Kalau boleh flashback, tahun 2013 kemarin saya dipertemukan dengan banyak orang-orang baru yang benar-benar heterogen. Ceritanya panjang. Mulai dari diberi kesempatan untuk mengikuti workshop Klasik Muda, sampai menjadi bagian dari Surabaya Youth Carnival 2013 sebagai Human Resource.
Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteer, founder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.
Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.
Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.
Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".
Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.
Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.
Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.
Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.
Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?
Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.
Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.
Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.
Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.
Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.
Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.
Aamiin..
Showing posts with label Arts. Show all posts
Showing posts with label Arts. Show all posts
Sunday, 6 July 2014
Monday, 9 June 2014
Berbicara Sedikit Tentang Aktor
Pertama kali melihat John Watson pada serial TV Sherlock
Holmes, yang membuat aku tertarik untuk menerka siapa dia adalah dari caranya
menggerakkan tangan ketika sedang akan berpikir sebelum membuat sebuah
keputusan. Sedikit meremas salah satu telapak tangannya, memainkan sedikit bibirnya,
dan kedikan kepalanya. Familiar. Membuatku menduga bahwa ia adalah aktor yang
sama yang memerankan Bilbo Baggins di film The Hobbits.
Martin Freeman. Setelah memastikan di IMDb. Ternyata mereka
adalah benar orang yang sama.
Kedua, adalah ketika iseng melihat video-video mime(pantomim) di laptop Rengga dengan
seorang kawan yang lainnya, Bowo. Aku bagian melihat saja. Tidak memilihkan video
mana yang akan dilihat. Bowo memainkan video ini :
Yang menarik bagiku adalah gerakan pemeran utama (sang mime)
pada detik ke 30-40 berupa caranya mengedikkan kepala dan menggerakkan mulutnya
ketika berpikir. Membuatku ingin menerka kalau ia adalah orang yang sama di
serial TV Sherlock Holmes. Pemeran John Watson, tentunya. Artinya, adalah orang
yang sama dengan orang yang memerankan Bilbo Baggins.
Martin Freeman. Benar, ternyata. Aku memastikan di credit
tittle nya.
Aku bahagia ketika dapat menerka seorang aktor dari bahasa
tubuhnya. Seperti Martin Freeman ini. Ia memerankan tiga tokoh yang berbeda.
Yang jelas-jelas aku tidak menerkanya dari wajah. Karena ia memerankan tiga tokoh
dengan make-up yang berbeda. Bilbo
Baggins dengan make-up fantasi
menjadi seorang Hobbit, John Watson dengan make-up
realis, dan seorang mime dengan make-up mime.
Tiga karakter berbeda, dengan make-up yang jelas-jelas berbeda, namun sang aktor membawakan
dengan beberapa bahasa tubuh yang sama. Aku menemukannya di dua aktor monolog
di Tiyang Alit. Mas Tile yang memerankan tokoh dalam naskah monolog Arkeologi
Beha dan Black Jack memiliki karakter ‘Mas Tile’ yang sama. Inyong yang
memerankan tokoh dalam naskah monolog Prodo Imitatio dan Bangsat juga memiliki
karakter ‘Inyong’ yang sama pula. Aku tak bisa menjelaskan disini kalau kalian
sendiri tidak mengamatinya.
Jika seorang aktor memerankan beberapa tokoh dengan karakter
yang berbeda, namun terletak banyak perbedaan bahasa tubuh, dan aku tidak dapat menerka
jika mereka adalah aktor yang sama, aku berpendapat ia memiliki keaktoran yang
luar biasa.
Seperti aku menemukannya pada diri Johnny Depp. Sepanjang
pengetahuanku, ia menjadi pemeran utama dalam film Pirates of the Caribbean
sebagai Jack Sparrow, Charlie and the Chocolate Factory sebagai Willy Wonka,
Alice in the Wonderland sebagai Hatters, Finding Neverland sebagai Sir James
Matthew Barrie, dan beberapa film lainnya. Asyiknya, aku tak menemukan kesamaan
karakter ‘Johnny Depp’.
Ah, barangkali aku belum saja menemukan kelemahan Johnny
Depp dalam membawakan sebuah karakter. Seperti Martin Freeman dan Jim Sturgess. Aku telah menemukan beberapa bahasa tubuh yang sama dari mereka. Hihi.
Thursday, 24 January 2013
Wayang Orang
Pernah dengar kesenian yang satu itu? Aku yakin kalian pasti pernah mendengarnya lewat pelajaran yang dienyam ketika duduk di bangku sekolah. Hanya pernah, tapi tidak sedikit diantara kita mengerti seutuhnya, kan? Sama, aku juga. Dulu, ketika diterangkan di kelas mengenai kesenian, kerjaanku hanya manggut-manggut, nanti kalau ujian tinggal menghapal. Nggak ada secuil ketertarikan terhadap seni.
Beda dengan ketertarikanku terhadap pelajaran yang banyak dibenci teman-teman : Matematika. Yang sekarang aku menempuh kuliah dengan jurusan ini. Dan, entah kenapa, semenjak duduk di bangku kuliah, aku semakin tertarik untuk mendalami seni. Apalagi, aku ikut UKM Teater yang adalah salah satu UKM seni di ITS.
Sejak saat itu, lambat laun sesuatu yang tidak kasat mata membuatku jatuh cinta kepada kesenian nusantara. Ada sebuah keterkaitan di dalamnya. Tapi entah apa. Hanya merasa terpanggil untuk mempelajari atau melestarikannya. Malah, ada salah satu temanku yang heran kenapa aku nggak masuk sekolah kesenian seperti STKW, IKJ, atau ISI. Nah, dari situ, salah satu cita-citaku adalah menjadi seniman. Insane.
