Monday, 11 July 2011

Meminjam Sore

Meminjam Sore

Hujan bercanda mesra dengan bumi. Suaranya riang, diiringi teriakan anak jalanan menawarkan ojek payung dengan harga seribu perak. Sekalipun mereka tak mendapat satu atau dua penumpang, tak ada satupun yang berani melarang mereka berlarian kesana kemari tanpa payung mereka di tenga hujan yang ramah ini.

Jecorz ramai. Diisi dengan manusia yang selalu merasa nyaman berada di dalamnya. Setiap kali aku melihat ke dalam cafĂ© itu melewati jendela kacanya yang besar, ­aku hanya melihat orang-orang yang tak menantikan hujan reda. Setidaknya hari ini.

Jarum menit sudah berputar hampir sepertiganya. Lelaki itu tak juga datang. Kami sering seperti ini. Menyengajakan pertemuan di tempat yang sama dengan pertemuan pertama kami setengah tahun yang lalu. Jecorz. Bedanya, sore itu ia datang dengan sebuah waktu yang pasti. Tidak terlambat, tidak juga terlalu awal.

Aku ingat waktu itu kepalaku tiba-tiba memutar ke arah pintu masuk saat loncenh yang sengaja di pasang di ujung pintu berbunyi. Aku menangkap lelaki bertubuh sedang mengenakan kemeja biru muda rapi lengkap dengan celana bahan dan sepatu pantofelnya yang mengkilap. Badannya tegap. Tangan kanannya memegangi tas yang ia selempangkan di sisi kanannya, dan tangan kirinya menenteng map yang berisi jejalan kertas-kertas yang berisi tulisan. Sesaat itu pula aku hanya melengos biasa dan kembali ke buku di depanku yang sudah ku baca berulang-ulang. Buku lama yang termasuk langka.

Halaman berikutnya baru ku buka, dan aku masih belum bisa terlarut lagi dalam kata-kata si penulis. Aku terus saja mengagumi buku itu. Buku yang sudah lama aku beli. Sebuah buku yang menggambarkan bagaimana indah dan kejamnya sore. Hanya satu sore, dan penulis menjabarkannya hingga banyak yang berprasangka berbeda pada sore.

Masih satu kata di awal halaman itu. Seseorang menjawil pundakku. Aku menoleh. Belum aku menterjemahkan siapa lelaki ini, mulutnya sudah terbuka. “Maaf, ini meja favoritku”.

Aku tersenyum. “Ini meja favoritku juga.”

Ia berjalan ke sebelah kursi di depanku yang masih semeja. “Boleh aku duduk di sini? Ini kursi favoritku.”

Senyumku semakin lepas, berkeliaran menyeruak pipi, kemudian menyalak di mata. Lelaki itu, lelaki yang ku tangkap sosoknya tadi, memohon padaku. Aku mengiyakan, dan buru-buru berkutat kembali pada ‘Sore’-ku, menenggelamkan rasa gembiraku yang tiba-tiba mencuat di barisan kata-kata.

Lama. Aku tahu pesanannya sudah datang. Tapi tak sedikitpun dari mereka yang disentuh. Aku juga tak kunjung membalik halaman berikutnya. Aku masih berkutat di halaman yang sama, dan tidak membacanya. Aku seperti menunggu sesuatu.

Benar, ia menekan permukaan punggung tanganku yang memang sengaja mengarah padanya. Aku menurunkan bukuku, dan menemukan dirinya menopang dagunya sedikit membungkuk. Senyum maafnya tergaris di bibir. Aku berusaha tenang.

“Sore?”

Aku menutup bukuku. Sampulnya sederhana. Langit sore dengan matahari yang lelah dan langit yang meredup. Tak ada lampu kota yang mulai berpendaran. Semuanya tentang langit yang bisa menguasai bumi pada waktu itu. Di bagian depannya hanya tertulis satu kata : Sore. Bercetak tebal di tengah. Di bagian belakangnya hanya sepenggal paragraf yang mampu menggambarkan bagaimana ‘Sore’ ini dimata penikmatnya yang paling sederhana.

“Iya.” Aku mengangguk.

“Novel langka! Dari mana kau mendapatkannya?” tanyanya menggebu.

Aku tersenyum menyambut pertanyaannya dengat alis yang terangkat satu. Rupanya ia tahu buku ini. “Sudah lama aku mendapatkannya. Mengapa?”

“Boleh aku meminjamnya?”

Aku diam. Tidak menjawab izinnya. Otakku kosong. Tidak mencerna kata-katanya.

“Aku Rafdi,” ujarnya. Tangannya terulur menyambut tanganku untuk bersalaman dengannya. Ini yang kumau.

“Faina. Kau boleh memanggilku apa saja.” Aku membalas uluran tangannya.

Setiap orang yang kukenal memiliki panggilan tersendiri. Tapi ada beberapa dari mereka yang tidak mau memutar otaknya untuk mencari nama lagi untuk memanggilku.

“Fo. Boleh kupanggil nama itu?” Ia meminta izin lagi.

Fo. Aku tak pernah dipanggil seperti itu. Ia yang pertama memanggil itu. “Mengapa Fo?”

“Entahlah. Nama itu terasa unik saja di bibirku. Aku baru saja mengucapkannya tadi. Bagaimana? Kau boleh memanggilku apa saja. Biar kita impas.”

“Bagus. Aku suka.” Sekali. “Aku memanggilmu Di. Boleh?”

