Saturday, 31 December 2011
In Love
Monday, 12 December 2011
Iseng, tak da kerjaan.
1. Siapa yang ada di background handphone kamu? Nama saya pake aksara jawa
2. Siapa orang terakhir yang kamu sms? Nirmala / Iqbal. Lupa
3. Siapa orang terakhir yang kamu bbm? Bapak biasanya suka pindah2 kalo isi BBM
4. Siapa orang terakhir yang kamu telpon? Bapak
5. Siapa orang yang sekarang ada di sebelah kamuuu? Kursi
6. Siapa temen kamu yang baru aja ulang tahun? Haqqul
7. Siapa sih temen yang setiap hari kamu ajak ngobrol? Izio. Potpal kesayangan.
8. Kenapa dia? Dia makhluk yang nggak punya telinga. Sekalian aja gitu.
9. Kalo kamu punya duit 100rb, kamu mau traktir siapa dan apa? Seseorang, beliin sarapan bubur ayam. Gaaah
10. Siapa temen kamu yang pernah bikin kamu nangis? Lupa. Ya, namanya lupa
Tentang Kamu :
11. Kebiasaan kamu yang patut ditiru orang lain apa sih? Ehm, pinter ngeles, dan pinter bikin quotes
12. Kalo kamu mau ngupil bilang-bilang dulu ngga? Enggak. Takut semuanya ikut merasakan nikmatnya ngupil
13. Biasanya kamu buang upil kemana? Mulut. Gue lempar setinggi langit.
14. Apa sih kebiasaan buruk kamu? Lupa kalo punya kebiasaan buruk
15. Bunyi kentut kamu biasanya gimana sih? Tergantung sikon. Aku punya trik untuk menyembunyikan kentut.
16. Binatang apa sih yang menggambarkan kamu bangedh? Kuda Liar. Sulit dikontrol
17. Alat musik yang bisa kamu mainin? Harmonika. Itupun nggak bisa. Intinya, nggak ada.
18. Biasanya mandi berapa kali sehari? Tergantung sikon
19. Benda dari seseorang yang sampe sekarang masih kamu simpen? apa? dari siapa? Kaledoskop, dari Asma, dari jepaaang meeen
20. Benda yang lagi kamu pengenin banget? Banyak. Dan rata2 semuanya bikin -__-
Tentang Sekolah / Waktu Sekolah :
21. SMP/SMA mana? (pilih salah satu) SMK Farmasi Sekesal Surabaya
22. Nilai paling bagus pelajaran apa? Matematika.
23. Kalo jajan ke kantin beli apa? Lolipop kalo ada
24. Berapa uang jajannya waktu itu? Lupa. Sekolah jaman kapan ya?
25. Pernah jadian ngga waktu itu? sama? Dikosongi.
26. Guru yang paling kamu benci? kenapa? Pak Dam. Geje.
27. Pelajaran yang paling kamu ngga suka? IPS -___-
28. Siapa temen kamu yang paling aneh di kelas? kenapa? Bibir jongor. Tukang kibul
29. Gebetan kamu waktu itu? Perlu disebutkan? Septian Bagus Wicaksono.
30. Yang paling kamu kangenin dari sekolah? Semuanya. Setiap sudut.
Tentang Si Dia :
31. Gebetan / Pacar? Gebetan
32. Siapa tuh namanya berani sebut ngga? Inisial yah. R.
33. Kenal dimana? Nggak bisa di diskripsikan. Mbulet. Mirip donat.
34. Tau makanan kesukannya ngga? Enggak.
35. Kira-kira dia lagi ngapain ya sekarangg? Tidur. Kasihan nggak tidur selama beberapa hari.
36. Kenapa sih kamu suka sama dia? Karena..
37. Dia unyu banget kalo lagi ngapain sih? Langi ngacak-ngacak rambutnya yang dulu masih agak-gondrong. Sekarang cepak begeteek :(
38. Lagu yang kamu dan dia banget? Belum terpikirkan
39. Terakhir kali ketemu dia kapan? dimana? Seminggu yang lalu, 3 Desember. Di belokan..
40. Pengen banget pergi kemana sih sama dia? Ke rooftop atau pameran seni aja cukup
Tentang lain-lain :
41. Pengen banget bisa ngelakuin apa? Nggambar
42. Pengen banget pergi ke negara apa? Yunani
43. Sesuatu yang pengen banget kamu punya/beli? Polygon Heist 4.0
44. Pekerjaan impian kamu? Penulis
45. Artis favorit kamu? Apa ya~
46. Kalo skrg kamu bisa ketemu sama siapa aja, pengen ketemu siapa? Dia
47. Orang pertama yang kamu follow di twitter? Lupa
48. Benda kesayangan kamu yang ilang? Lupa
49. Sesuatu yang kamu jago banget ngelakuinnya? Nulis. Dan nggak mandi selama..
50. km cantik gk ? Huumbh
Tuesday, 15 November 2011
Nina boo
Sunday, 13 November 2011
Tuesday, 8 November 2011
Berkarya
Judul postingan kali ini terbaca agak-enggak-banget, ya?
Kadang, ada sebuah masa dimana aku sendiri stuck banget buat nulis. Entah karena di otak lagi nggak ada imajinasi tapi kata-kata menggunung dan menghasilkan ocehan-ocehan yang nggak tertata, atau pas ada imajinasi, kata-kata nggak ada, atau yang lebih parah lagi, dua-duanya nggak ada. Nggak ada imajinasi, nggak ada kata-kata yang tertata dan tercipta. Hhh.. enggak banget. Kalo gini, aku bilang STFUCK. Aku tulis gede-gede di buku. Dan hasilnya? Banting cover buku, atau kalo lagi ngadep laptop, aku main solitaire.
Aneh? Iya lah. Bete apalagi.
Dan ketika ngejar dead line (selama ini tulisanku nggak ada deadline. Oke, anggap aja ada.), yang kulakukan adalah maksa otak buat mikir, nyiptain kata-kata.. dan taraaaa.. GAGAL.
