan tas yang masih terkait ditubuhnya. “Manyun mulu”, lanjutnya.

Mendengar ocehan sahabatnya, Rilly yang lagi super bad mood hanya menatap Raka lekat-lekat sambil lebih memanyunkan bibirnya dan dengan menghembuskan napasnya sekeras-kerasnya di depan muka Raka selama 5 detik dan kembali menatap lurus ke depan lelasnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Sumpah deh, Ril. Rillyku ini kenapa? Ada apa toh? Cerita… cerita”.

“Gue sebel, Ka. Sebel sama bokap gue. Masak ya, dia berani-beraninya nikah sambil berdiri di depan gue!!”

“Hah? Nikah sambil berdiri? Trend baru, Ril? Bokap lo keren, Ril!”

“Haha… goblog lo, Ka! Mana ada nikah sambil berdiri. Kalo kawinn…”, ujar Rilly tanpa meneruskan perkataanya dengan tawa lepasnya sambil mendorong pipi Raka, lalu kembali cemberut.

“…”

“Pokoknya gue sebel sama bokap gue! Gak usah tanya, deh kenapa. Dan lo uga gak usah tau. Gue sebel gara-gara bokap gue nikah lagi sama orang lain. Huh! Padahal gue gak mau lagi punya nyokap. Nyokap tenang gak yah disana?”

“Elonya juga goblog, Ril! Katanya tadi ogah cerita. Tapi elo malah kasih tau ke gue kenapa lo kayak bebek manyun. Bener-bener goblog nih anak.”

Mendengar itu, Rilly langsung membekap bibirnya sendiri dengan kedua tangannya sambil berkata, “emangnya iya, yah Ka? Kok gue gak nyadar sih?”

“Emang nyokap baru lo kayak gimana?”

“Gak tau gue kayak gimana nyokap baru gue. Mana dia bawa 2 anak kembar yang eneh juga. Satunya rambut kriting poni lurus, satunya rambut lurus poni kriting. Aneh banget pokoknya, Ka. Gue takut gue bakal tersiksa kayak Cinderella. Tapi karna nama gue Rilly, jadinya Cinderilly. Kan gak lucu, Ka. Trus abis gitu…”

Saking ribetnya Rilly ngomong, dan saking risihnya Raka dengerin, Raka pun pengusapkan telapak tangan Raka ke muka Rilly, sambil bilang, “Wala, Ril… nyerocos aja”, dan berlalu pergi sambil memainkan bola basket kesayangannya.

Tapi Raka berhenti di depan pintu. Berhenti memainkan bolanya, dan berkata lagi kepada Rilly, “Sabtu besok jangan lupa ke seventeen-annya Naya. Jam 4 sore di rumah gue. Awas kalo lo gak dateng”, lalu pergi dengan memainkan lagi bola basketnya.

Hah? Jam empat sore? Gue boleh dateng gak ya?, ujar Rilly dalam hati.


****


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Rilly menuju tempat pesta Naya. Ruang tamu rumah Raka yang udah di rubah temanya menjadi cyan-pink. Mulai dari meja-meja tempat menghidangkan makanan, gorden, gazebo di taman belakang, poster yang terbuat dari kain sebagai pengganti buku tamu, hingga piring. Semuanya beraksen cyan-pink. Paduan warna yang Naya suka.

Mata tamu-tamu Naya langsung tertuju pada gadis yang berlari tergesa memasuki ruangan. Gadis itu berjalan hampir lari dengan mencermatkan matanya untuk mencari si empunya pesta. Gadis itu Rilly.

Naya ditemukan Rilly di dekat meja yang menyediakan dessert dan sedang mengobrol dengan temannya. Rilly mendekati Naya dengan berlari.

“Raka mana, Nay?” Tanya Rilly sambil mengatur napas.

“Kak Rilly! Raka ada di taman belakang. Nungguin kakak.”

“Nih, Nay, buat kamu”, ujar Rilly sambil menyodorkan kado yang dibungkus manis dengan kertas kado berwarna cyan-pink. Naya seneng ngeliatnya. “Met ulang tahun, ya, Nay”, lanjut Rilly sambil menyodorkan tangan kanannya dan disambut dengan tangan Naya.

“Makasih banget, Kak”, ujar naya sambil memeluk Rilly dengan tiba-tiba.

Naya melepaskan pelukannya, dan berkata, “Udah, kak. Raka nunggun di belakang”

Mendengar itu, Rilly berlari kebelakang. Mencari Raka di belakang. Seperti apa yang di ucapkan adek Raka, Naya. Dan menemukan Raka di tempat kesukaan Raka. Ayunan.

“Hai”, sapa Rilly saat berada di depan Raka yang sedang menunduk

Raka memakai setelan jaz biru gelap dengan kemeja warna biru cyan dan dasi biru tua yang agak berantakan. Celana jeans panjangnya dihiasi sabuk dengan gesper tengkorak senyum yang dikado Rilly 1,5 tahun lalu saat ia merayakan ultahnya yang ke 17 dan sepatu keds nike kesayangannya. Dan tak lupa kacamata yang baru pertama kali ia pakai disertai rambut cepak spike yang dibuatnya berantakan menambah pesona cowok ini.

Raka sedikit tersenyum melihat penampilan Rilly. Cantik, tapi simple. Tak ada banyak kemewahan yang tersemat ditubuhnya.

Ia mengenakan dress batik tanpa lengan berwarna coklat selutut dan memakai sepatu kanvas convers bertali kuning hitam kesayangannya. Rambutnya yang sebahu, hanya digerai rapi dengan jepit bunga yang dikado Raka 1 tahun lalu saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke 17.

