Sunday, 6 July 2014
Keinginan yang Lain
Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteer, founder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.
Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.
Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.
Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".
Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.
Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.
Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.
Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.
Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?
Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.
Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.
Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.
Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.
Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.
Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.
Aamiin..
Wednesday, 29 June 2011
Erngo
Dengan langkah mirip Charly Caplin, ia mendekati Rara dengan senyum dan tautan alisnya. Rara meloncat kecil, emosinya membuat sudut bibirnya tertarik ke samping. Reo sumringah menangkap itu dengan kameranya. Reo tidak perduli dengan bola mata pemain pantomim itu yang melirik keduanya dengan tatapan yang bermakna.
Setelah berada tepat di depan Rara, ia memiringkan kepalanya, mengerutkan dahinya, menyipitkan matanya, dan sedikit memajukan bibirnya, bertanya kepada Rara apa yang membuatnya melengos.
Rara menggeleng, tersenyum. Pemain pantomim itu senang. Ia mengulurkan tangannya ke belakang telinga Rara, kemudian kembali dengan segulung kertas. Rara kaget, ia meraba telinganya. Ia tidak menyimpan apapun disana. Pemain pantomim itu membuka gulungan di depan muka Rara dengan jemarinya yang tipis.
Erngo. Reo menangkap nama itu. Pemain pantomim menjulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
Rara membalas uluran tangan itu, “Rara”.
Erngo menjentikkan jarinya. Menemukan ide baru. Tangan kanannya berlari ke punggung Reo. Sekuntum mawar dari sana. Erngo memberikan mawar itu kepada Rara. Rara tersenyum, memperhatikan sudut mata Erngo yang menyiratkan bunga itu dari lelaki di sampingnya. Rara melirik ke arah Reo.
“Tidak.” Reo menggeleng.
Erngo meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh keduanya diam. Erngo melirik Reo. Telapaknya di dekatkan ke telinganya, mendekatkan telinganya ke dada Reo, sedikit membukuk. Kedua tangan Erngo membetuk hati, menggambarkan dada Reo yang berdegub.
Rara meringis. Wajah Erngo menggemaskan. Tersenyum nakal dengan mata yang meyakinkan kalau tangannya tidak salah. Alisnya terangkat sebelah setiap kali tangannya berdetak. Semakin lama semakin cepat.
Tangan Erngo berpindah ke dada Rara. Tidak sedekat Reo memang. Tapi tangannya berdetak lebih cepat. Rara heran. Erngo benar. Tak lama, ia kembali berdiri tegak. Menggeleng, seakan tahu dengan apa yang keduanya belum lakukan. Erngo bergantian menatap Rara dan Reo, mengajak mereka menatapnya. Erngo membentuk hati sebesar yang ia bisa. Mata Rara dan Reo mengikutinya.
Plok. Erngo menepuk tangannya. Rara berkedip. Reo meletakkan kameranya di tangan kanannya. Berhenti memotret. Reo mengerti.
Erngo menyikut perut Reo, mengangkat kedua alisnya secara bersamaan, meringis, menampilakan sederet giginya yang tak kalah putih dengan cat di wajahnya, kemudian pergi, tetap dengan langkah Charly Caplinnya.
“Mana mungkin jantung kita berdetak secepat itu?” tanya Rara setelah tidak menemukan punggung Erngo.
“Iya, Erngo salah. Tadi jantungku lebih cepat berdegup dari jantung yang digambarkan Erngo milikmu tadi”.
“Apa?” Rara tak mendengar ucapan Reo.
“Sini”, Reo meraih tangan Rara, menempelkan ke dadanya.
Dug. Dug. Dug. Rara seperti meraba degupan jantung seorang pelari marathon setelah berlari jauh. Cepat, pasti. Tapi yang ini lebih tak terkendali.
“Aku tak bisa menahannya untuk berdegup lebih pelan,” bisik Reo.
Rara tak berkedip. Napasnya berhenti. Jantungnya memompa. Tidak, jantungnya tidak lebih stabil daripada milik Reo.
Reo menagkap keramaian lagi. Kali ini di stage tak jauh dari tempat mereka. Reo menggenggam tangan Rara yang masih tertempel di dadanya menikmati degup jantungnya yang semakin memburu, menariknya, mengajak ke keramaian itu.
“Mocca, Ra,” ucapnya datar.
Rara membiarkan tubuhnya terbawa oleh arus manusia yang memusat ke sebuah sudut.
Aku juga, baatin Rara. Reo mendengarnya?
Tuesday, 14 June 2011
Friday, 6 May 2011
Jo, Di, Zee. Sore, Mahameru dan Edelweis.
Monday, 2 May 2011
♥
Untuk seseorang yang tidak memerlukan kamus agar aku mengerti apa itu bahagia.
Cukup bersamanya.
Kau.
Wednesday, 13 April 2011
Nawaitu. Move on
Tuesday, 1 March 2011
Cuplikan Espresseidon
Monday, 31 January 2011
The man behind this project
He’s not my boyfie. Just friend. Yeah, friend *sighing*. But I lo*e him. Not too much.