Kalo kata orang, "inspirasi itu dicari, mood itu bisa dibikin" Setuju. Sangat setuju. Biasanya, aku manggil inspirasi dan mood itu 'Nyawa'. Eh, ini bukan nyawa-nya manusia, loh. Ketika aku butuh 'nyawa', yang aku lakukan adalah memenggal kepala orang, memindahkan ruhnya ke botol, kemudian pada jam tertentu, botol tersebut diencerkan dengan pelarut ruh, dan diminum. Er, barusan bisa dijadikan IDE!!
Nyawa yang dimaksud biasanya adalah.. dengan ngasih 'seneng' buat hati. Entah itu lihat langit, entah itu melihat gerimis membasahi kaca, merasakan hujan menggelitik puncak kepala ketika tubuh seutuhnya sedang dinaungi oleh payung, atau bahkan membuat percakapan tidak langsung dengan dia, melihat dia ketawa, senyum kepada mataku... Yak, jangan menye.
Kalo sudah begini, tinggal ditambahin angin (masuk angin), mood dan inspirasi langsung memanas! Bisa-bisa nulis nggak ada berhentinya. Dan hasilnya? Tada.. sedikit memuaskan.
Aku seneng kalo beberapa temen-temen bilang kalo aku ada bakat nulis. Seneng banget malah. Artinya, mereka selalu mengapresiasi karya-karyaku, atau bahkan hanya dari caraku berbicara, mereka tahu. Keinget deh tanggapan salah satu temen kalo dengerin kalimat-kalimat yang terlontar di bibir dan terdengar ngelantur. Apa? Cukup aku, dia, beberapa orang, dan semesta yang tahu. Yang penting, itu salah satu alasan yang bikin semangat nulis.
Dan..
Berkarya itu sebuah proses mencipta dan menghargai
Quotes yang ditemukan beberapa hari yang lalu. Dan di mantapkan ketika sedang melihat/menikmati pertunjukan Teater Tiyang Alit (UKM Teater ITS). Disitu, aku jadi penerima tamu dan ikut bantu-bantu sedikit. Rasanya bagaimana, Jun? Kalau ditanya ini, jangan suruh aku untuk mendiskripsikannya. Karena cukup aku, mereka, semesta, dan Tuhan yang tahu. Kalau ingin tahu bagaimana rasanya, silakan masuk teater. Dijamin betah! Tergantung dari kadar kebetahannya sih. Kalo buat aku, yang kalo betah bisa nggak ketulungan sampe kapan disana, dan kalo nggak beteh langsung ngomong, 'AKU NGGAK BETAH!!', bisa dilihat, kan?
Balik ke pementasan. Yang bikin aku berdecak adalah tamunya! Memang, tamunya bukan Sudjiwo Tedjo, Butet Kertarajasa, atau Djaduk Ferianto. Tapi, salah satu tamunya yang bikin aku kagum itu berasal dari Teater dari UniBraw (Universitas Brawijaya)! Aku lupa apa nama teaternya. Tapi.. MEN!! Sangar, kan? Hujan-hujan, jauh-jauh. Bisa kebayang nggak? Kebayang mereka datang jauh-jauh untuk memenuhi undangan dan mengapresiasi karya saudaranya.
Dan, ketika ngelihat keakraban mereka satu sama lain, sama tamu-tamu lain, ada atmosfer baru yang aku rasakan. Apa itu? Keluarga baru. Apa lagi pas makan tumpeng bareng-bareng. Un.. apa yah? Tidak bisa didiskripsikan, kecuali kalian menikmatinya sendiri.
Cerita diatas memang singkat. Singkat banget. Tapi, kalo kita coba tarik stabilo, dijamin nggak ada yang di stabilo. Kenapa? Karena yang diatas cuma cerita yang menghantarkan kalian ke kesimpulan. Jadi, kesimpulannya? Kesimpulannya ada pada quotes di atasnya. Berkarya adalah proses mencipta dan menghargai.
Percuma saja punya karya banyak, seabrek, dan bagus-bagus, tapi dia nggak pernah mengapresiasi karya teman sebelahnya yang sehobi. Dan percuma saja dia terus menikmati, selalu dan selalu, tapi dirinya sendiri tidak pernah mencoba untuk membuat karyanya sendiri, karena kita tidak akan tahu sebelum kita mencoba.
Kalo aku sih, jujur, masih ada di golongan pertama. Tulisan nggak karuan, keteteran jumlahnya, tapi masih bungkam sama karya orang lain. Alesannya sih males baca. Padahal, alesannya adalah takut saingan. Dan, itu bukan yang dicari ketika kita berkarya, kan?
Aku yakin, seniman-seniman luar biasa akan menyebut karya seorang anak ingusan itu dengan nada yang luar biasa berlebihan ketika karya seorang anak ingusan itu memang benar-benar luar biasa. Dan, seniman-seniman luar biasa itu akan mengkritik sejadi-jadinya kepada anak ingusan yang mau mendengar celaan apapun dari hasil karyanya. Sportifitas. Belajar.
Positifnya, aku ini masih anak ingusan. Aku ini masih dalam proses belajar. Belajar buat nulis yang berdeadline, karena penulis yang nggak punya deadline adalah penulis yang nggak disiplin. Belajar buat ngonsep-ngonsep gagasan-gagasan dan ide-ide yang lebih luar biasa, karena penulis yang nggak punya konsep adalah penulis yang buta (disadur dari salah satu bacaan. Kembali, aku lupa namanya). Belajar untuk meghargai karya orang lain.
Belajar untuk lebih baik dari hari kemarin, tetapi jangan mencoba belajar jadi orang lain.
**
Rahmadana Junita. Surabaya, 8 Lovember 2011 4:10 amGalau kalkulus. Tinggal tunggu beberapa jam lagi UTS.
Sunday, 6 November 2011
Friday, 4 November 2011
Maaf.
Tuesday, 1 November 2011
Tuesday, 25 October 2011
Planet Imajiner
Thursday, 20 October 2011
Doa
Saturday, 15 October 2011
Abu
Lukisannya tak lagi sama.
