Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Sunday, 11 January 2015

Curhatan : Hobi yang Dibayar vs Teman ya Teman

Banyak yang bilang, bahwa pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia ini adalah hobi yang dibayar. Bagaimana tidak, hobi adalah pekerjaan yang dilakukan ketika waktu luang. Bagaimana mungkin seseorang mengorbankan waktunya untuk sebuah pekerjaan yang sebetulnya tidak membuatnya kaya?

Begitulah sebuah hobi bekerja. Ia mampu menghabiskan waktu luang, dan membuat lupa para pelaku hobi pada kewajiban yang sebenarnya. Namun ia juga mampu dengan sederhananya membuat si pelaku bahagia atas pengorbanan waktunya.

Selama satu setengah tahun belakangan, aku memulai sebuah usaha pembuatan notebook. Bisa dibilang ini hobi yang dibayar. Aku suka membuat benda-benda yang digarap oleh tanganku. Apalagi membuat notebook. Dari kecil, ibu mengajariku mengolah sisa-sisa lembar buku yang tak terpakai untuk dijadikan kertas buram atau malah dijadikan buku kembali!

Memulai sebuah usaha tidaklah mudah. Mulai dari janji-janji yang tak pasti dari customer, tanya-tanya yang berujung pada pembatalan pesanan, pelunasan buku yang sampai sekarang belum dibayar padahal buku sudah sampai ke tangan customer 11 bulan yang lalu, sampai membuat pesanan yang rumit tapi hanya dibayar oleh harga bahan.

Dua kejadian terakhir di atas kualami ketika customerku adalah seorang teman lama yang sekarang sudah jarang bertatap muka. Kampus saja tidak sama. Alhasil, mau tidak mau aku harus mengikhlaskannya. Dan dari kejadian itu aku jadi lebih menghargai kalimat “Teman ya teman. Bisnis ya bisnis”.

Hari ini aku mengerjakan pesanan temanku yang tak kalah rumit daripada temanku yang lainnya. Temanku ini, sudah cerewet, mintanya banyak, rumit, deskripsinya gak bisa diterima akal sehat, minta cepetan, bahannya sulit dicari, dll. Tapi karena aku temannya, kadang aku sedikit mengeluarkan emosiku karena deskripsi detilnya mustahil untuk aku kerjakan.

Dia sering mengingatkanku bahwa pembeli adalah raja. Iya aku tahu. Dia ini sudah dibilang kalau salah satu detil pesanannya tidak bisa dibuat oleh tangan kosong, tapi masih saja merengek ingin dibuatkan seperti itu. Bagaimana aku tidak sebal?

Huh.

Tapi satu hal yang membuatku ingin lekas menyelesaikannya. Dia adalah salah satu penganut paham “Teman ya teman. Bisnis ya bisnis.”

Selama kurang lebih seminggu pesanannya tidak kukerjakan karena selain permintaannya yang sebanyak pasir di rumahku dan desainnya sulit, aku tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli bahan yang dibutuhkan. Karena aku sedang kehabisan salah satu bahan. Ditambah lagi permintaannya yang detil membuatku harus membeli bahan baru.

Secara terang-terangan aku meminta uang muka kepadanya. Dan dengan mudahnya ia mengiyakan. Meski transfer tertunda dua hari karena banyak alasan seperti tidak ada pulsa untuk m-banking, itu tak dijadikan masalah.

Malam ini aku ikhlas mengerjakan pesanan terrumit. Saking bahagianya, aku sampai membuat bonus untuk dia.

Fani, seorang teman yang sekaligus memiliki usaha scrapbook in frame pernah berkata padaku kurang lebih seperti ini:


“Kalau ada teman beli lalu nawar dan minta diskon itu bikin males. Meskipun pesenannya gak rumit. Tapi, kalau ada teman beli tanpa menawar, meski pesenannya agak rumit itu bikin seneng. Malah, kita kasih diskon dan bonusan.”

Friday, 3 October 2014

Kebiasaan Berulang dan Tak Dilarang

Siapa yang tak bahagia jika pekerjaan yang menjadi pengisi di waktu luangnya telah menjadi pekerjaan yang selalu mengisi. Meskipun membuatnya harus menyisihkan waktunya untuk melakukan pekerjaan tersebut. Bahkan, pekerjaan tersebut telah mengisi sudut ruang pikirnya yang tak sadar.

Ini mengenai hobi saya. Menulis, tentunya. Sebenarnya saya tak pernah paham menulis ini adalah hobi atau bakat.

Saya mulai menulis ketika masih memakai dasi berwarna merah setiap hari. Ingatan saya tentang menulis ketika itu adalah ketika kelas enam SD, saya pernah membuat sebait puisi entah tentang apa di buku paket kawan sebangku yang saya kira adalah buku paket saya. Dan sejak waktu itu saya selalu menyisakan satu halaman di setiap buku tulis untuk mencoretinya.

Karena kedua orang tua saya tak pernah melarang anaknya melakukan apapun asalkan positif, maka kebiasaan menulis saya semakin menjadi. Apalagi ibu memperbolehkan dua sampai tiga halaman belakang di setiap buku tulis anaknya adalah halaman yang sah untuk keperluan lain selain mencatat. Banyak rangkaian kalimat yang terlatih dan terekam dari halaman tersebut.

Banyak yang bilang jika tulisan saya indah. Diksinya ajaib, diskripsinya membuat terbayang, dan majasnya tak pernah terpikirkan. Namun, jika ada yang menyeletuk bahwa ini adalah bakat, saya tak akan pernah menolak untuk mendapatkan anugrah langka dari Tuhan yang satu itu.

Jika memang menulis ini bakat, barangkali itu adalah turunan dari bapak dan ibu ketika saya berada dalam kandungan. Karena ibu tinggal di Surabaya dan bapak bekerja di Palembang, maka suratlah yang mengisi komunikasi diantara mereka. Saya pernah tak sengaja menemukannya. Dan tiga jam membaca surat-surat mereka seperti berlalu lewat begitu saja.

Kata seorang kawan, hal itu bisa saja terjadi. Karena ketika mengandung, apa saja yang dilakukan orang tua, dapat langsung menurun atau tertular ke anaknya. Maka dari itu, orang tua pantang melakukan beberapa hal buruk seperti yang dipercaya orang jawa. Contohnya kawan saya. Ibunya suka melihat kesenian tradisional jawa ketika mengandungnya. Hasilnya, dia suka mempelajari seni karawitan, tembang-tembang jawa, dan kesenian tradisional lainnya.

Tak jarang dalam pertemuan yang mengumpulkan orang-orang yang memiliki keterterikan dalam bidang yang sama (seputar menulis dan sastra) dimana ketika itu terdapat beberapa orang yang sudah mengenal saya dan tulisan-tulisan saya, mereka selalu menyeletuk kecintaan saya terhadap menulis. Sehingga menulis seperti predikat yang tak sengaja menggantung dalam nama saya. Saya tak dapat menolak untuk bersyukur.

Bagi saya, menulis adalah salah satu media yang dapat membuat saya lebih percaya diri. Tak jarang saya lolos dalam beberapa screening dengan metode essay dalam pendaftarannya. Karena saya percaya pada kekuatan penuh dalam tulisan saya. Semudah itu.

Meski belum pernah menjuarai lomba, menghasilkan buku, atau bahkan banyak tulisannya yang terpotong tak sampai seperempatnya, saya mencintai menulis entah sejak kapan dan sampai kapan. Entah ini passion saya atau bukan, yang jelas menulis telah menyerang saya seperti apa yang saya jelaskan pada paragraf pertama. Karena saya percaya kalau passion tak pernah menghianati tuannya meskipun keduanya saling menyakiti.

Tak sedikit pengalaman buruk tentang menulis datang. Salah satunya pernah dijiplak dan diubah oleh seseorang, yang kemudian di-post di blognya karena saya sempat mengunggahnya ke internet. Salah seorang kawan saya yang amat tahu bagaimana gaya saya menulis yang melaporkan hal tersebut. Kecewa dan marah jelas ada. Saya hanya menegurnya. Namun sampai detik ini saya masih melakukan hal yang sama : mengunggah karya-karya kecil saya ke internet.

Meski saya suka menulis, nilai pelajaran Bahasa Indonesia saya tak pernah melebihi angka 8. Saya tak pernah hapal majas-majas dan tak pernah bisa membuat sebuah kalimat dari majas yang ditentukan, namun ketika menulis barang satu paragraf saja, isinya majas semua. Tak pernah mengerti bagaimana struktur kebahasaan, kalimat baku, ejaan yang disempurnakan (EYD), dan hal teknis lainnya.

Karena menulis sejatinya adalah tak menghadirkan teori. Setidaknya itu yang saya lakukan selama beberapa tahun belakangan.

Saya tak pernah bisa menjawab bagaimana teknik dan cara agar tulisan menarik. Karena sampai hari ini proses menulis yang saya jalani masih dalam proses pengolahan. Belum matang. Saya hanya bisa berkata: ’menulislah saja tanpa cara’. Roma tak dibangun dalam sehari.

Jika memang bakat menulis dalam diri saya adalah salah, setidaknya menulis adalah salah satu kebiasaan yang berulang dan tak dilarang.

Friday, 22 August 2014

Resensi Bekisar Merah (dan Belantik) Karya Ahmad Tohari







Judul : Bekisar Merah
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Cetakan : Cetakan Kedua, Maret 2013 (Cover Baru)
Jumlah Halaman : 360 Halaman

SINOPSIS

Bekisar adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas---kulit putih, mata eksotis---membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah seorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun Lasi gagap ketika nilai perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah keisengan, main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini yang memang sudah menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serbamudah, namun sama sekali tak dipahaminya. Apalagi kemudian ia terseret kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannuya itulah Lasi bertemu dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Merea kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Nmaun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta,. Berhasilah Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

**

Sebelum saya membaca Bekisar Merah, saya telah membaca e-Book dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak. Meski hanya sampai 3 halaman saja, setidaknya saya sudah berkenalan dengan gaya bahasa Ahmad Tohari yang ringan, lugas, dan sederhana.