“Tentu saja,” ujarnya. Matanya tersenyum.

Dan setelah itu Di menyeruput minuman yang sudah lama dihadapannya tanpa memutuskan pandangannya padaku.

“Dari mana kau mengenal ‘Sore’?” tanyaku setelah melihatnya meletakkan mugnya, dan merapikan sisa minumannya pada tepi bibirnya.

Bibirnya terbuka, melontarkan sederet kata. Fasih. Di menceritakan bagaimana sore miliknya begitu indah. Sesekali aku memberi beberapa kata di percakapan kita. Semuanya tak bercelah. Mengalir begitu saja. Bahkan, ketika kita meneguk masing-masing minuman kita, kita tidak memberhentikan percakapan kita.

Di juga mencitai sore. Di sudah lama menginginkan buku itu. Di bermaksud meminjam ‘Sore’ milikku. Tidak harus sekarang, katanya. Ia harus menyelesaikan tugas akhirnya.

Terburu, Di menyuruhku mencatat nomor teleponku di selembar tisu yang ada di meja.

“Aku akan menghubungimu secepatnya. Sampai jumpa,” ujarnya terburu. Di berhenti sejenak untuk mengeluarkan telepon genggamnya, dan menyalin nomor teleponku. Dan pergi, meninggalkan senyum setelah menutup pintu pintu Jecorz.

Aku mengingatnya. Senyumnya. Sampai sekarang. Bagaimana tidak? Setelah aku meminjamkan ‘Sore’-ku, kita sering bertemu. Menikmati sore dari beberapa sudut kota. Ia tahu banyak ternyata. Hampir semua sore yang ia tunjukkan tidak kalah indah dengan tulisan di ‘Sore’ yang aku pinjamkan kepadanya.

“Maaf”. Di baru datang. Membawa payung ke hadapanku. Wajahnya penuh penyesalan. Di selalu membuat kesalahan tentang waktu. Aku tahu.

“Ze?”

Di mengangguk. Garis wajahnya jujur. Di tidak bisa berbohong kepada wanita manapun. Aku membalasnya dengan senyumanku. Menenangkannya. Kami lalu berjalan ke mobilnya. Dan melaju membelah hujan.

“Kita selalu seperti ini, ya?”

Setiap sore, kami bertemu di tempat yang sama. Di mengajakku berkeliling kota. Menghabiskan sore di antara kepulan asap kendaraan bermotor. Memperebutkan senja paling indah yang dimiliki jalanan dan gedung-gedung rendah. Sebagai ganti karena Di tak bisa mengembalikan ‘Sore’-ku. Di tak bisa memberikan alasannya. Lebih baik tak berkata apapun daripada harus berbohong, katanya.

“Sore selalu indah, Di”

“Maaf aku tak bisa mengembalikan ‘Sore’-mu”. Kalimat ini selalu terlontar dari bibirnya.

Aku tertawa. Meringankan rasa bersalahnya. Sesungguhnya, sore seperti inilah yang aku inginkan. Dengan mata, aku menikmati seluruhnya hingga matahari tak berpendar lagi. Bukan imajinasiku yang melihat sore yang diceritakan si penulis di ‘Sore’-nya. Sore selalu berbeda. Dan ‘Sore’ selalu sama dengan kata-katanya.

“Fo, aku mencintaimu,” ujarnya. Kalimat ini juga selalu terlontar dari bibirnya. “Sore ini berbeda. Tak seperti setengah tahun yang lalu. Sore setengah tahun yang lalu hangat. Mata kita bisa meraba awan-awan itu. Tapi sore ini berbeda, Fo. Tak ada awan”.

Itu janjiku. Aku akan menjawab pertanyaannya kepadaku kalau langit menyajikan sore yang berbeda. Aku tahu sore selalu indah di mata kami. Tapi hari ini tidak. Kukira hari ini mustahil ada, sehingga aku dapat dengan mudah berkelit. Sore benar-benar bosan dengan kecantikannya. Rona langit murung, pertanda bosan. Sejujurnya, aku mencintainya juga. Tapi..

“Ze? Bagaimana dengan dia?” Untuk pertama kalinya, kalimat ini keluar dari ujung lidahku.

“Ze sedang tugas akhir. Aku tak tega menambahi bebannya. Biarlah Ze lulus, kemudian kita akan menikmati sore hingga garis ajal. Kau setuju?”

Mobil Di dan lainnya berhenti di satu titik. Berjalan berimpit. Sesekali klakson meraung di luar mobil Di. Di tetap tenang. Aku tak ragu dengan kalimat Di barusan. Di selalu memberikan janjinya, meski harus terlambat.

Di sela-sela hujan, diiringi petir dan suara klakson yang berlomba meyakinkanku, aku masih ragu. Apakah Ze sanggup menerima berbagai alasan Di? Apakah Ze sanggup mendengar bahwa tunangannya yang sudah memberikan tiap sore yang indah kepadaku setengah tahun terakhir?

Ah, itu nanti saja. Yang ada di hadapanku hanya ada Di menatap serius ke arah guyuran hujan yang tak kunjung mau mereda.

“Baiklah”. Sore selalu indah sebagaimana mestinya.


Surabaya, 11 Juli 2011
Rahmadana Junita

3 comments:

  1. i love this story!
    simple tapi uhuy2 kata2nya. hihihi
    nice post, jun! :)

    ReplyDelete
  2. enggaaakk yaaaaa, emang sukaaa tauukk..
    xixixixixixi

    ReplyDelete