Sembuaratnya hilang.
Gradasinya memudar.
Oranye berdalih.
Malam itu.
Garis keraguan diantaranya kini mulai jelas.
Debaran mulai membahana.
Menarikan tiap-tiap helaian hijau.
Dan menjadikan tumpuan hingar.
Aku meraja.
Menguasai.
Detik menginjak pusaran waktu.
Kelabumu.
Butiran air.
Tuesday, 11 October 2011
Bedakan
"Bisa dibedakan kok mana orang yang nggak pacaran karena prinsipnya nggak mau pacaran, yang nggak pacaran karena dia ngerasa aja nggak sreg, atau yang nggak pacaran karena nggak laku."
Saturday, 1 October 2011
Semesta
Wednesday, 28 September 2011
Satu-Dua-34
Dan semenjak tadi pagi, sering banget ketemu angka 34. Nggak tau pikiranku yang lagi sedang fokus banget ke 34, atau ada bisikan yang hebat di pikiranku untuk mikirin 34, atau malah semuanya menyuarakan 34, memberontak kepada mataku untuk meminta perhatian. Intinya sih sama aja. 34 sering muncul di depan mata.
Argh, angka ini emang bener2 nggak bisa dilupakan. Penggalan memorinya, kepingan jiwa yang tertinggal karena sudah dibawa 34. Oh ya, penggalan jiwa itu seperti ‘soulmate’ kali ya. Ehm, bisa diartikan ‘horcrux’-nya kita. Kalo salah satu penggalan jiwa hilang/musnah, kita mungkin bisa langsung kehilangan kekuatan kayak Voldemort.
Eh, 34 tidak membawa penggalan jiwaku. Iya, 34 itu merupakan penggalan jiwaku. Sekaligus patahan memori yang terlalu berharga. Terlalu mahal. Uang berapapun tak bisa membelinya. Jadi ngerasa kaya deh karena 34.
34. 34. 34. Dimanapun 34 berada, bagaimanapun cara 34 mengambil ‘mimpi’nya, aku akan maklum kalau 34 sedikit lupa dengan ‘Jun’ dan nama-nama lain. Tapi, ada sebuah keyakinan dalam hatiku, kalau patahan memori itu tidak akan hilang.
34, izinkan aku semakin merindu.
Your Jun.
Surabaya, 28 September 2011. 10:23 pm
Preketek tetettoet duntek-duntek teot teblung
Friday, 16 September 2011
Thursday, 8 September 2011
Satu Menit dan Sekarang
Aku tersenyum kecil. Sekarang aku menikmati bagaimana tak hanya kepalanya yang bersandar di pundakku. Aku tahu sebagian tubuhnya itu hanya sebuah perwakilan dari semuanya. Sekarang aku melihat wajahnya yang diam, menyembunyikan kata-kata yang tak terhingga. Sekarang aku merasakan bagaimana tidak hanya napasnya saja yang menyelingi sela-sela udara yang aku hirup, tetapi juga segala sesuatu tentangnya. Sekarang aku tahu melewati umpatan-umpatan kecil di pesan yang ia kirimkan, ia tidak pernah meninggalkanku tentang apapun yang menyerbunya.
Sekarang.. atau entah sampai kapan nanti aku mencintainya. Tidak dengan waktu. Tidak dengan kata-kata. Tidak dengan tawa. Tidak dengan segalanya. Dengan apa? Entahlah, aku juga tak tahu. Cukup merasakannya berada disini, dan ia mengetahui aku ada, rasa itu tetap sama. Dan aku tahu, ia selalu begitu.
Monday, 5 September 2011
Ikan.
Thursday, 18 August 2011
Kepada Senja yang Terhormat
Monday, 15 August 2011
Kemana saya?
Thursday, 4 August 2011
Tentang Seseorang
Monday, 1 August 2011
August, August, Yourtober, Lovember, Desembre
Saturday, 23 July 2011
Saya masuk angin dan saya kehilangan suara.

Pada beberapa pagi yang lalu, saya menanyakan sebuah pertanyaan kepada seorang lelaki. Pertanyaan sederhana. Normal. Saya tidak menanyakan hal pribadinya. Hal umum. Siapapun boleh menanyakan hal ini kepadanya. Tapi ada yang berbeda ketika dia menjawab.
Monday, 11 July 2011
Meminjam Sore
Meminjam Sore
Hujan bercanda mesra dengan bumi. Suaranya riang, diiringi teriakan anak jalanan menawarkan ojek payung dengan harga seribu perak. Sekalipun mereka tak mendapat satu atau dua penumpang, tak ada satupun yang berani melarang mereka berlarian kesana kemari tanpa payung mereka di tenga hujan yang ramah ini.
Jecorz ramai. Diisi dengan manusia yang selalu merasa nyaman berada di dalamnya. Setiap kali aku melihat ke dalam café itu melewati jendela kacanya yang besar, aku hanya melihat orang-orang yang tak menantikan hujan reda. Setidaknya hari ini.
Jarum menit sudah berputar hampir sepertiganya. Lelaki itu tak juga datang. Kami sering seperti ini. Menyengajakan pertemuan di tempat yang sama dengan pertemuan pertama kami setengah tahun yang lalu. Jecorz. Bedanya, sore itu ia datang dengan sebuah waktu yang pasti. Tidak terlambat, tidak juga terlalu awal.
Aku ingat waktu itu kepalaku tiba-tiba memutar ke arah pintu masuk saat loncenh yang sengaja di pasang di ujung pintu berbunyi. Aku menangkap lelaki bertubuh sedang mengenakan kemeja biru muda rapi lengkap dengan celana bahan dan sepatu pantofelnya yang mengkilap. Badannya tegap. Tangan kanannya memegangi tas yang ia selempangkan di sisi kanannya, dan tangan kirinya menenteng map yang berisi jejalan kertas-kertas yang berisi tulisan. Sesaat itu pula aku hanya melengos biasa dan kembali ke buku di depanku yang sudah ku baca berulang-ulang. Buku lama yang termasuk langka.