Buku ini diawali dengan segala detil suasana desa Karangsoga ketika hujan sedang turun. Cara penulis membawa suasana tersebut dengan cara menceritakan satu detil kejadian kecil dalam suasana tersebut, lalu loncat ke deskripsi suasana kecil yang lainnya, hingga akhirnya meruncing tentang salah satu tokoh yang bernama Darsa sebagai penyadap nira.

Cerita begitu mengalir dengan deskripsi dan narasi yang begitu detil namun sederhana. Apalagi penulis selalu menceritakan keadaan desa Karangsoga secara terperinci dan detil. Membuat saya, atau bahkan perantau yang penat dengan kesibukan kota ingin segera kembali ke desa untuk sekadar pulang, berlibur, atau menikmati suasana dan udara yang tak dapat mereka beli di kota. Saya rindu Trenggalek.

Karena ketika menulis saya selalu mengedepankan deskripsi dan narasi, maka tulisan Ahmad Tohari patut diacungi jempol dan dapat dijadikan contoh dalam membuat deskripsi dan narasi yang detil, ringan, dan mampu membawa imajinasi pembaca.

Banyak nilai tambah yang terkandung dalam buku ini. Nasihat-nasihat jawa, tembang-tembang jawa buatan Eyang Mus, quote yang menggunakan bahasa jawa lalu diartikan ke bahasa Indonesia, kritikan kepada mahasiswa, pandangan penulis terhadap kejadian yang terjadi di permukaan masyarakat yang diolah dalam bentuk percakapan atau narasi, dan sebagainya.

Saya sendiri membaca kurang lebih empat poin yang saya tulis berdasarkan pendangan saya dari buku ini.
  1. Lasi adalah perempuan berdarah setengah Jepang. Di desa tempat ia lahir, tumbuh, besar, dan menikah, Karangsoga, keberadaannya kerap menjadi olok-olok bagi kawannya ketika kecil karena memiliki ciri khas tubuh yang berbeda dengan lainnya: kulitnya yang putih bersih dan matanya yang khas. Setelah ia dewasa, ia pun menjadi bulan-bulanan warga desa Karangsoga, seperti karena tak kunjung menikah, setelah menikah tak kunjung punya anak, sampai dihianati suaminya. Namun, ketika kakinya menginjak kota Jakarta, ia seperti barang berharga yang diagung-agungkan oleh beberapa pihak sehingga karena kenaifannya, ia menjadi objek bisnis berahi kalangan elite.
  2. Dikutip dari percakapan Kanjat dan dosen pembimbing skripsinya, Doktor Jirem : “Keterpihakanmu terhadap masyarakat penyadap, saya kira, merupakan manifestasi perasaan utang budi dan terima kasihmu kepada mereka yang telag sekian lama memberikan subsidi kepadamu. Ini bukan sebuah dosa ilmiah. Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita yang telah kehilangan rasa terima kasih kepada “ibu” yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan pragmatis. Agakanya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pragmatisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang moralis.
    Maka banyak sarjana seperti kita lupa, atau pura-pura lupa bahwa misalnya, guru yang mendidik mereka dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi digaji oleh masyarakat; bahwa sarana pendidikan yang mereka pakai dari gedung sekolah sampai laboratorium juga dibiayai dengan pajak orang banyak. Mereka lupakan ini semua sehingga status yang mereka peroleh dari sesarjanaan mereka hampir tak punya fungsi sosial. Mereka sekana merasa bahwa status kesarjanaan yang mereka peroleh semata-mata merupakan prestasi pribadi karenanya hanya punya fungsi individual.

    Jat, dengan demikian amat banyak sarjana seperti kita yang kehilangan keanggunan di mata masyarakat yang telah membesarkan kita. Mereka tak bisa berterima kasih dan membalas budi. Maka jangan heran bila masyarakat telah kehilangan banyak kepercayaan dan harapan atas diri orang-orang seperti kita.”

    Sebagai mahasiswa, membaca kalimat-kalimat Doktor Jirem seperti ditampar oleh dosen yang menjadi panutan dan saya hormati. Sakit, mengena, dan membuat saya sadar kalau saya mahasiswa yang belum melakukan apa-apa untuk Indonesia.
  3. Berkaitan dengan poin sebelumnya. Pak Tir barangkali ia adalah sebagai wakil atau simbol dari masyarakat pada umumnya. Menyekolahkan anaknya, Kanjat, sampai ke perguruan tinggi dan tidak tahu apa itu makna dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT), berpikiran bahwa sarjana yang telah lulus ‘harusnya’ bekerja, berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri, bergaji banyak, lalu makmur. Pak Tir sendiri tidak tahu jika ada yang harusnya ‘dikembalikan’ kepada rakyat.
  4. Allah SWT menghadiahkan satu bulan istimewa dalam satu tahun yang mana lebih istimewa dari seribu bulan: Bulan Ramadhan. Dalam kesusahan hidup masyarakat Karangsoga, mereka lantas amat bersyukur atas datangnya bulan yang penuh berkah tersebut. Dimana ketika kebutuhan gula naik, sehingga penyadap nira di Karangsoga mendapatkan nilai jual lebih besar dan mahal dari gula yang dibuatnya. Fakta ini menyebabkan kehidupan di Karangsoga makmur dalam kurun waktu satu bulan. Dalam hal ini penulis mampu menceritakan suka cita yang meruah yang saya sendiri dapat merasakan kegembiraannya. Apalagi ditambah tembang milik Eyang Mus:

Dina Bakda uwis leren nggone pasa
Padha ariaya seneng-seneng ati rag
Nyandhang anyar sarta ngepung sega punar
Bingar-bingar mangan enak nganti meklar
Di hari Lebaran sudah kita purnakan puasa
Kita berhari raya , bersenang jiwa dan raga
Berbusana baru, menyantap nasi pulen
Riang gembira santap enak hingga perut
Kenyang benar
Sebetulnya ada banyak poin yang menarik untuk dibahas. Tapi hanya empat poin di atas yang membuat saya berhenti membaca, berpikir, dan bernapas dalam karena ikut memikirkan dan merasakan apa yang dituliskan penulis.

Sebagai orang jawa, penulis sering memasukkan kalimat-kalimat dan frasa-frasa yang berbahasa jawa, seperti yang saya jelaskan di atas. Meski diberi keterangan berupa bahasa Indonesia, tetap saja bagi saya yang notabene juga berdararah Jawa, pembawaan bahasanya akan terasa berbeda. Ini menjadi nilai tambah yang juga sekaligus menjadi nilai kurang untuk mereka yang tidak mengerti bahasa jawa ketika keterangan bahasa indonesianya tidak dimunculkan.

Dari segi penokohan, penulis cukup mampu menyajikan karakter yang kuat. Meski digambarkan seperti Lasi yang begitu polos dan Kanjat yang sepertinya pasrah terhadap apa yang diterima Lasi, menurut saya hal tersebut adalah cara penulis bagaimana menguatkan karakter-karakter yang dibuatnya. Apalagi keberadaan Eyang Mus yang menurut saya beliau adalah karakter yang memiliki jiwa tersendiri yang sengaja dimunculkan penulis dalam buku ini.

Setiap buku selalu memiliki nilai kurang karena ditulis oleh manusia. Seperti buku ini. Yang pertama, terjadi kontras ketika penulis menceritakan tentang kota Jakarta. Tak sebegitu terperinci seperti mendeskripsikan desa Karangsoga. Membuat saya bertanya apakah hal ini berkaitan dengan unsur ekstrinsik penulis? Yang mana menurut biografi singkat yang saya baca dari internet, penulis tidak betah tinggal di kota besar dan sampai hari ini tetap bertahan untuk tinggal di tempat kelahirannya, Banyumas.

Yang kedua adalah plot, terutama dalam pembangunan konflik. Meski memiliki plot yang mengalir dan halus, pembangunan beberapa konflik di akhir cerita terasa kurang. Seperti ketika Lasi mengetahui kalau pernikahannya hanyalah main-main. Hal tersebut diceritakan hanya satu sampau dua halaman. Justru pada konflik pertama pada awal cerita, ketika Lasi dihianati suaminya, pembangunan konflik sangat halus dan konflik yang terjadi begitu terasa, dan memiliki antiklimaks yang pelan dan mengalir.

Yang ketiga dan terakhir adalah kesan tergesa dalam akhir cerita. Temponya berbeda dengan awal cerita yang begitu lamban dan mengalir. Konflik terakhir yang dibangun hanya dibawakan sebanyak tiga sampai empat halaman kemudian diselesaikan dengan menggunakan sebelas sampai lima belas halaman. Barangkali karena penyelesaian terjadi di kota Jakarta, dan berkaitan dengan kekurangan yang saya bahas di atas.


Saya rasa itu saja. Kekurangan yang ada rasanya akan tertutupi oleh nilai tambah yang menawarkan banyak hal yang barangkali jarang dimiliki oleh buku lain. 4,3 dari 5 saya rasa cukup.

Nah, saat ini saya sedang memulai membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Ah, kalau saya adalah mahasiswa sastra, sepertinya hubungan unsur ekstrinsik Ahmad Tohari terhadap karya-karyanya menarik untuk dijadikan topik penelitian skripsi. Kalau saja.

Wednesday, 13 August 2014

Merantau dan Kepulangan

Oh Ibu, tenang sudah lekas seka air matamu
Sembabmu malu dilihat tetangga

Oh Ayah, mengertilah rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya


Berkali-kali saya mendengar lagu ini dan baru kemarin sore sebelum berangkat ke kampus mengerti apa maksudnya: percakapan bapak dan ibu ketika anaknya sedang dalam perantauan. Setibanya di kampus, kawan saya bertanya, “Kuliah di Matematika pengabdian kepada masyarakatnya apa saja?” Jujur saya tidak mengerti. Percakapan kami sebelumnya memang mengarah kepada hal tersebut. Adalah tentang KKN yang memiliki hubungan dengan pengabdian kepada masyarakat yang sayangnya tidak diadakan di ITS.

Malamnya, ketika saya membaca buku Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari di kamar, saya telah sampai ketika Kanjat mengalami dilema untuk penulisan skripsinya. Isi skripsinya tentang kenyataan-kenyataan tentang penyadap nira di desa Karangsoga, tempatnya dibesarkan. Lantas ia sempat ragu jika penulisan skripsinya menonjolkan keterpihakannya terhadap kehidupan masyarakat di kampungnya. Sayangnya, keterpihakannya tersebut didukung oleh dosen pembimbingnya.

