Sunday, 11 January 2015
Curhatan : Hobi yang Dibayar vs Teman ya Teman
Friday, 3 October 2014
Kebiasaan Berulang dan Tak Dilarang
Friday, 22 August 2014
Resensi Bekisar Merah (dan Belantik) Karya Ahmad Tohari
- Lasi adalah perempuan berdarah setengah Jepang. Di
desa tempat ia lahir, tumbuh, besar, dan menikah, Karangsoga, keberadaannya
kerap menjadi olok-olok bagi kawannya
ketika kecil karena memiliki ciri khas tubuh yang berbeda dengan lainnya: kulitnya yang putih bersih
dan matanya yang khas. Setelah ia dewasa, ia pun menjadi bulan-bulanan warga
desa Karangsoga, seperti karena tak kunjung menikah, setelah menikah tak kunjung
punya anak, sampai dihianati suaminya. Namun, ketika kakinya menginjak kota
Jakarta, ia seperti barang berharga yang diagung-agungkan oleh beberapa pihak
sehingga karena kenaifannya, ia menjadi objek bisnis berahi kalangan elite.
- Dikutip dari percakapan Kanjat dan dosen
pembimbing skripsinya, Doktor Jirem : “Keterpihakanmu terhadap masyarakat
penyadap, saya kira, merupakan manifestasi perasaan utang budi dan terima
kasihmu kepada mereka yang telag sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan
sebuah dosa ilmiah. Jat, kamu tahu, sudah
terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima
kasih kepada “ibu” yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka
seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut
dalam arus kecenderungan pragmatis. Agakanya mereka lupa bahwa dari segi-segi
tertentu pragmatisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena
takut dibilang moralis.
Maka banyak sarjana seperti kita lupa, atau pura-pura lupa bahwa misalnya, guru yang mendidik mereka dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi digaji oleh masyarakat; bahwa sarana pendidikan yang mereka pakai dari gedung sekolah sampai laboratorium juga dibiayai dengan pajak orang banyak. Mereka lupakan ini semua sehingga status yang mereka peroleh dari sesarjanaan mereka hampir tak punya fungsi sosial. Mereka sekana merasa bahwa status kesarjanaan yang mereka peroleh semata-mata merupakan prestasi pribadi karenanya hanya punya fungsi individual.
Jat, dengan demikian amat banyak sarjana seperti kita yang kehilangan keanggunan di mata masyarakat yang telah membesarkan kita. Mereka tak bisa berterima kasih dan membalas budi. Maka jangan heran bila masyarakat telah kehilangan banyak kepercayaan dan harapan atas diri orang-orang seperti kita.”
Sebagai mahasiswa, membaca kalimat-kalimat Doktor Jirem seperti ditampar oleh dosen yang menjadi panutan dan saya hormati. Sakit, mengena, dan membuat saya sadar kalau saya mahasiswa yang belum melakukan apa-apa untuk Indonesia. - Berkaitan dengan poin sebelumnya. Pak Tir
barangkali ia adalah sebagai wakil atau simbol dari masyarakat pada umumnya. Menyekolahkan
anaknya, Kanjat, sampai ke perguruan tinggi dan tidak tahu apa itu makna dari
Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT), berpikiran bahwa sarjana yang telah lulus ‘harusnya’
bekerja, berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri, bergaji banyak, lalu makmur.
Pak Tir sendiri tidak tahu jika ada yang harusnya ‘dikembalikan’ kepada rakyat.