Halaman berikutnya baru ku buka, dan aku masih belum bisa terlarut lagi dalam kata-kata si penulis. Aku terus saja mengagumi buku itu. Buku yang sudah lama aku beli. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana indah dan kejamnya sore. Hanya satu sore, dan penulis menjabarkannya hingga banyak yang berprasangka berbeda pada sore.
Masih satu kata di awal halaman itu. Seseorang menjawil pundakku. Aku menoleh. Belum aku menterjemahkan siapa lelaki ini, mulutnya sudah terbuka. “Maaf, ini meja favoritku”.
Aku tersenyum. “Ini meja favoritku juga.”
Ia berjalan ke sebelah kursi di depanku yang masih semeja. “Boleh aku duduk di sini? Ini kursi favoritku.”
Senyumku semakin lepas, berkeliaran menyeruak pipi, kemudian menyalak di mata. Lelaki itu, lelaki yang ku tangkap sosoknya tadi, memohon padaku. Aku mengiyakan, dan buru-buru berkutat kembali pada ‘Sore’-ku, menenggelamkan rasa gembiraku yang tiba-tiba mencuat di barisan kata-kata.
Lama. Aku tahu pesanannya sudah datang. Tapi tak sedikitpun dari mereka yang disentuh. Aku juga tak kunjung membalik halaman berikutnya. Aku masih berkutat di halaman yang sama, dan tidak membacanya. Aku seperti menunggu sesuatu.
Benar, ia menekan permukaan punggung tanganku yang memang sengaja mengarah padanya. Aku menurunkan bukuku, dan menemukan dirinya menopang dagunya sedikit membungkuk. Senyum maafnya tergaris di bibir. Aku berusaha tenang.
“Sore?”
Aku menutup bukuku. Sampulnya sederhana. Langit sore dengan matahari yang lelah dan langit yang meredup. Tak ada lampu kota yang mulai berpendaran. Semuanya tentang langit yang bisa menguasai bumi pada waktu itu. Di bagian depannya hanya tertulis satu kata : Sore. Bercetak tebal di tengah. Di bagian belakangnya hanya sepenggal paragraf yang mampu menggambarkan bagaimana ‘Sore’ ini dimata penikmatnya yang paling sederhana.
“Iya.” Aku mengangguk.
“Novel langka! Dari mana kau mendapatkannya?” tanyanya menggebu.
Aku tersenyum menyambut pertanyaannya dengat alis yang terangkat satu. Rupanya ia tahu buku ini. “Sudah lama aku mendapatkannya. Mengapa?”
“Boleh aku meminjamnya?”
Aku diam. Tidak menjawab izinnya. Otakku kosong. Tidak mencerna kata-katanya.
“Aku Rafdi,” ujarnya. Tangannya terulur menyambut tanganku untuk bersalaman dengannya. Ini yang kumau.
“Faina. Kau boleh memanggilku apa saja.” Aku membalas uluran tangannya.
Setiap orang yang kukenal memiliki panggilan tersendiri. Tapi ada beberapa dari mereka yang tidak mau memutar otaknya untuk mencari nama lagi untuk memanggilku.
“Fo. Boleh kupanggil nama itu?” Ia meminta izin lagi.
Fo. Aku tak pernah dipanggil seperti itu. Ia yang pertama memanggil itu. “Mengapa Fo?”
“Entahlah. Nama itu terasa unik saja di bibirku. Aku baru saja mengucapkannya tadi. Bagaimana? Kau boleh memanggilku apa saja. Biar kita impas.”
“Bagus. Aku suka.” Sekali. “Aku memanggilmu Di. Boleh?”
“Tentu saja,” ujarnya. Matanya tersenyum.
Dan setelah itu Di menyeruput minuman yang sudah lama dihadapannya tanpa memutuskan pandangannya padaku.
“Dari mana kau mengenal ‘Sore’?” tanyaku setelah melihatnya meletakkan mugnya, dan merapikan sisa minumannya pada tepi bibirnya.
Bibirnya terbuka, melontarkan sederet kata. Fasih. Di menceritakan bagaimana sore miliknya begitu indah. Sesekali aku memberi beberapa kata di percakapan kita. Semuanya tak bercelah. Mengalir begitu saja. Bahkan, ketika kita meneguk masing-masing minuman kita, kita tidak memberhentikan percakapan kita.
Di juga mencitai sore. Di sudah lama menginginkan buku itu. Di bermaksud meminjam ‘Sore’ milikku. Tidak harus sekarang, katanya. Ia harus menyelesaikan tugas akhirnya.
Terburu, Di menyuruhku mencatat nomor teleponku di selembar tisu yang ada di meja.
“Aku akan menghubungimu secepatnya. Sampai jumpa,” ujarnya terburu. Di berhenti sejenak untuk mengeluarkan telepon genggamnya, dan menyalin nomor teleponku. Dan pergi, meninggalkan senyum setelah menutup pintu pintu Jecorz.
Aku mengingatnya. Senyumnya. Sampai sekarang. Bagaimana tidak? Setelah aku meminjamkan ‘Sore’-ku, kita sering bertemu. Menikmati sore dari beberapa sudut kota. Ia tahu banyak ternyata. Hampir semua sore yang ia tunjukkan tidak kalah indah dengan tulisan di ‘Sore’ yang aku pinjamkan kepadanya.
“Maaf”. Di baru datang. Membawa payung ke hadapanku. Wajahnya penuh penyesalan. Di selalu membuat kesalahan tentang waktu. Aku tahu.
“Ze?”
Di mengangguk. Garis wajahnya jujur. Di tidak bisa berbohong kepada wanita manapun. Aku membalasnya dengan senyumanku. Menenangkannya. Kami lalu berjalan ke mobilnya. Dan melaju membelah hujan.
“Kita selalu seperti ini, ya?”