“Jat, kamu tahu, sudah terlalu banyak kaum sarjana seperti kita telah kehilangan rasa terima kasih kepada ‘ibu’ yang membesarkan kita. Mungkin karena, ya itu, mereka seperti kamu, takut dibilang sok moralis. Mereka lebih suka memilih hanyut dalam arus kecenderungan pragmatis. Agaknya mereka lupa bahwa dari segi-segi tertentu pramagtisme menjadi benar-benar amoral. Jadi mereka jadi amoral karena takut dibilang moralis.” Doktor Jirem, Dosen pembimbing skripsi Kanjat, Bekisar Merah oleh Ahmad Tohari hal. 92 cetakan baru.

Percakapan dengan dosen pembimbingnya mengarah kepada pemikirannya tentang biaya pendidikannya yang diambil dari keuntungan yang tidak wajar dari penjualan gula nira yang dijual kepada ayahnya. Dan sekaligus menampar saya sebagai mahasiswi yang sorenya diberi pertanyaan tentang pengabdian kepada masyarakat. Di tengah dilemanya tersebut, Kanjat memutuskan untuk pulang tanpa mengerti apa keperluannya untuk pulang.

Saya menatap langit-langit kamar sebentar memikirkan sesuatu. Kemudian meneruskan membaca.
Beberapa jam yang lalu saya membaca tumblr Banda Neira tentang lagu Di Beranda. Tentang bagaimana proses penemuan lagu tersebut. Dan baru saja saya melihat rak sepatu. Hanya sepatu merah saya yang tersisa. Biasanya ada lima pasang sepatu memenuhi baris pertama. Jika saya pergi, baris pertama tersebut kosong. Barangkali itu yang dirasakan nenek ketika bapak dan ibu pergi bekerja, kedua adik berangkat sekolah dan aku kuliah : kosong.

Tidak sampai 24 jam, saya dihadapkan suatu hal yang berkaitan : merantau dan kepulangan.
Sejak lama saya tertarik dengan pembahasan seperti ini. 21 tahun besar di Surabaya dan hanya pergi ke luar kota tidak sampai sebulan membuat saya kadang berpikir untuk merantau saja selepas kuliah nanti. Alasannya : bosan di Surabaya, ingin merantau, ingin merasakan jauh dari orang tua, ingin merasakan kepulangan karena rindu, ingin merasakan mengumpat rindu, dan semacamnya.

Saya salah satu orang yang sangat mengagumi perantau. Jauh dari orang tua, mengatur keuangan sendiri, mengalami rindu kepada orang tuanya, mengalami interaksi bersama orang tua di telepon, dan semacamnya yang tidak bisa dirasakan saya dan teman-teman yang tidak merantau.

Beberapa dari mereka memiliki kebiasaan yang unik tentang kepulangan. Ada yang tidak bisa pulang karena tidak pernah sempat, ada yang ingin pulang namun terkendala biaya, ada yang selalu memiliki kesempatan pulang, sampai ada yang tidak ingin pulang karena ia menyepelekan perkara pulang. Ada.

Saya amat suka perjalanan ke luar kota bersama teman-teman. Perjalanan tersebut bagi saya adalah miniatur kecil bagaimana merantau nanti. Alhamdulillah, ibu dan bapak tidak pernah membatasi anaknya untuk pergi asalkan kami terbuka mengenai mengendarai apa, dengan siapa, hendak kemana, sampai berapa hari, dan semacamnya.

Dalam perjalanan tersebut, kadang ibu atau bapak sms makan apa, tidur dimana, lagi ngapain, lagi dimana, uangnya cukup atau tidak, dan semacamnya. Tak sedikit dari sms tersebut saya acuhkan. Ini membuat saya tidak rindu rumah. Namun jika saya ke luar kota dan sedang di rumah saudara dengan fasilitas yang mirip dengan rumah seperti makan tiga kali sehari, ibu dan bapak amat jarang mengirimkan sms yang serupa. Ini membuat saya rindu dengan rumah.

Ah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika saya pergi ke perantauan untuk bekerja, membantu bapak dan ibu membiayai sekolah kedua adik. Apakah mereka masih menanyakan tidur dimana ketika saya sudah memiliki tempat kos yang layak? Apakah mereka masih menanyakan sudah makan apa belum ketika saya sudah memiliki jatah makan dari kantor? Apakah mereka masih menanyakan uangnya cukup atau tidak karena saya belum bisa mengatur keuangan?

Postingan ini mulai terasa sentimentil.

Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi

Dan jika suatu saat buah hatiku buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi

Usalah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu dia pasti pulang ke rumah

…pulang ke rumah…

Thursday, 24 July 2014

Bukan Resensi : Dilan oleh Pidi Baiq

Postingan ini dipost juga di tumblr saya. Harusnya postingan ini dipost di disini saja karena saya memosting hal-hal yang agak serius. Seperti postingan ini. Tapi saya ingin memostingnya tumblr dan blog. Kau mau berkehendak apa?

image
Image Source : Google
Buku diatas barusan selesai saya baca. Dalam sehari! Belum saya simpan di rak buku selama seminggu setelah membelinya, tiba-tiba saja saya ingin membuka dan membacanya. Padahal saya belum menyelesaikan Larung milik Ayu Utami.

Alasan saya membeli buku ini? Sebetulnya sederhana. Tapi detilnya agak rumit. Begini :

Senin tanggal 14 lalu, saya berputar-putar sebentar di Gramedia Tunjungan Plaza untuk menunggu janjian sama kawan menonton bioskop. Tiba-tiba saja sebuah judul buku menarik perhatian saya. DILAN : Dia adalah Dilanku tahun 1990. Pengarangnya Pidi Baiq.

Saya teriak histeris tapi berbisik seperti menggumam. Seperti menemukan buku yang telah lama dicari. Padahal, saya baru tahu buku itu hari itu juga. Lantas, kenapa saya histeris?

1. 1990. Saya selalu berharap menjadi remaja tahun 90an. Atau setidaknya dapat jodoh yang tumbuh di era 90an (tua ya hehe).
2. Pidi Baiq. Saya bukan fans amatirnya. Apalagi fanatik. Tapi saya ingat postingan tumblrnya yang beberapanya selalu bikin saya heran dengan sudut pikirnya.

Iya itu saja. Lalu saya punya cita-cita untuk memilikinya. Cover, sinopsis, tetek bengek di belakang buku sama sekali bukan pengaruh utama untuk memiliki cita-cita seperti itu. Sederhana ya? Hehe

Tapi sayangnya, saya harus sedikit urung. Klise : uang yang saya bawa nggak cukup.

Hari Rabu, tiba-tiba iseng untuk pergi ke toko buku diskon dekat rumah. Ingin beli Dunia Sophie kalau masih ada. Sekalian ngecek apa ada novel yang saya cita-citakan untuk dimiliki tersebut. Ternyata ada. Tapi sayangnya, saya harus urung lagi. Uangnya nggak cukup.

Hari Jum'atnya, setelah bahagia karena telah menemukan Cutting Mat dan Pen Cutter yang sedang diidam-idamkan selama setengah tahun belakangan dan dapat diskon sepuluh persen (hehe), motor saya belokkan ke toko buku murah yang Rabu kemarin saya kunjungi. Hari itu kebahagiaanku melimpah ruah. Cita-citaku kesampaian!

Hehe.

Baru saja kemarin, sambil menunggu sahur (liburan, saya nokturnal. Kata ibu, saya ini Kalong. Anak Kelelawar), saya buka bungkus Dilan. Dan saya jatuh cinta ketika aku (Milea) bercerita tentang bahasa yang digunakan Dilan : sedikit melayu dan baku. Lalu saya ingat Zetra Kyanofaruq dan Ananda Badudu.

Berlembar-lembar ditelan mata karena diksinya yang ringan, lalu ketiduran di halaman 200. Dan kulahap sisanya ketika beli kebab dan menemani kawanku pergi bimbingan Kerja Praktek.

Ini Teenlit. Tapi pakai setting tahun 1990. Nggak ada mol, handphone, internet, drama yang berlebihan, si cantik nan modis dan si cupu yang ndeso, dan sebagainya a la teenlit-teenlit era sekarang.

Pertemuan mereka sederhana. Plotnya amat klise. Diksinya biasa saja, tidak banyak narasi. Settingnya itu-itu saja. Dramaturginya apalagi. Hehe.

Tapi saya bisa jatuh cinta. Kluget-kluget (gerakan ulat dalam bahasa jawa) sendiri karena melting, tertawa lepas sendiri, dan tersenyum sendiri. Ya Tuhan, saya jatuh cinta sama Dilan! Sampai-sampai saya enggan meminjamkan buku ini kepada siapapun. Agar yang jatuh cinta sama Dilan saya saja.

Pidi Baiq berhasil membuat saya jatuh cinta kepada Dilan karena karakternya yang lugas, sederhana, manis, menyenangkan, spontan, memiliki sudut pandang yang berbeda, dan pasti membuat jatuh cinta gadis remaja, wanita yang ingin menjadi gadis remaja, sampai perempuan yang mengingat dirinya pernah menjadi gadis remaja.

Apalagi ia menyuguhkan set SMA. Masa yang paling didambakan terulang kembali. Dan tiba-tiba saya teringat dengan Ada Apa Dengan Cinta. Dilan adalah Rangga dengan karakter yang bertolak belakang. Namun keduanya dapat membuat perempuan seperti saya kluget-kluget.

Untuk lebih penasaran, bacalah komentar-komentar pembaca yang lain di goodreads. Ini linknya. Tinggal klik kanan - open in new tab. Tak perlu buka google. Komentar-komentarnya juga mewakili saya banget.
Sudah saya bilang, ini bukan resensi. Semoga saja bukan bukan spoiler.

Ratingnya? 4,5 dari 5. Setengahnya karena kejadian-kejadian yamg membuat Milea penasaran dan saya ikut penasaran nggak dijawab di halaman selanjutnya.

Sunday, 6 July 2014

Keinginan yang Lain

Kalau boleh flashback, tahun 2013 kemarin saya dipertemukan dengan banyak orang-orang baru yang benar-benar heterogen. Ceritanya panjang. Mulai dari diberi kesempatan untuk mengikuti workshop Klasik Muda, sampai menjadi bagian dari Surabaya Youth Carnival 2013 sebagai Human Resource.