Intinya, dia sangat berpengaruh dalam project saya ini.
Dia tidak memberi aba-aba layaknya aku ini bawahannya.
Justru yang dia lakukan ketika memberikan idenya adalah dengan berkata-kata :
“gimana kalo blahh.. blahh.. blahh..”
Dia itu mengusulkan. Tidak bermaksud merusak chemistry di tulisan saya. Great.
Tidak berkata-kata “you can did it” ketika aku mulai malas menatap layar laptop.
Dia malah berkata “look at you clock. what time is it? It’s time to go to bed, hug your silly pillow, and smell it”. Haha
Dia tidak pernah sok tahu dengan karakter yang aku buat. Karena dia tahu aku harus berbuat apa.
Dia selalu bertanya apakah aku sudah melakukan “re-read?”. Bukan “print it, give it to me”.
Ketika di telepon, yang ia tanyakan bukan perkembangan project saya. Justru yang ia tanyakan adalah “how’s today? Are they give you an idea, or big idea?”
Dan lucunya, ketika aku mencerikatakan karakter dalam tokoh novelku adalah menjiplak dari sifat salah seorang temanku dan persis, dia malah tertawa. Dia setuju! Kalau saja dia disini, pasti jempolnya menutupi pandanganku.
Ketika saya jatuh dan benar-benar jatuh, tahukah kau apa yang dia bisikkan dalam telepon? “close your eyes, bayangkan jingga di senja yang mulai padam beralih menjadi pekat malam dengan gemintang nan anggun”. And I did it, and got it.
Atau terkadang, dia selalu mengingatkan saya menatap langit pada hari itu, agar saya tidak bisa membenci langit meskipun ia mendung, dan itulah yang membuat saya mendapatka ide!
Ah, aku juga ingat, dia merasa keren ketika berdehem.
Aku? Aku merasa keren ketika aku menyibakkan rambutku, dan menutup mulut.
Ah ya, once again, namanya aku cantumkan di salah satu tokoh di(calon)novelku. Sedikit aku hilangkan hurufnya. 2 huruf. Huruf yang sama.
Thanks, Go haha. (his name isn’t Go. Juga bukan Dul haha)
Ps : otp w/ him <3. Oh, he’s laughing when I read it.
30012011, 11:11 pm
Thursday, 18 November 2010
dear b,
"Teh Dissa, sampai di Indonesia, kita nikah ya"
:p
Sunday, 22 August 2010
♥
Friday, 25 June 2010
tentang aku, Rara
namaku Danira Andromeda. you can call me Rara. banyak yang harus kuceritakan. me, Luna, and 'him'. yeay!! lets talk with me ya.
aku sih masih kelas 12. ehm, sebenernya sih baru masuk di kelas 12. tapi, kan udah resmi naik di kelas 12.
yayayay, abis ini Luna's Birthday!! mau ngasih apa buat dia? udah ada rencana dong ah.
oh iya, Luna? Luna itu bestku. teman yang paling nggreget. gue sih kan orangnya pendiem. cuma cerewet kalo nulis. nah Luna? dia orang yang bisa bikin aku ketawa. oh, gimana ya.. tak bisa didiskripsikan.
dia keturunan bangsawan. namanya Rr Luna S. D. agak panjang
sih namanya. aku apal sebenernya, tapi dia nggak suka nama kebangsawanannya itu ditunjukkan."just Luna."
gitu katanya. dia punya life yang jauh lebih baik lah daripada aku. helloo. dia bangsawan men! apa sih yang gak dia dapet?
envy sih kadang. tapi buat apa? heyhoo~ pertemanan tidak didasarkan atas harta kan?
oke, my life? ibuku cuma istri seorang bapak yang nggak pernah pulang ke rumah. nenekku janda dari TNI. thats why aku benci banget sama lelaki. bukan benci sih, tapi agak takut. ya begitulah~
oh iya, aku tinggal di Surabaya lhooo. haha.
Sunday, 30 May 2010
siapa Reo?
tuhan, siapa Reo?
siapa dia?
apa dia hanya datang di mimpiku?
kalau itu yang terbaik buat aku, aku terima, Tuhan.
terimakasih Reo-Mu.