Setiap sore, kami bertemu di tempat yang sama. Di mengajakku berkeliling kota. Menghabiskan sore di antara kepulan asap kendaraan bermotor. Memperebutkan senja paling indah yang dimiliki jalanan dan gedung-gedung rendah. Sebagai ganti karena Di tak bisa mengembalikan ‘Sore’-ku. Di tak bisa memberikan alasannya. Lebih baik tak berkata apapun daripada harus berbohong, katanya.
“Sore selalu indah, Di”
“Maaf aku tak bisa mengembalikan ‘Sore’-mu”. Kalimat ini selalu terlontar dari bibirnya.
Aku tertawa. Meringankan rasa bersalahnya. Sesungguhnya, sore seperti inilah yang aku inginkan. Dengan mata, aku menikmati seluruhnya hingga matahari tak berpendar lagi. Bukan imajinasiku yang melihat sore yang diceritakan si penulis di ‘Sore’-nya. Sore selalu berbeda. Dan ‘Sore’ selalu sama dengan kata-katanya.
“Fo, aku mencintaimu,” ujarnya. Kalimat ini juga selalu terlontar dari bibirnya. “Sore ini berbeda. Tak seperti setengah tahun yang lalu. Sore setengah tahun yang lalu hangat. Mata kita bisa meraba awan-awan itu. Tapi sore ini berbeda, Fo. Tak ada awan”.
Itu janjiku. Aku akan menjawab pertanyaannya kepadaku kalau langit menyajikan sore yang berbeda. Aku tahu sore selalu indah di mata kami. Tapi hari ini tidak. Kukira hari ini mustahil ada, sehingga aku dapat dengan mudah berkelit. Sore benar-benar bosan dengan kecantikannya. Rona langit murung, pertanda bosan. Sejujurnya, aku mencintainya juga. Tapi..
“Ze? Bagaimana dengan dia?” Untuk pertama kalinya, kalimat ini keluar dari ujung lidahku.
“Ze sedang tugas akhir. Aku tak tega menambahi bebannya. Biarlah Ze lulus, kemudian kita akan menikmati sore hingga garis ajal. Kau setuju?”
Mobil Di dan lainnya berhenti di satu titik. Berjalan berimpit. Sesekali klakson meraung di luar mobil Di. Di tetap tenang. Aku tak ragu dengan kalimat Di barusan. Di selalu memberikan janjinya, meski harus terlambat.
Di sela-sela hujan, diiringi petir dan suara klakson yang berlomba meyakinkanku, aku masih ragu. Apakah Ze sanggup menerima berbagai alasan Di? Apakah Ze sanggup mendengar bahwa tunangannya yang sudah memberikan tiap sore yang indah kepadaku setengah tahun terakhir?
Ah, itu nanti saja. Yang ada di hadapanku hanya ada Di menatap serius ke arah guyuran hujan yang tak kunjung mau mereda.
“Baiklah”. Sore selalu indah sebagaimana mestinya.
Sunday, 10 July 2011
Aword

1. Setiap orang yang ditag harus juga mem-posting tentang 10 hal mengenai diri mereka masing-masing;
2. Harus memilih 5 orang yang akan ditag;
3. Kunjungi blog mereka dan beritahu mereka kalau mereka sudah ditag oleh kita;
4. Jangan tag balik atau jangan tag orang yang sudah memberikan postingan ini sebelumnya kepada kamu;
5. Selamat mem-posting!
Monday, 4 July 2011
Kakek
Seseorang yang tak pernah ditemui tapi begitu dirindukan.Kakek.
Saturday, 2 July 2011
Late post
Friday, 1 July 2011
June
Wednesday, 29 June 2011
Erngo
Dengan langkah mirip Charly Caplin, ia mendekati Rara dengan senyum dan tautan alisnya. Rara meloncat kecil, emosinya membuat sudut bibirnya tertarik ke samping. Reo sumringah menangkap itu dengan kameranya. Reo tidak perduli dengan bola mata pemain pantomim itu yang melirik keduanya dengan tatapan yang bermakna.
Setelah berada tepat di depan Rara, ia memiringkan kepalanya, mengerutkan dahinya, menyipitkan matanya, dan sedikit memajukan bibirnya, bertanya kepada Rara apa yang membuatnya melengos.
Rara menggeleng, tersenyum. Pemain pantomim itu senang. Ia mengulurkan tangannya ke belakang telinga Rara, kemudian kembali dengan segulung kertas. Rara kaget, ia meraba telinganya. Ia tidak menyimpan apapun disana. Pemain pantomim itu membuka gulungan di depan muka Rara dengan jemarinya yang tipis.
Erngo. Reo menangkap nama itu. Pemain pantomim menjulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
Rara membalas uluran tangan itu, “Rara”.
Erngo menjentikkan jarinya. Menemukan ide baru. Tangan kanannya berlari ke punggung Reo. Sekuntum mawar dari sana. Erngo memberikan mawar itu kepada Rara. Rara tersenyum, memperhatikan sudut mata Erngo yang menyiratkan bunga itu dari lelaki di sampingnya. Rara melirik ke arah Reo.
“Tidak.” Reo menggeleng.
Erngo meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh keduanya diam. Erngo melirik Reo. Telapaknya di dekatkan ke telinganya, mendekatkan telinganya ke dada Reo, sedikit membukuk. Kedua tangan Erngo membetuk hati, menggambarkan dada Reo yang berdegub.
Rara meringis. Wajah Erngo menggemaskan. Tersenyum nakal dengan mata yang meyakinkan kalau tangannya tidak salah. Alisnya terangkat sebelah setiap kali tangannya berdetak. Semakin lama semakin cepat.
Tangan Erngo berpindah ke dada Rara. Tidak sedekat Reo memang. Tapi tangannya berdetak lebih cepat. Rara heran. Erngo benar. Tak lama, ia kembali berdiri tegak. Menggeleng, seakan tahu dengan apa yang keduanya belum lakukan. Erngo bergantian menatap Rara dan Reo, mengajak mereka menatapnya. Erngo membentuk hati sebesar yang ia bisa. Mata Rara dan Reo mengikutinya.
Plok. Erngo menepuk tangannya. Rara berkedip. Reo meletakkan kameranya di tangan kanannya. Berhenti memotret. Reo mengerti.