Dari orang-orang yang saya temui, banyak diantaranya memiliki ketertarikan yang sama : membawa sebuah perubahan kecil untuk Indonesia. Mulai dari volunteerfounder, co founder, yang mengikuti banyak summit, sampai orang yang sering berada di balik mereka semua. Dan alhamdulillah, saya mendapat banyak energi positif dari mereka semua.

Komunitasnya juga tidak kalah. Mulai dari yang bergerak di bidang sosial atau pendidikan, atau di bidang interest. Ada Kelas Inspirasi, Indonesian Youth Motion, Lendabook, GMSI, SCC, dan masih banyak lagi.

Saya mendukung gerakan mereka. Namun, dari keikutsertaan saya terhadap kegiatan mereka, bisa menerangkan kalau saya ini biasa saja terhadap mereka. Saya nyaris tidak pernah ikut serta dalam beberapa program yang mereka jalankan. Bukan tidak tertarik. Namun ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : seni.

Ada seni memang dalam beberapa program mereka. Namun hanya sebagai pendukung atau penyokong saja. Tidak sebagai pergerakan utama. Saya bisa saja menjadi bagiannya ketika program itu dilaksanakan. Namun tetap saja : "Bukan karena tidak tertarik, melainkan ada bidang lain yang membuat saya lebih tertarik : jika pergerakan utama komunitas tersebut bergerak dalam bidang seni".

Saya suka seni. Sebagai penikmat, tentunya. Juga sebagai orang yang mempelajarinya. Saya suka dengan kesenian tradisional yang beragam di Indonesia. Juga kesenian yang sedang berkembang. Mulai dari ludruk, tari tradisional, ketoprak, wayang, wayang orang, tari kontemporer, lukis, fotografi, musik, sampai teater.

Untuk menikmati dan mempelajari, kecenderungan saya memilih kepada seni pertunjukan seperti tari dan teater. Sedang seni visual seperti lukis, fotografi, musik dan lainnya, saya memilih untuk menikmatinya saja sambil menjadi pengamat amatir. Hehe.

Karena kebanyakan mengamati seni pertunjukan, sering keluar gerakan-gerakan spontan dari tubuh saya. Seperti lambaian gemulai tangan pada tari jawa atau bali, gerakan-gerakan kepala, mendhak, beberapa gerakan pada wayang orang, sampai menirukan beberapa bahasa tubuh yang diciptakan oleh penyaji dalam sebuah seni pertunjukan.

Beberapa kawan saya juga pernah bertanya apakah saya pernah menempuh pendidikan non-formal dalam bidang menari. Tidak. Malah, saya orang yang tidak aktif dalam ekskul sekolah dalam bidang tari. Namun dulu ibu saya seorang penari. Ini bukan bakat yang diturunkan. Melainkan akibat dari saya menjadi pengamat amatir sebuah pertunjukan.

Kadang-kadang, saya memiliki keinginan untuk mempelajari seni tersebut. Bukan dari jalur formal, tentunya. Karena saya ingin mempelajarinya sebagai sarana untuk menghibur diri atau memperkaya ilmu untuk mengolah tubuh. Tapi jika formal adalah jalur yang juga mampu saya tempuh, kenapa tidak?

Saya yakin, orang tua saya tidak akan melarang selama saya tidak melupakan apa saja kewajiban saya sebagai anak, mahasiswa dan perempuan. Tapi, cita-cita dan keinginan tersebut selalu terkendala satu masalah klise : uang.

Baiklah, barangkali saya bisa mengajukan beasiswa atau menabung mulai sekarang. Jika menggunakan beasiswa, saya bahkan tidak memiliki sejarah atau prestasi sama sekali. Tapi jika menabung, waktu yang dikumpulkan tidaklah sebentar.

Atau semesta memilih cara lain? Misalnya, salah seorang teman menawarkan untuk mempelajarinya di sebuah sanggar yang baru saja ia dirikan. Ia hanya butuh massa untuk ia ajar.

Jika saya diperbolehkan bermimpi tentang hal ini, saya ingin diberi kesempatan untuk mempelajarinya (atau mengenalnya) sampai Eropa. Dimana kesenian-kesenian seperti teater, tari kontemporer dan sebagainya lahir. Saya ingin membandingkan dua tari tradisional dari Negara Indonesia dan Benua Eropa.

Lalu umurmu bagaimana? Umur hanyalah sebuah angka. Untuk menipunya, saya sudah mempelajarinya di jurusan Matematika. Hehe, abaikan.

Semoga keinginan ini terpelihara sampai selesainya pelaksanaan.
Semoga semesta mengamini dan mendukung.
Semoga Tuhan mengiyakan.

Aamiin..

Friday, 4 July 2014

Penyebab Hari Ini

Kita tidak pernah memilih : peristiwa mana yang harus kita ingat secara cermat, kesalahan-kesalahan yang harusnya jadi pelajaran, orang-orang yang akan sering kita temui, atau apa saja yang semesta inginkan terjadi kepada kita secara tidak sadar.

Tuhan itu satu. Maka kita ini banyak macamnya. Meski tidak mirip secara mutlak, setidaknya, tak hanya aku saja atau kalian saja yang memiliki masa lalu yang sama. Misalnya : menjadi korban bully.

Tuhan menciptakan makhluknya dengan berbagai pola yang sama, dan diletakkan pada pribadi-pribadi yang berbeda secara acak. Ini sebabnya kita akan bertemu dengan berbagai orang yang heterogen, namun beberapa diantaranya memiliki beberapa kesamaan. Entah dua diantaranya, tiga, atau bahkan semuanya.

Bermain dengan karakter adalah suatu hal yang menarik bagi saya. Dalam menulis, saya suka membuat satu karakter baru yang kuat. Dalam berteater, saya suka membedah karakter tokoh-tokoh yang ada dalam naskah. Ini menyebabkan saya suka bertemu dengan orang-orang yang heterogen. Entah hanya untuk observasi, atau hanya berkenalan saja. Yang nantinya akan menjadi bahan karakter baru dalam cerita-cerita saya.

Berkenalan dengan satu karakter itu tidak mudah. Amat tidak mudah.

Misalnya, ketika kita bertemu dengan orang yang selalu melipat tangannya di depan dada tersenyum sekenanya dan obrolan yang pedas ketika ia berkenalan dengan orang yang baru. Kita boleh berpikir macam-macam tentang dia. Negatif atau positif. Tapi dari situ membuat saya bertanya : apa sebab yang membuatnya bersikat seperti itu?

Dalam naskah teater justru lebih mudah. Dicari saja dialog atau bahasa tubuh lainnya yang diberikan oleh penulis dalam naskahnya. Tapi dalam realitas?

Saya yakin, masing-masing dari kita pasti pernah bertemu dengan manusia lainnya dengan karakter yang tidak biasa. Hadapilah, tak perlu mencela, tak perlu dibuat bahan tertawaan dibelakangnya. Dia lebih berani menjadi dirinya sendiri dengan masa lalu yang barangkali kita tak bisa hadapi. Atau malah, masa lalumu akan terkesan biasa saja di matanya.

Karena saya pernah mengalaminya. Saya tahu bagaimana rasanya. Lalu saya pernah mengalami krisis karakter. Untungnya, saya tidak bisa menjadi orang yang bukan saya. Ini membuat saya paham kalau  sifat seseorang atau sikap yang ia lakukan hari ini adalah akibat dari kejadian-kejadian yang menimpanya secara berkala di masa lalu, dan apa saja yang kita terima secara tidak sadar pada hari ini secara terus-menerus akan menjadi sebab bagaimana sikap dan sifat kita nantinya.

Kita tidak pernah memilih : peristiwa mana yang harus kita ingat secara cermat, kesalahan-kesalahan yang harusnya jadi pelajaran, orang-orang yang akan sering kita temui, atau apa saja yang semesta inginkan terjadi kepada kita secara tidak sadar.


Karena Tuhan memiliki pola-Nya.

Monday, 9 June 2014

Berbicara Sedikit Tentang Aktor

Pertama kali melihat John Watson pada serial TV Sherlock Holmes, yang membuat aku tertarik untuk menerka siapa dia adalah dari caranya menggerakkan tangan ketika sedang akan berpikir sebelum membuat sebuah keputusan. Sedikit meremas salah satu telapak tangannya, memainkan sedikit bibirnya, dan kedikan kepalanya. Familiar. Membuatku menduga bahwa ia adalah aktor yang sama yang memerankan Bilbo Baggins di film The Hobbits.

Martin Freeman. Setelah memastikan di IMDb. Ternyata mereka adalah benar orang yang sama.

Kedua, adalah ketika iseng melihat video-video mime(pantomim) di laptop Rengga dengan seorang kawan yang lainnya, Bowo. Aku bagian melihat saja. Tidak memilihkan video mana yang akan dilihat. Bowo memainkan video ini :



Yang menarik bagiku adalah gerakan pemeran utama (sang mime) pada detik ke 30-40 berupa caranya mengedikkan kepala dan menggerakkan mulutnya ketika berpikir. Membuatku ingin menerka kalau ia adalah orang yang sama di serial TV Sherlock Holmes. Pemeran John Watson, tentunya. Artinya, adalah orang yang sama dengan orang yang memerankan Bilbo Baggins.

Martin Freeman. Benar, ternyata. Aku memastikan di credit tittle nya.

Aku bahagia ketika dapat menerka seorang aktor dari bahasa tubuhnya. Seperti Martin Freeman ini. Ia memerankan tiga tokoh yang berbeda. Yang jelas-jelas aku tidak menerkanya dari wajah. Karena ia memerankan tiga tokoh dengan make-up yang berbeda. Bilbo Baggins dengan make-up fantasi menjadi seorang Hobbit, John Watson dengan make-up realis, dan seorang mime dengan make-up mime.