- Allah SWT menghadiahkan satu bulan istimewa dalam satu tahun yang mana lebih istimewa dari seribu bulan: Bulan Ramadhan. Dalam kesusahan hidup masyarakat Karangsoga, mereka lantas amat bersyukur atas datangnya bulan yang penuh berkah tersebut. Dimana ketika kebutuhan gula naik, sehingga penyadap nira di Karangsoga mendapatkan nilai jual lebih besar dan mahal dari gula yang dibuatnya. Fakta ini menyebabkan kehidupan di Karangsoga makmur dalam kurun waktu satu bulan. Dalam hal ini penulis mampu menceritakan suka cita yang meruah yang saya sendiri dapat merasakan kegembiraannya. Apalagi ditambah tembang milik Eyang Mus:
Dina Bakda uwis leren nggone pasa
Padha ariaya seneng-seneng ati rag
Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar
Bingar-bingar mangan enak nganti meklar
Di hari Lebaran sudah kita purnakan puasa
Kita berhari raya , bersenang jiwa dan raga
Berbusana baru, menyantap nasi pulen
Riang gembira santap enak hingga perut
Kenyang benar
Wednesday, 13 August 2014
Merantau dan Kepulangan
Sembabmu malu dilihat tetangga
Laraku setiap teringat peluknya
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Untuk sementara waktu pergi
Kita berdua tahu dia pasti pulang ke rumah
Thursday, 24 July 2014
Bukan Resensi : Dilan oleh Pidi Baiq
| Image Source : Google |
Alasan saya membeli buku ini? Sebetulnya sederhana. Tapi detilnya agak rumit. Begini :
Senin tanggal 14 lalu, saya berputar-putar sebentar di Gramedia Tunjungan Plaza untuk menunggu janjian sama kawan menonton bioskop. Tiba-tiba saja sebuah judul buku menarik perhatian saya. DILAN : Dia adalah Dilanku tahun 1990. Pengarangnya Pidi Baiq.
Saya teriak histeris tapi berbisik seperti menggumam. Seperti menemukan buku yang telah lama dicari. Padahal, saya baru tahu buku itu hari itu juga. Lantas, kenapa saya histeris?
1. 1990. Saya selalu berharap menjadi remaja tahun 90an. Atau setidaknya dapat jodoh yang tumbuh di era 90an (tua ya hehe).
2. Pidi Baiq. Saya bukan fans amatirnya. Apalagi fanatik. Tapi saya ingat postingan tumblrnya yang beberapanya selalu bikin saya heran dengan sudut pikirnya.
Iya itu saja. Lalu saya punya cita-cita untuk memilikinya. Cover, sinopsis, tetek bengek di belakang buku sama sekali bukan pengaruh utama untuk memiliki cita-cita seperti itu. Sederhana ya? Hehe
Tapi sayangnya, saya harus sedikit urung. Klise : uang yang saya bawa nggak cukup.
Hari Rabu, tiba-tiba iseng untuk pergi ke toko buku diskon dekat rumah. Ingin beli Dunia Sophie kalau masih ada. Sekalian ngecek apa ada novel yang saya cita-citakan untuk dimiliki tersebut. Ternyata ada. Tapi sayangnya, saya harus urung lagi. Uangnya nggak cukup.
Hari Jum'atnya, setelah bahagia karena telah menemukan Cutting Mat dan Pen Cutter yang sedang diidam-idamkan selama setengah tahun belakangan dan dapat diskon sepuluh persen (hehe), motor saya belokkan ke toko buku murah yang Rabu kemarin saya kunjungi. Hari itu kebahagiaanku melimpah ruah. Cita-citaku kesampaian!
Hehe.
Baru saja kemarin, sambil menunggu sahur (liburan, saya nokturnal. Kata ibu, saya ini Kalong. Anak Kelelawar), saya buka bungkus Dilan. Dan saya jatuh cinta ketika aku (Milea) bercerita tentang bahasa yang digunakan Dilan : sedikit melayu dan baku. Lalu saya ingat Zetra Kyanofaruq dan Ananda Badudu.
Berlembar-lembar ditelan mata karena diksinya yang ringan, lalu ketiduran di halaman 200. Dan kulahap sisanya ketika beli kebab dan menemani kawanku pergi bimbingan Kerja Praktek.