Keduanya tersenyum. Sedikit heran dengan penampilan yang lainnya.

“Sumpah. Lo cantik banget!! Lo Rilly ato setan??”

“Lo tetep ganteng”, mendengar pernyataan Rilly, Raka sumringah gak karuan. Tapi Rilly melanjutkan, “Garing gak bisa anteng. Hahah. Kena, Lo!!”. Keduanya tertawa.

Raka lalu menggandeng tangan Rilly dan mengajaknya berdansa di Ruang tempat diadakannya pesta. Rilly hanya tertunduk, tersenyum, dan mengikuti apa yang Raka Lakukan kepadanya.

Musik jazz yang tadi mengalun nyaman di telinga Rilly sekarang diganti dengan musik slow atas permintaan Raka kepada pengiring music. Tersenyum. Ia setuju dengan musik yang dimainkan mereka sekarang dan menarik Rilly ketengah-tengah. Mengajaknya berdansa.

Rilly yang tahu Raka gak bisa dansa, hanya tersenyum sambil melingkarkan tangan Raka di pinggangnya, dan melingkarkan tangannya ke belakang leher Raka. Mereka sangat dekat. Hingga dapat terdengar degupan jantung yang sangat keras satu sama lain.

“Ikuti aku aja. Nggak sulit. Cuma kekanan sama kekiri”, bisik Rilly kepada Raka yang hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Dan mereka terlarut dalam lagu yang dimainkan.

Tak selang lama, seorang lelaki baya memberhentikan dansaan mereka, dan membisikkan kepada Raka yang terdengar oleh Rilly, “Maaf, Den. Udah mau maghrib. Temen ceweknya aden mungkin mau shalat. Aden juga”.

Dengan amat ramah, Raka tersenyum kepada lelaki itu dan mengangguk. Mengiyakan maksud darinya.

“Sori, Ka. Gue musti go home”, ujar Rilly yang stand by mau lari setelah laki-laki itu berlalu pergi.

“Lho, kenapa, Ril?” Tanya Raka kepadaRilly yang udah berlalu pergi. Raka pun mengejarnya.

Rilly lari melewati tamu-tamu Naya. Semua tamu-tamu Naya matanya tertuju pada gadis yang sama dengan yang tadi mereka lihat.

Cewek ini pelari yah? Dari tadi heboh sendiri, mungkin itu yang ada dibenak mereka saat mereka melihat Rilly berlari lagi keluar dari ruangan pesta.

“Gue kudu cabut pokoknya, Ka.”ujar Rilly saat akan berjalan memasuki tempat parkir di halaman Raka yang super luas itu.

“Yah elo jelasin dulu, dong ke gue. Apa alesan elo cabut duluan acaranya belom selese. Nanti kita ada ajojing bareng”, ujar Raka mencoba menyamai langkah Rilly.

Raka menghentikan langkahnya saat mereka berdua sampai di tempat parkir. Rilly memasu ia bersandar di depan mobil di dekatnya. Menagtur napasnya. Menunggu Rilly keluar dengan kendarannya.

Tak selang lama, Rilly berhenti di depan Raka dengan kendaraannya. Raka kaget karena Rilly yang di depannya berhenti dengan menaiki sepeda polygon besar. Bukan mobill Honda jazz cyannya.

“Raka, gue pulang duluan soalnya ibu tiri baru gue ngelarang gue pulang sebelum maghrib. Sorry. Tadi kadonya udah gue kasih ke Naya langsung.”

“Kenapa?? Takut sihir lo ilang?”, canda Raka. Tapi Rilly tak menggubris.

“Gue boleh keluar. Tapi kalo pas maghrib, gue kudu pulang. Shalat. Ibu tiri gue ustadzah. Suka ceramah kalo kalo gue gak solat.”

“Kan lo bisa pinjem mukenanya Naya.”

“Gue kudu shalat di rumah.”

“Trus kenapa lo pake sepedah? Mobil lo kemana?”

“Nyokap tiri baru gue duta lingkungan. Karna rumah kita deketan, gue disuruh naek sepeda ini. Katanya, global warming. Yaudah, gue nurut. Dari pad ague gakl dating ke acara adek lo? Gw cabut!” ujarnya sambil mengayuh sepedahnya keluar dari halaman rumah Raka.

“Rilly!” teriak Raka saat Rilly akan melewati gerbang. Rilly menoleh.

“Bener apa yang elo kata. Elo Cinderilly! Cinderilly jem maghrib! Hahah…” teriak Raka sambil ketawa.

Rilly tersenyum, lau berlalu pergi. Pulang. Go home. Cabut.

Cinderilly jam maghrib? Nice nick!, gumamRilly dalam hati.



gimana gimana? bagus gak? heheh silahkan di comment ya :))

--

oh iya, gue mau bilang kalo gue L-U-L-U-S.
seneng? oh iyaa dong pasti senengnya. apa lagi sekolah gue LULUS 100 persen!! haha. dan sekolah gue lulusan SMK terbaik se-Surabaya. dan salah satu SMK Surabaya yang masuk bih five se-Jatim!! akakaka. BUANGGA DONG DUE.

eh tapi, gue nggak langsung seneng seratus persen dong. masih ada SNMPTN mameeen. doain tekkim ITS ya all.

haha, fielen dank :))

dan nggak lupa dong jangan lupa...
jangan lupa follow twitter gue @junitodong. i'll wait it :))