Tiga karakter berbeda, dengan make-up yang jelas-jelas berbeda, namun sang aktor membawakan dengan beberapa bahasa tubuh yang sama. Aku menemukannya di dua aktor monolog di Tiyang Alit. Mas Tile yang memerankan tokoh dalam naskah monolog Arkeologi Beha dan Black Jack memiliki karakter ‘Mas Tile’ yang sama. Inyong yang memerankan tokoh dalam naskah monolog Prodo Imitatio dan Bangsat juga memiliki karakter ‘Inyong’ yang sama pula. Aku tak bisa menjelaskan disini kalau kalian sendiri tidak mengamatinya.

Jika seorang aktor memerankan beberapa tokoh dengan karakter yang berbeda, namun terletak banyak perbedaan bahasa tubuh, dan aku tidak dapat menerka jika mereka adalah aktor yang sama, aku berpendapat ia memiliki keaktoran yang luar biasa.

Seperti aku menemukannya pada diri Johnny Depp. Sepanjang pengetahuanku, ia menjadi pemeran utama dalam film Pirates of the Caribbean sebagai Jack Sparrow, Charlie and the Chocolate Factory sebagai Willy Wonka, Alice in the Wonderland sebagai Hatters, Finding Neverland sebagai Sir James Matthew Barrie, dan beberapa film lainnya. Asyiknya, aku tak menemukan kesamaan karakter ‘Johnny Depp’.

Ah, barangkali aku belum saja menemukan kelemahan Johnny Depp dalam membawakan sebuah karakter. Seperti Martin Freeman dan Jim Sturgess. Aku telah menemukan beberapa bahasa tubuh yang sama dari mereka. Hihi.

Wednesday, 14 August 2013

50 Kreatif -- 50 Konsumtif

kre·a·tif /kréatif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;
Kata Bung KBBI sih begitu. Namun, setiap kali aku iseng bikin tempat pensil dari membredel dua tempat pensil kekecilan yang belum pernah dipakai atau membuat sendiri notes impian yang bikin teman-teman perempuan memekik 'Juuuuun bikiniiiin!!', saya dicap kreatif. Dan, siapa sih yang tidak bahagia dicap dengan label keren itu, hm?

Kalau ditanya dari mana ilmu ini berasal, sepertinya diturunkan dari bapak dan ibu. Bapak sering membuat beberapa perabotan rumah seperti meja, rak buku di kamarku, beberapa alat crafting, dan printilan kecil yang tidak terlihat. Kalau ibu, hasil tangannya adalah tutup kulkas, taplak meja, rajut pinggiran jilbab, dan printilan dari jahit menjahit. Aku? 

Ketika SD, sempat mengumpulkan undangan bekas untuk digunting motif apik yang ada untuk dijadikan frame foto atau pembatas buku. Waktu SMA pernah mendaur ulang map binder yang rusak menjadi tempat pensil gulung yang konsepnya mirip tempat kunci obeng milik bapak, dan masih banyak lagi. 

Meskipun barang jadi adalah hasil rombakan dari barang yang sudah tidak terpakai, tapi tetap saja, tangan dan mata ini tidak bisa tenang-tenang saja kalau melihat alat atau bahan dasar crafting yang menggiurkan mata untuk diolah. 

Ah, temanku sering menggumam, "Kamu ini kreatif atau gak bondo, Jun?". Saking seringnya aku merombak barang-berang bekas yang ada menjadi barang apik sangat layak pakai. Saking seringnya aku 'meneliti' barang teman yang baru dibeli, kemudian diam-diam mencoba menduplikatnya hanya untuk memuaskan nafsu penasaran. Gak bondo dan kreatif itu merempet-merempet lah. Hehe :p

Ngomong-ngomong soal kreatif, kemarin aku mengadakan pertemuan kecil dengan sahabat saya yang juga kreatif dan pintar menggambar, Stefani Arisandi. Kami membahas tentang mimpi kecil kami. Dan kami seperti kalap imajinasi ketika membayangkan tentang kreatif.

Dari obrolan tersebut, saya berimajinasi kalau seluruh masyarakat Indonesia kreatif, dan membuka usaha sendiri-sendiri untuk mencukupi ekonominya sendiri. Atau setidaknya tidak menjadi konsumen dari barang-barang impor. 

Namun, jelas itu tidak mungkin. Lantas, siapa yang akan membeli produknya? Yap, bangsa ini juga membutuhkan mereka-mereka yang konsumtif. Konsumtif terhadap produk asli karya anak bangsa. 50% nya kreatif, 50%nya konsumtif. Imbang.

Sunday, 6 January 2013

Ada yang Recycle Dan Senyumlah-nya Sinikini

Setiap kali temenku minta pendapat ke aku lagu apa yang paling enak buat didengerin, aku selalu ngeracunin mereka untuk mendengar lagu-lagu kesukaanku. Terutama lagunya Sinikini yang Dan Senyumlah. Dan, mereka selalu tanya, "Siapa itu Sinikini?". Sinikini? Band yang seangkatan dengan Singiku, Protonema, dll. Dan mereka masih tanya lagi, "Siapa itu Singiku? Protonema?"

Sinikini, Singiku, Protonema adalah band yang lahir dan populer di era tahun 90an. Setidaknya itu yang kubaca dari internet. Disini aku cuma ulas Sinikini saja, ya. Karena yang aku tahu banyak juga Sinikini aja, yang lainnya cuma ngikut hehe. Lagian, judulnya juga ada 'Sinikini'.

Sinikini. Yang kutahu, band ini timbul dan tenggelam dalam satu dekade yang sama. Sekitar tahun 97-98an. Jaman segitu mah, aku masih SD. Dan masih belum tahu betul sama lagu ini. Vokalisnya digawangi oleh Aryo, adik bungsu dari Iwan Fals. Sayangnya, udah meninggal entah pada tahun berapa setelah album pertama mereka rilis di pasaran. Yang jelas, setelah vokalisnya meninggal, band ini juga bubar. Ini sepanjang yang saya tahu loh. Kalau salah, mohon diingatkan.

Lagunya yang paling ciamik di telingaku adalah 'Dan Senyumlah'. Sekitar tahun 2008 akhir, aku dengar lagu ini lewat radio, dan entah panggilan apa, aku nulis beberapa liriknya di sebuah kertas, kemudian searching di Google. Hasilnya? Ketemu Sinikini - Dan Senyumlah. Nggak lama, aku download lagunya lewat internet (pembajakan).

Sempat selama beberapa bulan aku mengucilkan lagu ini karena aku pikir, lagu ini tua benget dan nggak banget. Tapi, yang namanya karma pasti ada. Aku kembali suka dengan lagu ini. Bukan suka lagi. Ketagihan malah. Bolak-balik dengerin lagu ini, telingaku nggak pernah bosen. Udah gathuk (cocok) kali ya. Hihihi. Aku pernah posting liriknya. Disini. Atau, search di Google juga bakal dapet :p

Kenapa suka dengan lagu tua yang satu ini? Yang pertama, aku suka intronya. Yang kedua, ada keterkaitan luar biasa untuk ketagihan ngerepeat seribu kali kalau aku lagi sedih. Yang ketiga, aku suka liriknya yang ini :
Menelusuri hening malam, hari-harimu terlewatkan.Kau hanya bicara berteman khayalan, kau tak mendapat jawaban.Bukan akhir s'galanya, bumi masih akan berputar.Senyummu masih menawan, cerita cinta masih akan datang.
Yang keempat, jarang banget orang yang tahu lagu ini. Yang tahu ya cuma orang angkatan segitu :p. Berasa punya rasa kepemilikan yang kuat kalau nggak banyak orang tahu lagu yang kita suka. Berasa aku ini punya selera yang unik banget gitu (takut dikira selera ketuaan).

Saking sukanya aku sama lagu ini, aku sering banget ngesearch di twitter siapa aja yang ngetwit tentang Sinikini. Kali aja nemu info kalau mereka konser di Surabaya, dengan personel baru. Atau bikin album baru, atau sekedar tahu siapa saja yang hari ini muter lagunya Sinikini. Sederhana, sih. Di postingan sebelumnya juga aku sempat bahas kalau lagu ciamik ini masuk di novel 5cm yang sekarang filmnya lagi 'in'.

Jadi, aku menemukan seseorang yang ngerecycle lagu ini. Responku? PENASARAN!!
Namanya @karmalogy, klik aja link disebelah untuk tahu orangnya kayak gimana via twitter. Kalau penasaran, sila dengar lewat sini, di bawah ini, atau kunjungi twitmusicnya disini.


Orangnya baik. Balesin semua mention dari aku. Arransemennya juga lumayan. Cocok lah dengan kupingku. Jazz-jazz gimanaaa gitu. Sub genrenya aku kurang tahu. Sejenis lagunya Utha Likumahuwa yang Esok Kan Masih Ada, sepertinya. Apalagi bawain lagu sukaanku. Sinikini - Dan Senyumlah. Aku makin ikhlas ngepost tentang dia disini. Yah, namanya juga jatuh cinta berkali-kali dengan lagunya :) dan, ini aku lagi dengerin lagunya. udah berulang-ulang loh. Yuk cobaa. :D

Sayangnya, aku harus online di PC ata lepi untuk mendengarkan lagu ini. Gimana kalau aku ketagihan dengan lagu ini, tapi sedang nggak ada koneksi internet? Tapi itu bukan masalah yang besar. Silakan ditunggu rilisnya. Aku sih ya, nggak sabar untuk liat MVnya.

Saturday, 29 December 2012

Tentang 5cm

5cm. (nyaris) Semua orang membicarakannya. Mulai novelnya yang dapet penghargaan goodreads dan menginspirasi banget, sampai filmnya yang sudah menganak pinak. Istilah mudanya, 5cm sedang in. Meski sayangnya, nggak semua penikmat film berpikiran 'bagus' terhadap filmnya. Okelah, bisa dimaklumi karena pandangan dan selera seseorang itu berbeda. 

Beberapa temen saya yang excited dengan bukunya, juga excited dengan filmnya, kemudian langsung pingin naik ke Mahameru. Ada juga yang belum baca bukunya, udah nonton, kemudian pingin baca bukunya. Malah ada yang menyarankan jangan nonton filmnya, karena filmnya biasa aja. Macem-macem

Dan ada yang cuma excited dengan bukunya saja, sedangkan filmnya biasa aja. Golongan ini salah satunya adalah saya. Eh, tapi bukan berarti filmnya jelek lhooo. Kenapa? Kalau versi saya sih ya, dimana-mana, buku itu pasti lebih bagus daripada film atau visualnya. Karena, ketika kita baca buku, imajinasi kita luas. Berbeda dengan lihat film atau visualisasinya. Pasti tercetak dengan tangan tim produksi dalam film tersebut. Kalau saya sih, mikirnya begitu.