Erngo menyikut perut Reo, mengangkat kedua alisnya secara bersamaan, meringis, menampilakan sederet giginya yang tak kalah putih dengan cat di wajahnya, kemudian pergi, tetap dengan langkah Charly Caplinnya.
“Mana mungkin jantung kita berdetak secepat itu?” tanya Rara setelah tidak menemukan punggung Erngo.
“Iya, Erngo salah. Tadi jantungku lebih cepat berdegup dari jantung yang digambarkan Erngo milikmu tadi”.
“Apa?” Rara tak mendengar ucapan Reo.
“Sini”, Reo meraih tangan Rara, menempelkan ke dadanya.
Dug. Dug. Dug. Rara seperti meraba degupan jantung seorang pelari marathon setelah berlari jauh. Cepat, pasti. Tapi yang ini lebih tak terkendali.
“Aku tak bisa menahannya untuk berdegup lebih pelan,” bisik Reo.
Rara tak berkedip. Napasnya berhenti. Jantungnya memompa. Tidak, jantungnya tidak lebih stabil daripada milik Reo.
Reo menagkap keramaian lagi. Kali ini di stage tak jauh dari tempat mereka. Reo menggenggam tangan Rara yang masih tertempel di dadanya menikmati degup jantungnya yang semakin memburu, menariknya, mengajak ke keramaian itu.
“Mocca, Ra,” ucapnya datar.
Rara membiarkan tubuhnya terbawa oleh arus manusia yang memusat ke sebuah sudut.
Aku juga, baatin Rara. Reo mendengarnya?
Tuesday, 28 June 2011
6 Indra
Friday, 24 June 2011
Sister
Saya tidak pernah jatuh cinta padanya. Tapi sayangnya, kita mencintai hal yang sama : menulis. Well, kita berdua masih belajar. Umur saya 18, dan umurnya sekitar 15 tahunan. Tapi kita merasa memilki kesamaan. Selain warna kulit kita lho -__- Saya heran. Apa nenek buyut kita mengidam sesuatu sehingga 2 cicit pertamanya memiliki kecantikan luar biasa dan beberapa kesamaan? Entahlah.
Sunday, 19 June 2011
Cemburu
Wednesday, 15 June 2011
Go A Head edisi Manusia Blur
Tau iklan rokok yang Go A Head yang manusia blur nggak? Pasti pertama kali lihat, mungkin kalian pikir “Ini iklan apaan sih” atau cuma bilang “hah?” dan yang pada intinya kalian nggak ngeh sama iklannya. Sama. Aku juga. Tapi, setelah iklan ini sering diputer dan dengan ending si manusia blur itu nggak blur lagi, aku jadi penasaran. Sepertinya memang ada artinya. Jadi, aku disni nyoba mengartikan iklan itu menurut pemikiranku. Enjoy..
--
Manusia kribo blur. Di iklan itu, rasanya hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Nggak ada artinya, nggak jelas, dan mungkin nggak dianggep.
Di bus, dia sendirian. Oke, sebagai awal iklan, mungkin ini sebagai pertanyaan. Kenapa manusia ini blur? Cuma sampai disitu. Aku yakin nggak ada pertanyaan ‘kenapa dia naik bus sendirian?’. Ya karena naik bus nggak perlu rame-rame, kan? Tapi disitu dia ngelihatin tangannya yang blur. Mungkin ini menunjukkan kalo iklan ini pengen ngelihatin si manusia blur. Dan sedikit pertanyaan ‘kenapa dia blur?’
Scene berikutnya. Pas dia papasan sama cewe yang matanya lihat ke depan, dan dia harus mepet ke mobil. Disini juga masih nunjukin kalo dia nggak dianggep. Biasanya, kalo ada dua orang yang berjalan berlawanan arah, dan mata dari keduanya lurus, salah satu atau bahkan keduanya beralih ke arah lain. Logikanya, si cewek nggak mungkin minggir ke mobil. Arah jalannya pasti jadi menjauh dari mobil, kan? Ini berarti, si cewek nggak perduli dengan apapun yang terjadi dengan manusia blur itu.
Benerin taplak meja. Sepele. Mungkin dari sini bisa dilihat kalo pas udah nggak ada kerjaan yang dikerjain. Dan seharusnya dia sama temen-temennya ngobrol-ngobrol ––meski nggak jelas apa yang diomongin. Bukan benerin taplak atau benerin letak meja atau semacamnya yang nggak jelas kaya gitu dan terasa kurang kerjaan.
Mbersihin mobil atau benerin ya yang dia jongkok megang-megang pintu mobilnya? Entahlah. Yang penting disini aku nangkepnya dia masih ‘sendirian’. Bayangin aja. Itu mobil kuno, dan dia masih muda. Seharusnya seru banget kalo bahas otomotif dan ngotak-ngatik benda kuno itu bareng teman-tamannya. Dan kayaknya itu seru banget. Kalo dia nggak punya duit buat ngutak-ngatik benda itu, seenggaknya ada temennya yang excited banget sama benda kuno, dan selalu suka membahasnya.
Di sebuah ruang, di sofa panjang, dia duduk sendirian. Disini aku juga nangkep ‘sendiri’-nya manusia blur ini. Ada dua pertanyaan : dia ngekost atau ngontrak sama temen-temennya, atau dia lagi dirumah sendiri. Kalo malem itu malem minggu, rasanya gimana gitu ya nggak ada temen yang ngajak dia keluar, nggak ada keluarga yang ngajak ngobrol seru. Dan pada intinya, malam itu dia duduk sendiri. Nggak ada temen.
Di kamar mandi. Sendirian(yang ini nggak mungkin rame-rame), dan menggosok tangan kirinya. Mungkin dalam pikirannya dipertanyakan “Kok aku blur, sih?” dan dalam bahasa lugasnya, pertanyaannya seperti ini “Aku hidup jelas gak, sih? Aku hidup terus kenapa?” dan sekitar itu. Nggak dianggep. Dan dia nggak nanggep hidupnya itu seperti apa. Oke, beberapa kalimat mungkin sedikit labil kayak ababil, tapi, di sisi lainnya, dia ngerasa hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Ngeh? Oke, lanjut.