terima kasih :')
#CeritaRara on Twitter
- sepertinya cerita rara, luna, ian dan asep gak aku tulis di blog. tapi bagian rara, reo, luna, TULIS! #CeritaRara about 7 hours ago
-
- nulis #CeritaRara ahh about 10 hours ago
-
- tak pikirpikir, #CeritaRara iki ada bagian yg #sosweetbingombal about 23 hours ago
-
- aku belum pernah menemukan orang seperti Rara. dia unik :)- Luna #CeritaRara about 23 hours ago
-
- lg pengen maen #CeritaRara lagi :p about 23 hours ago
-
- Ra, kau memang tak seindah bulan atau tak secantik Luna. tapi kau indah dan cantik dengan caramu sendiri- Reo #CeritaRara about 23 hours ago
-
- dan Rara Reo jadian. tapi tetep tanpa sepengetahuan Luna. #CeritaRara 2:53 AM May 28th
- oke, tb" Reo sm Rara mulai smsan, telfon"an, jalan. tanpa sepengetahuan Luna. #CeritaRara 2:37 AM May 28th
- "seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya kita berdua bertemu" #CeritaRara 2:35 AM May 28th
- eh Rara sm Reo kenalan deh lwt Luna. tapi Luna ngasih 'celah'. soalnya Luna suka sm Reo. #CeritaRara 2:33 AM May 28th
- Reo ketemu Rara di suatu acara. keduanya sm" filtring. dan ternyataa mereka sm" kenal Luna. #CeritaRara 2:31 AM May 28th
- oh iya, Reo itu shbt dr sepupunya Luna. #CeritaRara 2:28 AM May 28th
- Luna suka ngetawain Rara kalo Rara disukain/nyukain cowok. #CeritaRara 2:26 AM May 28th
- tapi tb" Reo dateng kok di hidup Rara. tapi Luna gaksuka Rara kenal Reo #CeritaRara 2:22 AM May 28th
-
- Luna itu sahabat Rara. dia famous. Rara suka, tapi kadang" enggak. #CeritaRara 2:18 AM May 28th
- Reo itu cowok yang cm ada di pikiran Rara. dia nggak nyata. #CeritaRara 2:16 AM May 28th
- #CeritaRara <- konsepnya cuma bagian" dr hdup Rara. kayak diary, sms, etc. 2:02 AM May 28th
- #CeritaRara itu projectku. semoga bs sampe abis. 9:23 PM May 27th
- "aku bahagia punya mas Re", Ra #CeritaRara 9:22 PM May 27th
- "aku punya Luna. tapi untuk apa dia? aku hanya punya. aku tak merasa dia sahabatku" #CeritaRara 9:17 PM May 27th
- maen #CeritaRara ah 9:14 PM May 27th
- "memiliki Ra, seperti mendapat amanah untuk membahagiakan dan menjaganya", Re. #CeritaRara 9:12 PM May 27th
Tuesday, 18 May 2010
my inspiration
dari sekian banyak tulisan, banyak diantaranya mengandung inspirasi tersendiri. antara lain :
kaca
kenapa kaca? karena, setiap
adek gue
bukan karena adek gue njengkelin ato gimana. "euforia" mereke menjadi anak kecil. itu yang pengen gue deskripsiin (?). hem, lebih tepatnya, gue nulis tentang kebahagiaan.
ibu gue
nah. she's my best inspiration. semua dari beliau bisa di jadikan inspirasi gue. dari cerita beliau tentang murid"nya yang (sorry) kurang mampu. trus cerita masa kecilnya yang sederhanaa sekali. erita tentang kakek gue yang nggak mau jadi wali di nikahannya ibu. banyak. semua itu nggak cukup deh kalo gue jadiin beberapa buku. my mom, i love you. beliau sering ngasih quotes yang bisa jadi pelajaran buat gue. Ibu. gue nggak tau mulai dari mana gue deskripsiin.
cerita seharian gue
nah, bukan dari kaca. ini misalnya gue jatuh kepleset, ato kejedot apa, tiba-tiba.. ziuuung cling ide muncul. idk yaa.
cerita bestong gue.
nah gue nggak tau kenapa. tapi, sampe sekarang gue nggak pernah nulis kok
oke, nggak lah. mana ada gue pacar. gue jomblo 17 tahun 2 bulan satu hari. ya-ya-ya.
oke apa lagi gue lupa. tapi, yang BIG INSPIRATION is MY MOM unyuu :3
Sunday, 6 December 2009
my inspiration :))
I can't understand
Why my world keeps on turning?
And I can't understand
Why the sun keeps on shining?
When you left me all alone
But I do understand
That you have someone better
And I can't understand
That you saved me for later
I can take it I will wait
All that I need now
Is for the rain to fall from the sky
To wash away my pain inside
All that I need now
Is for the rain to fall from the sky
The rain will fall
The rain will fall
RAN, rain, Rani, Rian. semuanya R!! dan yang aku cinta pake hati cuma :
RAN and rain
Rani juga suka. tapi sebagai suatu tokoh di cerpen. bagus buanget karakternya. lucu gimanaa gt. hm. Rian? hm. masih inget PSK by RAN? for him! haha. bukan si Rian sepupuku. aku mah sayaaang sama Rian P. si sepupuku itu. tapi kalo si Rian yang ini.. eh bukan Rian yang di cerpen ini. aku suka malah sama Rian tokoh di "nyanyian hujan". tapi Rian yang di PSK : moh ah. hm sorii :)
GANTENG? haha. dia juga masuk di cerpenku kok. tapi maaf aku plesetin namanya. dari huruf U ke A. ha sebodo amat. judul cerpennya : "Mimpi, Rania?" si Ganteng karekternya keren kok. like my prince charming! walau nggak seutuhnya dia mirip buanget sama prince charmingku di postinganku seelumnya. tapi..
I HEART HIM! ILOVE HIM!
tau kan yang dia-HIM di postingan gw sebelumnya? itu buat si GANTENG.