Pertama kali baca novel ini sekitar awal tahun 2011. Belinya pun setelah gajian (Karena saya sudah kecanduan sekali kalau punya uang arah konsumtifnya itu selalu ke buku. Baik, kan?). Setelah baca novelnya, overall bagus. Banget. Inget deh saya bacanya sampai jam 3 pagi, sedangkan paginya harus kerja :p. 

Meski sayangnya, kebanyakan dialog. Apalagi beberapa dialognya ada yang 'tidak diketahui tuannya'. Maksudnya, kalimat itu nggak tahu siapa yang ngomong. Karena nggak ada keterangan namanya, sih. Kemudian, ketika bagian narasi, menurut saya paragrafnya terlalu berlebih. Panjaaaaaaang baaaaanget.

Tapi, kan dari awal saya sudah bilang kalau novel ini bagus. Banget. Banyak alasan sih. Apa aja?
  1. Ada lagunya Sinikini yang Dan Senyumlah. Dalam buku 5cm, ditulis di halaman 260. Ini alasan paling pertama, paling utama. Belum ada lagu yang dahsyatnya bisa mengalahkan lagu ini. Dan lagu paling dahsyat ini, masuk buku 5cm.
  2. Banyak lagu kerennya. Beberapa lagunya sih saya tahu. Apalagi, nggak sengaja, akhir-akhir ini playlist baru saya semua masuk di buku ini :p Masih di halaman 260 juga, ada Utha Likumahuwa - Esok Kan Masih Ada.
  3. Zafran, Juple. My favorite character, benar-benar karakter favorit saya. Di otak saya, begitu nama Zafran tercetak, gambaran fisiknya mirip dengan.. Zuko. Dan, dalam filmnya, abang saya yang meranin. Junot.
  4. Deniek, pendaki yang ketemu di jip, yang suka fotografi, yang akhirnya di dalam bukunya menikah dengan Dinda, adalah mahasiswa ITS. Halaman 209. Katanya, dia dari Surabaya, kemudian menyebutkan salah satu kampus teknologi terkenal di Surabaya. Apa lagi kalau bukan ITS? :) Tapi, kalau itu diambil dari kisah nyata, berarti yang di Arcopodo..
  5. Banyak ilmu yang sebelumnya saya nggak tahu. Beberapa hitungan fisika, sejarah, film, musik, politik, peristiwa reformasi, dan macem-macem. Dan cerdasnya, penulis merangkumnya dalam bentuk fiksi yang enak untuk dikonsumsi, sebelum pada akhirnya pembaca (dalam hal ini adalah saya) bisa menumbuhkan rasa keingintahuan sehingga terciptalah beberapa pekerjaan seperti searching atau mencari tahu. Kalimat terakhir enggak bangeeeeet -__-
Untuk filmnya? Cuttingnya pas. Di beberapa adegan dalam buku yang sepertinya nggak seberapa ditunggu, atau angka 'ditunggu untuk melihat visualisasinya' sedikit. Dan, pemandangannya keren bangeeeeet. Tapi kerenan lihat langsung kali, ya. 5D. Langitnya!! Saya cuma bisa diem.

Overall, film 5cm layak untuk ditonton kok. Kalau bioskopnya ramai, mending nonton sendiri seperti saya :p

Wednesday, 3 October 2012

#sikap : Jabatan Batik di Hari Batik Nasional

UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi milik Indonesia tepat tiga tahun lalu, tanggal 2 Oktober 2009. Setelah itu, pemerintah menetapkan tanggal tersebut menjadi Hari Batik Nasional. Sayangnya, tidak semua orang tahu mengenai hal itu.
Pada tahun ini, adalah tahun ketiga kita memperingati Hari Batik Nasional. Sangat miris sebenarnya ketika saya sendiri sebagai mahasiswa yang juga mencintai batik menyikapi batik di tangan kita di Hari Batik Nasional ini.
Batik. Masyarakat kalangan mana yang tak mengenal warisan budaya satu ini. Batik yang dikenakan dahulu dan sekarang amatlah berbeda. Secara umum, dahulu batik adalah sebuah ‘sandang’ yang sangat sakral. Mulai dari cara pemakaian, siapa yang memakai, waktu pemakaian dan sebagainya. Segalanya diatur.
Seperti salah satu motif batik yang sangat saya sukai, yaitu motif parang, yang bentuknya mirip integral. Terutama parang rusak, motif yang hanya dikenakan oleh para bangsawan di beberapa acara kenegaraan dan beberapa upacara adat.
Batik sebelum hari ini adalah sebuah benda dengan harga ‘mahal’. Meski nyaris seluruh kalangan memilikinya, mereka hanya memakainya di acara-acara besar seperti memenuhi undangan di acara pernikahan kerabat, pertemuan dengan RT, rapat RW, dan sebagainya.
Dan batik hari ini adalah batik yang bisa dikenakan di berbagai acara. Sering dari kita kuliah pakai batik, jalan-jalan pakai batik. Bahkan, maba pun dihimbau untuk ber-dresscode batik. Saya ikut senang dengan perkembangan batik yang seperti ini. Batik yang sudah ‘luwes’ dikenakan. Terutama motif parang rusak, yang menurut saya dapat meningkatkan aura pemakainya (terutama lelaki). Siapa saja bisa memakainya, tanpa harus menyandang keturunan darah biru.
Apalagi dengan adanya batik cap. Batik yang teknik pembuatannya sedikit lebih mudah dibanding batik tulis. Ini juga membuat harga batik cap sedikit lebih miring ketimbang batik tulis. Dari segi kualitas mungkin sedikit berbeda, walau dilukis di kain yang sama. Meski menurut saya batik tulis lah yang memiliki nilai lebih karena keorisinilan dan ‘rasa’ yang tak tertandingi, tetap saja itu bukan menjadi masalah yang besar.
Dibalik euforia saya akan kebanggaan kepada batik yang semakin merakyat, saya sedikit menyayangkan kedudukan batik di pasaran saat ini. Ambil saja contohnya batik sembur. Batik yang warnanya warna warni. Entah apa, saya kurang suka dengan batik seperti itu. Coraknya mungkin tidak jauh beda dengan batik pada umumnya. Namun, yang membuat saya sedikit risih adalah warnanya yang warna warni, yang sedikit melenceng dengan batik pada umumnya.
Lantas, batik seperti apa yang ‘batik pada umumnya’? Batik yang motif-motifnya seperti jarik yang biasa dikenakan, yang memiliki estetika batik sesungguhnya. Menurut KBBI, batik sendiri artinya adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Memang tidak ada keterangan secara spesifik bagaimana batik itu sendiri dinamakan batik, setidaknya batik sembur tidak semena-mena menamai dirinya dengan kata-kata ‘batik’ didalamnya. Mengingat batik yang diwariskan adalah batik dengan warna dominan coklat, atau tergantung dari daerah asal batik tersebut.
Belum lagi batik yang digabungkan dengan logo tim sepak bola dengan motif yang warna-warnanya sedikit aneh. Yang saya pertanyakan disini adalah, dapat motif dari mana kalau itu batik?
Ada hal lain lagi yang membuat membuat saya semakin miris. Adalah posisi batik saat ini. Yang saya lihat, batik saat ini tak lagi menjadi motif yang sakral. Tak lagi menjadi sebuah ‘sandang’ yang diagungkan. Mungkin karena batik sangat merakyat, atau bahkan terlalu merakyat, maka produsen memilihnya untuk menjadi motif pada produknya.
Contohnya saja, karena keindahannya, batik kini menjadi alas tidur di beberapa hotel yang mengusung tema Indonesia. Di pasar, kebanyakan batik dijadikan motif pada sandal atau sepatu. Di tumah tangga, batik dijadikan sarung bantal sofa atau taplak meja yang nanti sewaktu-waktu bisa kotor. Atau jadi tas, yang jahitannya asal-asalan, sering dipake, akhirnya warnanya pudar dan lusuh. Kalau sudah rusak, dan lusuh, ujung-ujungnya masuk ke pembuangan.
Batik yang dahulu diagung-agungkan, yang memiliki ‘kedudukan’, sekarang menjadi benda pakai yang kedudukannya sangatlah tidak sama. Hal ini sangat disayangkan. Mengingat batik adalah warisan budaya yang sudah diakui oleh UNESCO.
Kebijakan tentang batik dapat dikenakan oleh semua kalangan dan usia bukanlah perkara mudah. Saya ulangi lagi, saya sangat suka melihat batik yang merakyat. Dalam hal ini memiliki pengertian bahwa batik dikenakan sebagai sandang atau pakaian. Bukan sebagai motif pada beberapa benda pakai yang membuat batik kehilangan ‘jabatannya’.
Coba kita tengok warisan budaya lainnya : kain songket, atau kain tenun khas di beberapa daerah, misalnya. Saya memang tidak tahu secara mendetil bagaimana kain tersebut ‘berperan’ ketika dikenakan. Yang saya tahu, selain kain songket harganya sangat mahal dan elegan, mereka biasanya disimpan di lemari, dirawat baik-baik, diperlakukan istimewa, seperti kain batik tulis asli yang harganya selangit.
Mungkin secara teknik, lama pembuatan, dan lain lain kedua kain tersebut berbeda. Namun tetap saja, keduanya adalah warisan budaya Indonesia yang kita harus jaga, tidak perlakukan dengan seenaknya sendiri.
Dipikir-pikir, pemerintah harusnya mengritisi tentang kain yang satu ini. Misalnya, kebijakannya diperketat, motif-motif batik memiliki trade mark-nya, batik hanya boleh dihasilkan di pengrajin batik yang memiliki ‘surat-surat’ dan kewenangan untuk memproduksi batik, dan sebagainya. Redesain batik boleh saja namun harus memenuhi kriteria dan seleksi oleh beberapa orang yang sudah lama bergelut dengan batik.
Dan, apakah kalian tahu batik motif apa yang kalian kenakan hari ini? :)

Tuesday, 24 January 2012

Penyesalan.