Ikan hiu. Bahkan ikan hiu pun nggak memeberi ‘sesuatu’ buat dia. Padahal ikan hiu itu tidak suka keramaian. Aneh, kan? (yang ini sotoy) singkatnya gini : Kenapa dia ke sea world sendirian? Nggak asyik banget kan nggak rame-rame? Dan ikan, ya ikan, IKAN, nggak bisa nganggepp dia. Dia Cuma bayangan hitam mirip korek. Tak berbau darah.
Scene pas di sebuah ruangan, kayak ada forum gitu. Perhatiin deh yang berdiri. Yang mimpin diskusi itu. Gimana ngadepnya? Membelakangi manusia blur. Disitu, posisinya manusia blur ngerasa nggak dianggep kalo ada di situ. Dia merhatiin, dan yang lainnya juga merhatiin. Yang mimpin diskusi itu juga menggerakkan tubuhnya. Ini berarti, manusia blur itu sebenernya keliatan, tapi nggak dianggep.
Pas dilihatin sama orang aneh (aku nggak tau ini cewek apa cowok) yang kumisan dan pake dress, dan pandangannya itu bilang yang intinya manusia blur ini ‘apa banget’, nggak normal. Istilah singkatnya ‘eh, orang ini’. Dan sampe mau masuk pun, manusia aneh itu masih ngelihatin si manusia blur. Berasa dia nggak aneh aja, ckck.
Di bar(scene yang ini nggak ada di iklan yang baru), kenapa dia sendirian? Entahlah. Logikanya, nggak mungkin banget main di bar kayak begituan sendirian. Kan nggak seru asyik-asyikan gitu sendiri nggak ada temen. Jadi, intinya bisa aja dia nggak bisa dapet temen buat diajak ke tempat begituan. Bukan karena dari sudut pandang ‘negatif’ dari tempat ini lho ya. Dilihat aja gimana dia pengen ngajak beberapa temennya buat seru-seruan. Oke, memang sendirian bisa ke tempat seperti itu. Disana mungkin ada beberapa orang nggak kenal yang ngajak turun buat nikmatin lagu dan bergoyang. Tapi nyatanya? Nggak ada. Dan gimana minumannya? Apakah selalu penuh karena tawaran bartender untuk mengisinya lagi? Kalo yang ini aku nggak tau. Haha :p
Tidur di kamar. Dia mikir. “Segitukah gue? Nggak dianggep, dianggep aneh. Gue gini-gini aja. Hidup gue blur. Nggak jelas” berkedip, dan sepertinya memutuskan ke sebuah tempat.
Pameran lukisan. Dia masuk, dan bertemu dengan cewek aneh nari-nari niup trompet pake kacamata 3D. ngelihatin dia dengan penuh tanya, kemudian memberhentikan permainan trompetnya, melepas kacamatanya, menjulurkan tangannya, dan tersenyum. Kenalan. Mana mungkin si manusia blur menolak seseorang untuk pengen ‘mengenalnya’? Sekalipun itu cewek aneh.
Scene-scene berikutnya sudah membuat kita tersenyum. Pas di café, si cewek aneh menceritakan beberapa hal yang seru. Hingga pada akhirnya kita ditunjukkan bahwa dalam ‘dimensi’ si cewek (dimensi bukan 3D, karena dia make kacamata 3D), dalam kacamatanya, si cowok ini ‘terlihat’. Semakin bingung? Oke, lanjut aja.
Lompat-lompat di matras. Ketawa gulung-gulung seru main bowling. Lihat bintang. Ngebikin hidup si manusia blur ini lebih berwarna. Lebih ada sesuatu dari biasanya. Siapa yang nggak seneng? Siapa yang nggak seneng kalau ada seseorang yang membuat hidup kita lebih greget dari biasanya?
Dan pada akhirnya, manusia itu bangun tidur di atas kap mobil, dia sudah melihat dirinya tidak blur lagi. Ini pasti karena cewek aneh kacamata 3D. Seharusnya dia berterimakasih dengan cewek itu. Tapi apa? Cewek itu cuma ninggalin kacamatanya. Dia (cewek kacamata 3D) ngelihat ‘dimensi’ kita ini dengan kacamata 3Dnya. Dan kita tahu bahwa dengan kacamata 3D, sebuah film akan lebih seru (lupakan 4D dan 5D. kita bicara yang sederhana). Mungkin dipikirannya, ‘dimensi’ kita belum seru, dan dia memakai kacamata 3D agar terlihat seru, dan ketika kita diberi kesempatan untuk melihat si manusia blur dengan kacamatanya, manusia itu terlihat.
Dan dari back soundnya, dari awal cuma instrumen yang mengalun rendah, kemudian mati, dan hanya seperti itu. Tapi setelah bertemu dengan cewek itu? Back sound jadi full. Merendah, tapi tidak hilang. Seperti menegaskan bahwa hidup manusia ini tidak lagi sunyi seperti sebelumnya
Jadi, teman2 yang ngerasa hidupnya ‘nggak berarti’, nggak usah bilang ‘aku hidup buat apa sih?’ atau ‘apa sih artinya hidupku?’. Hello, itu sudah nggak usum. Mungkin ada beberapa manusia di luar sana yang memandangmu dengan ‘kacamata’ sendiri dan sanggup melihatmu meski tanpa kacamata. Dan suatu hari kelak, percayalah dia yang akan membuat hidupmu lebih berwarna, lebih berarti, meski dia jelek sekalipun, aneh, atau beberapa predikat yang tidak manusiawi lainnya. Tapi predikat itu untuk apa? Yang terpenting adalah dia sudah membuat hidupmu tidak ‘blur’ lagi. Dia sudah membuat warna lain. Dan ingat, jika kau sudah menemukannya, jangan sia-sia kan dia, atau lengah, untuk membuatnya pergi, dan meninggalkan penyesalan. Yang belum menemukan, tetap sabar, masih ada manusia yang memandangmu dengan kacamata lainnya yang sudah ada sebelum kau ada dan memang hanya untukmu : keluarga. Jangan sia-siakan keberadaan mereka J
Rahmadana Junita, 15 Juni 2011
Quotes of Today
Tuesday, 14 June 2011
Sunday, 5 June 2011
Scholastica.