Kenapa jadi membahas ketertarikan ku sama seni ya?
Wayang wong. Atau dalam bahasa indonesia adalah wayang orang. Yang aku tahu sih, wayang orang itu seperti wayang kulit, tapi yang main adalah orang. Kalau masih belum mengerti, silakan klik Wayang Orang versi Om Wiki.
Beberapa bulan yang lalu, ketika survey untuk salah satu acara, aku datang di tempat yang biasanya mementaskan wayang orang. THR. Belakang Hi-tech mall. Dan apa? Sooooo oldskooooool. Aku tak bisa untuk tidak jatuh cinta. Dan Alhamdilillah, hari minggu kemarin (20/1), aku dan teman-teman teater Tiyang Alit diberi kesempatan untuk melihat pementasan yang keren ini.
*ini sorenya, sebelum pementasan.
*dari dalam. panggung pementasan | tulisan di atas ketika akan keluar dari gedung pertujukan
Malamnya, sekitar pukul 8, aku dan teman-teman berangkat dari markas menuju THR. Sampai sana, disambut oleh sebuah tarian di dalam gedung sebelum pementasannya dimulai. Sayangnya, aku nggak tau itu tari apa :(
*penarinya. Sayang udah ibu-ibu bukan anak muda yang harusnya melestarikannya :(
You know whaaaat?? Mereka masih memakai OHP. Oldskooooool ♥♥♥♥♥
*The Cast :33 ♥♥♥
♥ ♥ ♥
Aku sih nggak tahu detil bagaimana ceritanya. Kata temenku yang tahu banget tentang pewayangan, ini ceritanya tentang Gatot Kaca yang ditatto. Dalam bahasa indonesia, Rajah artinya Tatto. Tapi sama saja, alur ceritanya aku nggak ngerti. Karena dalam dialognya pakai bahasa jawa yang aku nggak ngerti. Ngertinya cuma dikit sih, kalau mereka lagi ngomong bahasa jawa yang kromo. Tapi, meski bagitu, ini bikin rasa penasaran dan cintaku terhadap kesenian Indonesia bertambah ♥
Ini adalah layar ketika pementasan selesai. Harus kuakui, mereka benar-benar keren. Yang bikin aku terkesima adalah lighting ketika habis. Keren abis. Sayangnya, nggak ketangkap kamera :( Jangankan ketangkap kamera. Oleh ingatanku saja tidak. Otakku baru memerintahkan kepada mataku untuk merekamnya dalam ingatan setalah aku baru saja sadar kalau lightingnya keren banget. Bisa kebayang nggak cepatnya kayak gimana? Hanya beberapa detik, dan aku sedang lemot karena terkesima. Hahaha.
Kurang lebih seperti diatas. Ada warna lampu warna-warni yang seolah-olah disorot dari belakang badan mereka, sehingga memancarkan cahaya yang indah. Yah, seperti itu lah. Kalau penasaran, silakan lihat sendiri di gedung Taman Hiburan Rakyat (THR) yang letaknya di belakang Hi-tech mall. Gratis kok. Recomended banget untuk kalian yang lagi bokek tapi ingin lihat sesuatu yang berkualitas. XXI lewat.
Memang sih HTMnya tidak selalu gratis. Kadang, mereka menarik biaya. Nggak sampai menguras dompet kok. Cukup 5ribu rupiah saja. Atau malah bisa kurang dari itu. Murah, kan? Selain murah dan gratis, kalian juga bisa beli rokok di luar gedung pementasan yang dibungkus dengan kertas yang bisa ditulisi untuk request tembang jawa kepada mereka ketika sedang 'adegan santai' dan tembang yang kalian minta bisa langsung dinyanyikan! ♥
Ajak temanmu yang belum mengerti apa-apa tentang kesenian Wayang Wong ini, dan buatlah mereka jatuh cinta. Ajak pacar atau gebetan sebagai kencan yang paling romantis, murah dan mendukung kesenian lokal. Eits, di dalam nggak boleh macem-macem lho yaaa. Kalau aku sih, akan ngajak Yang Kung, dan mendengarkan beliau nembang dan keplok-keplok di sampingku. Sayangnya, Yang Kung nggak disini :(
Usulku sih, sebelum masuk ke gedung, coba beli camilan asik seperti kacang rebus untuk menemani kalian. Dijamin, kalian akan mendapatkan malam yang berkualitas :3
Apresiasi kita terhadap kesenian tradisional seperti ini adalah honor paling mahal buat mereka lho. Mereka seneng banget kalau yang nonton adalah anak muda. Dan, kalau kita hanya bisa mengapresiasi mereka, tidak bisa berpartisipasi untuk tampil menjadi salah satu tokoh dalam wayang orang, itu tidak mengapa. Toh apresiasi kecil dari kita adalah sebuah semangat yang luar biasa untuk mereka. Juga akan berpengaruh besar untuk Indonesia :))
Yuk, lihat ini. Bintang tamunya Topan. Baru saja sadar kalau Topan ini adalah salah satu seniman favoritku, biasanya berpasangan dengan Alm. Leysus yang dulu main di Ketoprak Humor, dulu tayang di RCTI setiap Sabtu jam 9 atau jam 10 malam. Nggak pernah terlewat.
So you guys, mari lestarikan kesenian daerah yang nggak kalah keren ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? :)
ps : Postingna ini bikin saya kangen sama Yang Kung :(
Subscribe to:
Posts (Atom)




