Penyesalan tidak datang terlambat. Penyesalan datang tepat waktu. Ia tidak pernah dihukum. Ia selalu datang ketika semuanya sudah terjadi.
Kehilangan harapan setelahnya, kehilangan angan, kehilangan cita-cita. Seakan-akan bukan dementor lagi yang mengambil beberapa kebahagian milik kita. Lantas siapa? Kita sendiri, dengan penyesalan yang menggelayuti.
Lalu, kita harus apa? Yang paling baik adalah bukan hanya pribadinya sendiri yang harus bergerak. Angin di sela-sela napas yang kau hirup masih sempoyongan. Boleh saja kau meminta pertolongan bangkit dari angin tersebut. Kalau itu masuk akal, silakan saja. Kalau memang sudah tidak ada benda sepertimu yang sanggup.
Tidak. Pertama, mintalah kepada Tuhanmu. Dia maha Esa. Dia satu. Jadi, seharusnya Dia-lah yang menjadi pilihan pertama untuk itu semua. Kau, utarakan dengan caramu sendiri. Aku tidak perlu memerintahkannya, kan?
Kamudian, dirimu sendiri. Lihatlah. Apakah kau seharusnya menyesal atas itu semua? Apa itu bisa diperbaiki? Perlahan-lahan, berpikirlah. Cari ujung akar hingga pucuk daun yang masih muda. Semuanya. Telusuri satu-persatu, hingga pemahamanmu tergerak untuk memutuskan apakah kau pantas untuk menyesal.
Jangan salahkan keadaan. Salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa mengendalikan keadaan. Keadaan adalah mati. Kau adalah hidup, berakal, bergerak.
Jika kau memilih akan terus jatuh, tengkurap dengan penyesalan, tidak bergerak, menyalahkan keadaan dan dirimu saja, dan terus saja bergeming dengan seperti itu, penyesalan akan leluasa menyedoti keanggunanmu ketika menapaki setiap jengkal dunia.
Penyesalan itu bermuka dua, asal kau tahu. Kau yang memegang topengnya, karena penyesalan tidak hidup, dan kau hidup. Terserah padamu untuk menindak lanjuti seperti apa penyesalan itu.
Kau hidup juga tidak sendiri saja, kan? Kuperingatkan padamu, apakah benda yang sepertimu itu layak dijadikan tongkat yang kokoh, ketika kau dihadapkan dengan penyesalan yang luar biasa? Apa mereka akan berkata segala macam ketika kau merasa seperti itu? Apa mereka hanya membantumu bangkit, kemudian tidak menatihmu? Lihat saja sendiri.
Yang seperti ini, usulku, acuhkan. Kau akan mendapatkan predikat juara milikmu sendiri ketika kau bisa berdiri sendiri, berjalan sendiri, berperang dengan dunia ini. Predikat juara ini yang kumaksud adalah.. kau hebat.
Aku tahu, setiap orang bisa menangani penyesalannya sendiri. Kini tersenyumlah sejenak. Kalau hidupmu terasa pahit, jilatlah madu. Toh lebah tidak semuanya seram. Tidak semua lebah mengenatmu.



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, 25 October 2011

Planet Imajiner

Pernah mendengar keberadaan planet tersebut? Planet Imajiner. Saya menanyakan keberadaannya. Bukan letaknya. Oke, kalau kalian pernah mendengar nama planet ini, kuberi tahu kalian tentang letaknya. Saya sendiri tidak tahu dimana letak pastinya. Yang pasti, letak planet ini bukan di galaksi bima sakti atau galaksi-galaksi lainnya.
Trus dimana?
Hm.. Saya tidak menjelaskan dimana orbit planet indah ini berputar. Tapi saya akan menceritakan dimana kalian bisa melihat, menemukan, atau sekedar mampir ke planet ini. Ohya, mungkin kalian pernah berpijak pada planet ini.
Mulai penasaran? Bagus. Semakin kalian penasaran, semakin cepat perjalanan ini dimulai.
Perjalanan sebenarnya sudah dimulai sejak tadi. Perjalanan dimulai ketika kalian membubuhkan tanda tanya pada otak kalian ketika membaca sebagian kalimat-kalimat awal saya. Dan semakin kesini, salah satu sudut pada tubuh kalian sudah berpijak pada planet ini. Bukan kaki.
Planet Imajiner. Musuhnya planet Real. Ya, seluruh makhluk bumi sebenarnya berasal dari 2 planet tersebut. Makhluk planet Real memiliki hukum "Planet Imajiner itu tidak ada". Jadi, tak ada satupun makhluk planet Real berpijak pada salah satu sisi planet Imajiner. Sebaliknya, makhluk planet Imajiner membebaskan makhluknya sendiri untuk menganggap planet Real seperti apa. Karena Imajiner memiliki 'bebas'.
Saya sendiri lahir di planet Imajiner. Sejak kecil hidup disini. Meski dengan tubuh yang berada di planet Bumi, saya seutuhnya berada di planet Imajiner. Meski sesekali berada di planet Real, jujur, saya lebih senang berada di kampung halaman saya sendiri. Planet Imajiner.
Seperti yang saya bilang tadi, Imajiner ini 'bebas'. Dimana kalian menempati tempat kalian sendiri. Kalian disini BEBAS. Planet ini menyerahkan segala sudutnya untuk kalian. Planet Imajiner juga berkata tentang mimpi. Di planet ini lah kalian meletakkan mimpi kalian. Sesekali, kalian mainkan agar mimpi tersebut bisa berada di planet Real.
Kenapa makhluk asli planet Real membenci segala isi, segala paham, dan segala-galanya tentang planet Imajiner? Saya jelaskan : makhluk asli planet Real hanya berjalan. Berjalan tentang hidup. Berjalan pada jalan lurus. Otak mereka terbatasi tentang planet mereka.
Tapi, makhluk asli planet Real tidak tahu menahu tentang keputusasaan temannya sendiri. Dan makhluk asli planet Imajiner akan mengajak Makhluk-makhluk planet Real lemah. Planet Real itu suram, pengap, sempit, dihiasi hitam.
Planet Imajiner? Luas. BEBAS.
Bagaimana hidup saya di Planet Imajiner? BEBAS. Di planet imajiner, saya ini seorang gadis dengan ide-ide briliannya untuk dibagikan kepada makhluk asli planet Imajiner yang sedang berada di planet Real yang masih belum ada waktu untuk pulang ke rumah. Mereka terkekang. Saya sangat ingin membebaskan mereka, mengajak mereka kembali ke planetnya. Tapi, lingkungan di planet Real tidak memungkinkan.
Di planet ini, saya memiliki teman untuk berbagi. Namanya Jin. Diambil dari penggalan nama planet ini, Imajiner. Dan diambil dari sebuah hal yang tidak dipercaya oleh makhluk asli planet Real, imajinasi. Bagaimana bentuk fisiknya? Oh, hanya saya yang tahu.
Disini, di planet Imajiner, meski satu sama lain tidak saling mengenal, kami merasa dekat. Mengapa? Karena kami merasa berada pada pijakan yang sama. Kami memiliki kebebasan yang selevel meski kebebasan kami tidak sama.
Yang paling saya kagumi dari makhluk-makhluk asli dari planet ini adalah : sebagian mereka yang memilih berada di planet ini mulai awal umur mereka dimulai hingga nisan mencatat umur mereka, mereka tetap berada di sini. Mereka hanya meletakkan mimpi yang sudah terbentuk di planet Imajiner ke planet Real, kemudian kembali lagi ke planet asal mereka.
Saya sendiri.. saya sekarang berada di planet Real. Pulang pergi planet Real-Imajiner. Jujur, saya kangen planet Imajiner. Kangen sama Jin lebih tepatnya. Tapi ada sedikit kelegaan karena telah bersapaan sebentar dengan planet yang mirip langit sore ini.
Jadi, sedang berada dimana kalian? Kalian makhluk asli planet mana? Apa kalian sedang di planet Real dan ingin kembali ke planet Imajiner? Ayo, cepat balik ke planet Imajiner, para makhluk asli. Kalian tahu, kan, bagaimana ada sebuah pesta ketika kalian kembali kepada planet Imajiner?
Planet Imajiner. Bebas.

**

Rahmadana Junita.
25 Oktober 2011.
Surabaya, 25 Mytober 2011. 8:49 AM.
Kangen Imajiner :(( beserta teman-temannya.

Friday, 1 July 2011

June

Hey, ini Juli!!
Tahukah kau bahwa aku terpaksa tidak melewatkan detik pertama setiap harinya untuk melihat siapa yang berulang tahun pada hari itu lewat facebook. Aku melakukannya selama sebulan!
Dan, er, hasilnya?
Nihil. Kau tak berulang tahun pada bulan Juni.
Aku tahu, aku bisa saja melihatnya pada info profilmu. Tapi aku ingin kejutan! Aku ingin aku yang mengirim ucapan itu yang pertama.
Tapi apa?

Wednesday, 15 June 2011

Go A Head edisi Manusia Blur

Tau iklan rokok yang Go A Head yang manusia blur nggak? Pasti pertama kali lihat, mungkin kalian pikir “Ini iklan apaan sih” atau cuma bilang “hah?” dan yang pada intinya kalian nggak ngeh sama iklannya. Sama. Aku juga. Tapi, setelah iklan ini sering diputer dan dengan ending si manusia blur itu nggak blur lagi, aku jadi penasaran. Sepertinya memang ada artinya. Jadi, aku disni nyoba mengartikan iklan itu menurut pemikiranku. Enjoy..

--

Manusia kribo blur. Di iklan itu, rasanya hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Nggak ada artinya, nggak jelas, dan mungkin nggak dianggep.

Di bus, dia sendirian. Oke, sebagai awal iklan, mungkin ini sebagai pertanyaan. Kenapa manusia ini blur? Cuma sampai disitu. Aku yakin nggak ada pertanyaan ‘kenapa dia naik bus sendirian?’. Ya karena naik bus nggak perlu rame-rame, kan? Tapi disitu dia ngelihatin tangannya yang blur. Mungkin ini menunjukkan kalo iklan ini pengen ngelihatin si manusia blur. Dan sedikit pertanyaan ‘kenapa dia blur?’