Ini Teenlit. Tapi pakai setting tahun 1990. Nggak ada mol, handphone, internet, drama yang berlebihan, si cantik nan modis dan si cupu yang ndeso, dan sebagainya a la teenlit-teenlit era sekarang.
Pertemuan mereka sederhana. Plotnya amat klise. Diksinya biasa saja, tidak banyak narasi. Settingnya itu-itu saja. Dramaturginya apalagi. Hehe.
Tapi saya bisa jatuh cinta. Kluget-kluget (gerakan ulat dalam bahasa jawa) sendiri karena melting, tertawa lepas sendiri, dan tersenyum sendiri. Ya Tuhan, saya jatuh cinta sama Dilan! Sampai-sampai saya enggan meminjamkan buku ini kepada siapapun. Agar yang jatuh cinta sama Dilan saya saja.
Pidi Baiq berhasil membuat saya jatuh cinta kepada Dilan karena karakternya yang lugas, sederhana, manis, menyenangkan, spontan, memiliki sudut pandang yang berbeda, dan pasti membuat jatuh cinta gadis remaja, wanita yang ingin menjadi gadis remaja, sampai perempuan yang mengingat dirinya pernah menjadi gadis remaja.
Apalagi ia menyuguhkan set SMA. Masa yang paling didambakan terulang kembali. Dan tiba-tiba saya teringat dengan Ada Apa Dengan Cinta. Dilan adalah Rangga dengan karakter yang bertolak belakang. Namun keduanya dapat membuat perempuan seperti saya kluget-kluget.
Untuk lebih penasaran, bacalah komentar-komentar pembaca yang lain di goodreads. Ini linknya. Tinggal klik kanan - open in new tab. Tak perlu buka google. Komentar-komentarnya juga mewakili saya banget.
Sudah saya bilang, ini bukan resensi. Semoga saja bukan bukan spoiler.
Ratingnya? 4,5 dari 5. Setengahnya karena kejadian-kejadian yamg membuat Milea penasaran dan saya ikut penasaran nggak dijawab di halaman selanjutnya.
Sunday, 6 July 2014
Keinginan yang Lain
Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteer, founder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.
Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.
Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.
Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".
Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.
Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.
Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.
Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.
Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?
Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.
Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.
Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.
Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.
Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.
Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.
Aamiin..
Friday, 4 July 2014
Penyebab Hari Ini
Monday, 9 June 2014
Berbicara Sedikit Tentang Aktor
Wednesday, 14 August 2013
50 Kreatif -- 50 Konsumtif
kre·a·tif /kréatif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;
Sunday, 6 January 2013
Ada yang Recycle Dan Senyumlah-nya Sinikini
Sinikini, Singiku, Protonema adalah band yang lahir dan populer di era tahun 90an. Setidaknya itu yang kubaca dari internet. Disini aku cuma ulas Sinikini saja, ya. Karena yang aku tahu banyak juga Sinikini aja, yang lainnya cuma ngikut hehe. Lagian, judulnya juga ada 'Sinikini'.
Sinikini. Yang kutahu, band ini timbul dan tenggelam dalam satu dekade yang sama. Sekitar tahun 97-98an. Jaman segitu mah, aku masih SD. Dan masih belum tahu betul sama lagu ini. Vokalisnya digawangi oleh Aryo, adik bungsu dari Iwan Fals. Sayangnya, udah meninggal entah pada tahun berapa setelah album pertama mereka rilis di pasaran. Yang jelas, setelah vokalisnya meninggal, band ini juga bubar. Ini sepanjang yang saya tahu loh. Kalau salah, mohon diingatkan.
Lagunya yang paling ciamik di telingaku adalah 'Dan Senyumlah'. Sekitar tahun 2008 akhir, aku dengar lagu ini lewat radio, dan entah panggilan apa, aku nulis beberapa liriknya di sebuah kertas, kemudian searching di Google. Hasilnya? Ketemu Sinikini - Dan Senyumlah. Nggak lama, aku download lagunya lewat internet (pembajakan).