Dan tanpa kusadari, dirimu kan hadir disini..Bawakan cinta yang semula tiada..Dan tanpa kusadari, dirimu kan hadir disisi..Bawakan cinta yang sempurna..
Sudah tahu dimana sosweetnya, kan?
Pengen dengerin? Males beli albumnya? Sini aku kasih convert-annya. Kalaau masih males kesini, coba deh tanya sama mbah google 'Download Scholastica Barry Likumahuwa Free' atau minta contekan sama 4shared. Yakin deh, mereka ada.
Friday, 3 June 2011
Yvaine
You know when I said I knew little about love? That wasn’t true. I know a lot about love. I’ve seen it, seen centuries and centuries of it, and it was the only thing that made watching your world bearable. All those wars. Pain, lies, hate… Made me want to turn away and never look down again. But to see the way that mankind loves… I mean, you could search to the furthest reaches of the universe and never find anything more beautiful. So, yes, I know that love is unconditional. But I also know it can be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and strangely easy to mistake for loathing, and… What I’m trying to say, Tristan, is… I think I love you. My heart… It feels like my chest can barely contain it. Like it doesn’t belong to me any more. It belongs to you. And if you wanted it, I’d wish for nothing in exchange — no gifts, no goods, no demonstrations of devotion. Nothing but knowing you loved me, too. Just your heart, in exchange for mine.
Wednesday, 1 June 2011
Monday, 30 May 2011
Cristopher Nelwan.
Dunia seperti berputar, badanku bergetar
seperti ada kupu-kupu menari dalam perutku
Siapakah engkau gerangan putri dari kayangan
Jemarimu begitu cantik, hatiku tergelitik
Seperti ada kupu-kupu menari dalam dadaku
Aku mendengar suara berdenting, aling aling oh aling
Mengalun bergantian merdu, aling aling oh aling
Melagukan indah namamu
Sudikah kau genggam tangan putri dari kayangan
Jemarimu begitu indah, membuat hati gundah
Seperti ingin menggubah seribu lagu untukmu
Dalam tidur kan ku panggil namamu
Mungkin, jaman saya cimon, saya bisa menuliskan ini. Tapi tidak dilagukan.
Sunday, 29 May 2011
Saturday, 28 May 2011
Lelakiku
Aku mencintainya. Mencintai lelaki yang kusebut Galang. Dia mencintaiku. Kami mencinta. Tak seperti Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta, atau Jack dan Rose di dalam film Titanic. Tak perlu ada orang yang tahu. Cukup kita berdua yang mencinta. Cukup kita berdua yang tahu. Cukup langit kosong, dan wewangian kamboja.
Dia lelaki pertama yang kutemui kala hati ini sedang linglung mencari sandaran. Tak ada yang tersedia disana. Ia lewat, tersenyum. Tanpa menyajikan nama, ia siap menjadi seorang lelaki yang malam hadirkan untukku. Hanya untukku. Tak ada hal lain yang memilikinya. Tidak juga Tuhan maha semesta alam. Dia milikku. Tuhan tak akan pernah mengambilnya sebelum mengambil sisa ejaan dari kata-kataku, dari peradaban manusia yang tumbuh liar seperti alang-alang.
Tak ada wanita yang jatuh cinta padanya sebelum aku mencintainya. Dia hanya lelaki sebelum aku mencintainya. Dia hanya membatin sebelum aku mencintainya.
Dari setiap malam, aku selalu merindukannya. Merindukan nasihat, suara, bahasa, huruf, angan. Omong kosong! Caranya bangga dengan gayanya. Caranya memberi taburan ganja pada setiap senyum yang merekah ketika aku berkata kalau hari ini indah. Kepada tawa buatan untuk membuatku semakin mencintainya.
Dia temanku. Bukan kekasih. Ketika aku menawarkan diri untuk menjadi pelacurnya, ia menolak. Lebih banyak lelaki biadab untukmu, sayang, begitu katanya. Dia temanku. Bukan kekasih. Cintaku padanya dan cintanya padaku bukan batasan. Bukan sebuah kata ghaib yang mudah raib. Dia temanku. Bukan kekasih. Dia tak pernah berani menyalakan korek di depan lidahku.
Lelakiku, begitu aku menyebutnya. Dia seutuhnya milikku. Setiap sudut tubuhnya. Setiap tetes minuman yang diteguknya. Setiap butir nasi yang terselip di ruang kosong di kedua giginya. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya, bahkan setiap butir nada yang terurai dari desahan setiap malam, itu milikku.
Dia satu-satunya lelakiku. Hanya dia. Aku pun wanitanya. Tapi bukan miliknya. Dia milikku. Aku yakin, tak ada yang menggantikannya meskipun dia adalah seorang lelaki jalang dengan segundang kata cinta. Aku yang memberiku kata cinta kepada lelakiku. Aku wanita yang mencintainya dengan segenap nyawa yang kumiliki. Aku wanita yang mencintainya dengan syarat, dia tetap disini.
Aku sangat mencintainya. Dan ketika malam mendorongku untuk menanyakan apakah ia akan tetap disini bersamaku, aku hanya mendengarkan cecapannya, tawa, kemudian kutanyakan kembali. Dia kembali mencecap. Kembali tertawa. Tuhan, aku sangat mencintainya. Meskipun pelaminan bukan garis akhir kita.
Aku bertanya lagi. Dia tidak mencecap lagi. Dia tidak tertawa lagi. Dia menatap mataku. Dia menggenggam tanganku. Ku izinkan bibirnya berucap kata yang ku rencanakan untukku.
“Aku imajimu. Selama kau ada, aku ada”
Track #04.