Sempat selama beberapa bulan aku mengucilkan lagu ini karena aku pikir, lagu ini tua benget dan nggak banget. Tapi, yang namanya karma pasti ada. Aku kembali suka dengan lagu ini. Bukan suka lagi. Ketagihan malah. Bolak-balik dengerin lagu ini, telingaku nggak pernah bosen. Udah gathuk (cocok) kali ya. Hihihi. Aku pernah posting liriknya. Disini. Atau, search di Google juga bakal dapet :p
Kenapa suka dengan lagu tua yang satu ini? Yang pertama, aku suka intronya. Yang kedua, ada keterkaitan luar biasa untuk ketagihan ngerepeat seribu kali kalau aku lagi sedih. Yang ketiga, aku suka liriknya yang ini :
Menelusuri hening malam, hari-harimu terlewatkan.Kau hanya bicara berteman khayalan, kau tak mendapat jawaban.Bukan akhir s'galanya, bumi masih akan berputar.Senyummu masih menawan, cerita cinta masih akan datang.Yang keempat, jarang banget orang yang tahu lagu ini. Yang tahu ya cuma orang angkatan segitu :p. Berasa punya rasa kepemilikan yang kuat kalau nggak banyak orang tahu lagu yang kita suka. Berasa aku ini punya selera yang unik banget gitu (takut dikira selera ketuaan).
Saking sukanya aku sama lagu ini, aku sering banget ngesearch di twitter siapa aja yang ngetwit tentang Sinikini. Kali aja nemu info kalau mereka konser di Surabaya, dengan personel baru. Atau bikin album baru, atau sekedar tahu siapa saja yang hari ini muter lagunya Sinikini. Sederhana, sih. Di postingan sebelumnya juga aku sempat bahas kalau lagu ciamik ini masuk di novel 5cm yang sekarang filmnya lagi 'in'.
Jadi, aku menemukan seseorang yang ngerecycle lagu ini. Responku? PENASARAN!!
Namanya @karmalogy, klik aja link disebelah untuk tahu orangnya kayak gimana via twitter. Kalau penasaran, sila dengar lewat sini, di bawah ini, atau kunjungi twitmusicnya disini.
Sayangnya, aku harus online di PC ata lepi untuk mendengarkan lagu ini. Gimana kalau aku ketagihan dengan lagu ini, tapi sedang nggak ada koneksi internet? Tapi itu bukan masalah yang besar. Silakan ditunggu rilisnya. Aku sih ya, nggak sabar untuk liat MVnya.
Saturday, 29 December 2012
Tentang 5cm
- Ada lagunya Sinikini yang Dan Senyumlah. Dalam buku 5cm, ditulis di halaman 260. Ini alasan paling pertama, paling utama. Belum ada lagu yang dahsyatnya bisa mengalahkan lagu ini. Dan lagu paling dahsyat ini, masuk buku 5cm.
- Banyak lagu kerennya. Beberapa lagunya sih saya tahu. Apalagi, nggak sengaja, akhir-akhir ini playlist baru saya semua masuk di buku ini :p Masih di halaman 260 juga, ada Utha Likumahuwa - Esok Kan Masih Ada.
- Zafran, Juple. My favorite character, benar-benar karakter favorit saya. Di otak saya, begitu nama Zafran tercetak, gambaran fisiknya mirip dengan.. Zuko. Dan, dalam filmnya, abang saya yang meranin. Junot.
- Deniek, pendaki yang ketemu di jip, yang suka fotografi, yang akhirnya di dalam bukunya menikah dengan Dinda, adalah mahasiswa ITS. Halaman 209. Katanya, dia dari Surabaya, kemudian menyebutkan salah satu kampus teknologi terkenal di Surabaya. Apa lagi kalau bukan ITS? :) Tapi, kalau itu diambil dari kisah nyata, berarti yang di Arcopodo..
- Banyak ilmu yang sebelumnya saya nggak tahu. Beberapa hitungan fisika, sejarah, film, musik, politik, peristiwa reformasi, dan macem-macem. Dan cerdasnya, penulis merangkumnya dalam bentuk fiksi yang enak untuk dikonsumsi, sebelum pada akhirnya pembaca (dalam hal ini adalah saya) bisa menumbuhkan rasa keingintahuan sehingga terciptalah beberapa pekerjaan seperti searching atau mencari tahu. Kalimat terakhir enggak bangeeeeet -__-
Wednesday, 3 October 2012
#sikap : Jabatan Batik di Hari Batik Nasional
Tuesday, 24 January 2012
Penyesalan.
Tuesday, 25 October 2011
Planet Imajiner
Friday, 1 July 2011
June
Wednesday, 15 June 2011
Go A Head edisi Manusia Blur
Tau iklan rokok yang Go A Head yang manusia blur nggak? Pasti pertama kali lihat, mungkin kalian pikir “Ini iklan apaan sih” atau cuma bilang “hah?” dan yang pada intinya kalian nggak ngeh sama iklannya. Sama. Aku juga. Tapi, setelah iklan ini sering diputer dan dengan ending si manusia blur itu nggak blur lagi, aku jadi penasaran. Sepertinya memang ada artinya. Jadi, aku disni nyoba mengartikan iklan itu menurut pemikiranku. Enjoy..
--
Manusia kribo blur. Di iklan itu, rasanya hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Nggak ada artinya, nggak jelas, dan mungkin nggak dianggep.
Di bus, dia sendirian. Oke, sebagai awal iklan, mungkin ini sebagai pertanyaan. Kenapa manusia ini blur? Cuma sampai disitu. Aku yakin nggak ada pertanyaan ‘kenapa dia naik bus sendirian?’. Ya karena naik bus nggak perlu rame-rame, kan? Tapi disitu dia ngelihatin tangannya yang blur. Mungkin ini menunjukkan kalo iklan ini pengen ngelihatin si manusia blur. Dan sedikit pertanyaan ‘kenapa dia blur?’
Scene berikutnya. Pas dia papasan sama cewe yang matanya lihat ke depan, dan dia harus mepet ke mobil. Disini juga masih nunjukin kalo dia nggak dianggep. Biasanya, kalo ada dua orang yang berjalan berlawanan arah, dan mata dari keduanya lurus, salah satu atau bahkan keduanya beralih ke arah lain. Logikanya, si cewek nggak mungkin minggir ke mobil. Arah jalannya pasti jadi menjauh dari mobil, kan? Ini berarti, si cewek nggak perduli dengan apapun yang terjadi dengan manusia blur itu.
Benerin taplak meja. Sepele. Mungkin dari sini bisa dilihat kalo pas udah nggak ada kerjaan yang dikerjain. Dan seharusnya dia sama temen-temennya ngobrol-ngobrol ––meski nggak jelas apa yang diomongin. Bukan benerin taplak atau benerin letak meja atau semacamnya yang nggak jelas kaya gitu dan terasa kurang kerjaan.
Mbersihin mobil atau benerin ya yang dia jongkok megang-megang pintu mobilnya? Entahlah. Yang penting disini aku nangkepnya dia masih ‘sendirian’. Bayangin aja. Itu mobil kuno, dan dia masih muda. Seharusnya seru banget kalo bahas otomotif dan ngotak-ngatik benda kuno itu bareng teman-tamannya. Dan kayaknya itu seru banget. Kalo dia nggak punya duit buat ngutak-ngatik benda itu, seenggaknya ada temennya yang excited banget sama benda kuno, dan selalu suka membahasnya.
Di sebuah ruang, di sofa panjang, dia duduk sendirian. Disini aku juga nangkep ‘sendiri’-nya manusia blur ini. Ada dua pertanyaan : dia ngekost atau ngontrak sama temen-temennya, atau dia lagi dirumah sendiri. Kalo malem itu malem minggu, rasanya gimana gitu ya nggak ada temen yang ngajak dia keluar, nggak ada keluarga yang ngajak ngobrol seru. Dan pada intinya, malam itu dia duduk sendiri. Nggak ada temen.
Di kamar mandi. Sendirian(yang ini nggak mungkin rame-rame), dan menggosok tangan kirinya. Mungkin dalam pikirannya dipertanyakan “Kok aku blur, sih?” dan dalam bahasa lugasnya, pertanyaannya seperti ini “Aku hidup jelas gak, sih? Aku hidup terus kenapa?” dan sekitar itu. Nggak dianggep. Dan dia nggak nanggep hidupnya itu seperti apa. Oke, beberapa kalimat mungkin sedikit labil kayak ababil, tapi, di sisi lainnya, dia ngerasa hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Ngeh? Oke, lanjut.
Ikan hiu. Bahkan ikan hiu pun nggak memeberi ‘sesuatu’ buat dia. Padahal ikan hiu itu tidak suka keramaian. Aneh, kan? (yang ini sotoy) singkatnya gini : Kenapa dia ke sea world sendirian? Nggak asyik banget kan nggak rame-rame? Dan ikan, ya ikan, IKAN, nggak bisa nganggepp dia. Dia Cuma bayangan hitam mirip korek. Tak berbau darah.
Scene pas di sebuah ruangan, kayak ada forum gitu. Perhatiin deh yang berdiri. Yang mimpin diskusi itu. Gimana ngadepnya? Membelakangi manusia blur. Disitu, posisinya manusia blur ngerasa nggak dianggep kalo ada di situ. Dia merhatiin, dan yang lainnya juga merhatiin. Yang mimpin diskusi itu juga menggerakkan tubuhnya. Ini berarti, manusia blur itu sebenernya keliatan, tapi nggak dianggep.
Pas dilihatin sama orang aneh (aku nggak tau ini cewek apa cowok) yang kumisan dan pake dress, dan pandangannya itu bilang yang intinya manusia blur ini ‘apa banget’, nggak normal. Istilah singkatnya ‘eh, orang ini’. Dan sampe mau masuk pun, manusia aneh itu masih ngelihatin si manusia blur. Berasa dia nggak aneh aja, ckck.
Di bar(scene yang ini nggak ada di iklan yang baru), kenapa dia sendirian? Entahlah. Logikanya, nggak mungkin banget main di bar kayak begituan sendirian. Kan nggak seru asyik-asyikan gitu sendiri nggak ada temen. Jadi, intinya bisa aja dia nggak bisa dapet temen buat diajak ke tempat begituan. Bukan karena dari sudut pandang ‘negatif’ dari tempat ini lho ya. Dilihat aja gimana dia pengen ngajak beberapa temennya buat seru-seruan. Oke, memang sendirian bisa ke tempat seperti itu. Disana mungkin ada beberapa orang nggak kenal yang ngajak turun buat nikmatin lagu dan bergoyang. Tapi nyatanya? Nggak ada. Dan gimana minumannya? Apakah selalu penuh karena tawaran bartender untuk mengisinya lagi? Kalo yang ini aku nggak tau. Haha :p
Tidur di kamar. Dia mikir. “Segitukah gue? Nggak dianggep, dianggep aneh. Gue gini-gini aja. Hidup gue blur. Nggak jelas” berkedip, dan sepertinya memutuskan ke sebuah tempat.
Pameran lukisan. Dia masuk, dan bertemu dengan cewek aneh nari-nari niup trompet pake kacamata 3D. ngelihatin dia dengan penuh tanya, kemudian memberhentikan permainan trompetnya, melepas kacamatanya, menjulurkan tangannya, dan tersenyum. Kenalan. Mana mungkin si manusia blur menolak seseorang untuk pengen ‘mengenalnya’? Sekalipun itu cewek aneh.
Scene-scene berikutnya sudah membuat kita tersenyum. Pas di café, si cewek aneh menceritakan beberapa hal yang seru. Hingga pada akhirnya kita ditunjukkan bahwa dalam ‘dimensi’ si cewek (dimensi bukan 3D, karena dia make kacamata 3D), dalam kacamatanya, si cowok ini ‘terlihat’. Semakin bingung? Oke, lanjut aja.
Lompat-lompat di matras. Ketawa gulung-gulung seru main bowling. Lihat bintang. Ngebikin hidup si manusia blur ini lebih berwarna. Lebih ada sesuatu dari biasanya. Siapa yang nggak seneng? Siapa yang nggak seneng kalau ada seseorang yang membuat hidup kita lebih greget dari biasanya?
Dan pada akhirnya, manusia itu bangun tidur di atas kap mobil, dia sudah melihat dirinya tidak blur lagi. Ini pasti karena cewek aneh kacamata 3D. Seharusnya dia berterimakasih dengan cewek itu. Tapi apa? Cewek itu cuma ninggalin kacamatanya. Dia (cewek kacamata 3D) ngelihat ‘dimensi’ kita ini dengan kacamata 3Dnya. Dan kita tahu bahwa dengan kacamata 3D, sebuah film akan lebih seru (lupakan 4D dan 5D. kita bicara yang sederhana). Mungkin dipikirannya, ‘dimensi’ kita belum seru, dan dia memakai kacamata 3D agar terlihat seru, dan ketika kita diberi kesempatan untuk melihat si manusia blur dengan kacamatanya, manusia itu terlihat.
Dan dari back soundnya, dari awal cuma instrumen yang mengalun rendah, kemudian mati, dan hanya seperti itu. Tapi setelah bertemu dengan cewek itu? Back sound jadi full. Merendah, tapi tidak hilang. Seperti menegaskan bahwa hidup manusia ini tidak lagi sunyi seperti sebelumnya
Jadi, teman2 yang ngerasa hidupnya ‘nggak berarti’, nggak usah bilang ‘aku hidup buat apa sih?’ atau ‘apa sih artinya hidupku?’. Hello, itu sudah nggak usum. Mungkin ada beberapa manusia di luar sana yang memandangmu dengan ‘kacamata’ sendiri dan sanggup melihatmu meski tanpa kacamata. Dan suatu hari kelak, percayalah dia yang akan membuat hidupmu lebih berwarna, lebih berarti, meski dia jelek sekalipun, aneh, atau beberapa predikat yang tidak manusiawi lainnya. Tapi predikat itu untuk apa? Yang terpenting adalah dia sudah membuat hidupmu tidak ‘blur’ lagi. Dia sudah membuat warna lain. Dan ingat, jika kau sudah menemukannya, jangan sia-sia kan dia, atau lengah, untuk membuatnya pergi, dan meninggalkan penyesalan. Yang belum menemukan, tetap sabar, masih ada manusia yang memandangmu dengan kacamata lainnya yang sudah ada sebelum kau ada dan memang hanya untukmu : keluarga. Jangan sia-siakan keberadaan mereka J
Rahmadana Junita, 15 Juni 2011
Quotes of Today
Monday, 2 May 2011
♥
Untuk seseorang yang tidak memerlukan kamus agar aku mengerti apa itu bahagia.
Cukup bersamanya.
Kau.
Sunday, 1 May 2011
-
Saturday, 30 April 2011
Pernikahan
“saya tidak menyanyikan lagu kesukaan istri saya, atau beberapa lagu favorit ‘kami’. Tapi sebuah lagu yang sengaja saya tulis untuk hari ini. Untuk istri saya, agar tamu yang berada disini tak perlu ragu kalau saya benar-benar mencintainya. Dunia tak perlu tahu. Cukup kita. Enjoy ”