Scene berikutnya. Pas dia papasan sama cewe yang matanya lihat ke depan, dan dia harus mepet ke mobil. Disini juga masih nunjukin kalo dia nggak dianggep. Biasanya, kalo ada dua orang yang berjalan berlawanan arah, dan mata dari keduanya lurus, salah satu atau bahkan keduanya beralih ke arah lain. Logikanya, si cewek nggak mungkin minggir ke mobil. Arah jalannya pasti jadi menjauh dari mobil, kan? Ini berarti, si cewek nggak perduli dengan apapun yang terjadi dengan manusia blur itu.

Benerin taplak meja. Sepele. Mungkin dari sini bisa dilihat kalo pas udah nggak ada kerjaan yang dikerjain. Dan seharusnya dia sama temen-temennya ngobrol-ngobrol ––meski nggak jelas apa yang diomongin. Bukan benerin taplak atau benerin letak meja atau semacamnya yang nggak jelas kaya gitu dan terasa kurang kerjaan.

Mbersihin mobil atau benerin ya yang dia jongkok megang-megang pintu mobilnya? Entahlah. Yang penting disini aku nangkepnya dia masih ‘sendirian’. Bayangin aja. Itu mobil kuno, dan dia masih muda. Seharusnya seru banget kalo bahas otomotif dan ngotak-ngatik benda kuno itu bareng teman-tamannya. Dan kayaknya itu seru banget. Kalo dia nggak punya duit buat ngutak-ngatik benda itu, seenggaknya ada temennya yang excited banget sama benda kuno, dan selalu suka membahasnya.

Di sebuah ruang, di sofa panjang, dia duduk sendirian. Disini aku juga nangkep ‘sendiri’-nya manusia blur ini. Ada dua pertanyaan : dia ngekost atau ngontrak sama temen-temennya, atau dia lagi dirumah sendiri. Kalo malem itu malem minggu, rasanya gimana gitu ya nggak ada temen yang ngajak dia keluar, nggak ada keluarga yang ngajak ngobrol seru. Dan pada intinya, malam itu dia duduk sendiri. Nggak ada temen.

Di kamar mandi. Sendirian(yang ini nggak mungkin rame-rame), dan menggosok tangan kirinya. Mungkin dalam pikirannya dipertanyakan “Kok aku blur, sih?” dan dalam bahasa lugasnya, pertanyaannya seperti ini “Aku hidup jelas gak, sih? Aku hidup terus kenapa?” dan sekitar itu. Nggak dianggep. Dan dia nggak nanggep hidupnya itu seperti apa. Oke, beberapa kalimat mungkin sedikit labil kayak ababil, tapi, di sisi lainnya, dia ngerasa hidupnya gitu-gitu aja. Blur. Ngeh? Oke, lanjut.

Ikan hiu. Bahkan ikan hiu pun nggak memeberi ‘sesuatu’ buat dia. Padahal ikan hiu itu tidak suka keramaian. Aneh, kan? (yang ini sotoy) singkatnya gini : Kenapa dia ke sea world sendirian? Nggak asyik banget kan nggak rame-rame? Dan ikan, ya ikan, IKAN, nggak bisa nganggepp dia. Dia Cuma bayangan hitam mirip korek. Tak berbau darah.

Scene pas di sebuah ruangan, kayak ada forum gitu. Perhatiin deh yang berdiri. Yang mimpin diskusi itu. Gimana ngadepnya? Membelakangi manusia blur. Disitu, posisinya manusia blur ngerasa nggak dianggep kalo ada di situ. Dia merhatiin, dan yang lainnya juga merhatiin. Yang mimpin diskusi itu juga menggerakkan tubuhnya. Ini berarti, manusia blur itu sebenernya keliatan, tapi nggak dianggep.

Pas dilihatin sama orang aneh (aku nggak tau ini cewek apa cowok) yang kumisan dan pake dress, dan pandangannya itu bilang yang intinya manusia blur ini ‘apa banget’, nggak normal. Istilah singkatnya ‘eh, orang ini’. Dan sampe mau masuk pun, manusia aneh itu masih ngelihatin si manusia blur. Berasa dia nggak aneh aja, ckck.

Di bar(scene yang ini nggak ada di iklan yang baru), kenapa dia sendirian? Entahlah. Logikanya, nggak mungkin banget main di bar kayak begituan sendirian. Kan nggak seru asyik-asyikan gitu sendiri nggak ada temen. Jadi, intinya bisa aja dia nggak bisa dapet temen buat diajak ke tempat begituan. Bukan karena dari sudut pandang ‘negatif’ dari tempat ini lho ya. Dilihat aja gimana dia pengen ngajak beberapa temennya buat seru-seruan. Oke, memang sendirian bisa ke tempat seperti itu. Disana mungkin ada beberapa orang nggak kenal yang ngajak turun buat nikmatin lagu dan bergoyang. Tapi nyatanya? Nggak ada. Dan gimana minumannya? Apakah selalu penuh karena tawaran bartender untuk mengisinya lagi? Kalo yang ini aku nggak tau. Haha :p

Tidur di kamar. Dia mikir. “Segitukah gue? Nggak dianggep, dianggep aneh. Gue gini-gini aja. Hidup gue blur. Nggak jelas” berkedip, dan sepertinya memutuskan ke sebuah tempat.

Pameran lukisan. Dia masuk, dan bertemu dengan cewek aneh nari-nari niup trompet pake kacamata 3D. ngelihatin dia dengan penuh tanya, kemudian memberhentikan permainan trompetnya, melepas kacamatanya, menjulurkan tangannya, dan tersenyum. Kenalan. Mana mungkin si manusia blur menolak seseorang untuk pengen ‘mengenalnya’? Sekalipun itu cewek aneh.

Scene-scene berikutnya sudah membuat kita tersenyum. Pas di café, si cewek aneh menceritakan beberapa hal yang seru. Hingga pada akhirnya kita ditunjukkan bahwa dalam ‘dimensi’ si cewek (dimensi bukan 3D, karena dia make kacamata 3D), dalam kacamatanya, si cowok ini ‘terlihat’. Semakin bingung? Oke, lanjut aja.

Lompat-lompat di matras. Ketawa gulung-gulung seru main bowling. Lihat bintang. Ngebikin hidup si manusia blur ini lebih berwarna. Lebih ada sesuatu dari biasanya. Siapa yang nggak seneng? Siapa yang nggak seneng kalau ada seseorang yang membuat hidup kita lebih greget dari biasanya?

Dan pada akhirnya, manusia itu bangun tidur di atas kap mobil, dia sudah melihat dirinya tidak blur lagi. Ini pasti karena cewek aneh kacamata 3D. Seharusnya dia berterimakasih dengan cewek itu. Tapi apa? Cewek itu cuma ninggalin kacamatanya. Dia (cewek kacamata 3D) ngelihat ‘dimensi’ kita ini dengan kacamata 3Dnya. Dan kita tahu bahwa dengan kacamata 3D, sebuah film akan lebih seru (lupakan 4D dan 5D. kita bicara yang sederhana). Mungkin dipikirannya, ‘dimensi’ kita belum seru, dan dia memakai kacamata 3D agar terlihat seru, dan ketika kita diberi kesempatan untuk melihat si manusia blur dengan kacamatanya, manusia itu terlihat.

Dan dari back soundnya, dari awal cuma instrumen yang mengalun rendah, kemudian mati, dan hanya seperti itu. Tapi setelah bertemu dengan cewek itu? Back sound jadi full. Merendah, tapi tidak hilang. Seperti menegaskan bahwa hidup manusia ini tidak lagi sunyi seperti sebelumnya

Jadi, teman2 yang ngerasa hidupnya ‘nggak berarti’, nggak usah bilang ‘aku hidup buat apa sih?’ atau ‘apa sih artinya hidupku?’. Hello, itu sudah nggak usum. Mungkin ada beberapa manusia di luar sana yang memandangmu dengan ‘kacamata’ sendiri dan sanggup melihatmu meski tanpa kacamata. Dan suatu hari kelak, percayalah dia yang akan membuat hidupmu lebih berwarna, lebih berarti, meski dia jelek sekalipun, aneh, atau beberapa predikat yang tidak manusiawi lainnya. Tapi predikat itu untuk apa? Yang terpenting adalah dia sudah membuat hidupmu tidak ‘blur’ lagi. Dia sudah membuat warna lain. Dan ingat, jika kau sudah menemukannya, jangan sia-sia kan dia, atau lengah, untuk membuatnya pergi, dan meninggalkan penyesalan. Yang belum menemukan, tetap sabar, masih ada manusia yang memandangmu dengan kacamata lainnya yang sudah ada sebelum kau ada dan memang hanya untukmu : keluarga. Jangan sia-siakan keberadaan mereka J

Rahmadana Junita, 15 Juni 2011

Quotes of Today

Mereka memanggil mimpinya dengan berbagai cara. Begitu juga dengan cara mendapatkannya. Meski mimpi mereka tidak 'wah', setidaknya mereka punya mimpi untuk dikejar.
Tolong, jangan dirusak dengan memberikan berbagai komentar.

Rahmadana Junita

Monday, 2 May 2011




Untuk seseorang yang tidak memerlukan kamus agar aku mengerti apa itu bahagia.
Cukup bersamanya.
Kau.

Sunday, 1 May 2011

-

Kalau nanti ragaku tergantung di tengah-tengah kamar, dengan seutas tali menjerat leherku, jangan pernah tanyakan kepada sahabatku apa penyebabnya. Asal kau tahu, mereka hanya tahu namaku. Tanyalah kepada cermin, jam, langit-langit, atau bantal yang diam saja ketika aku melakukannya.

Saturday, 30 April 2011

Pernikahan

Saya pernah mendengar dari teman, bahwa ketika hidup, ingatlah tiga hari penting ini: kelahiran, pernikahan, kematian. Kelahiran, semua orang pasti akan melaluinya, juga kematian.
Tapi pernikahan? Saya yakin, tidak semua orang bisa menjalaninya.

Seorang wanita bisa hidup karena tulang rusuk prianya. Begitu saya sering dengar. Tak jarang, ketika mereka –pria dan wanita– telah sah menjadi suami istri, rasanya hidup merasa sudah jangkap. Bukan karna telah memiliki seseorang yang dicintainya. Melainkan tulang rusuk yang terpisah itu bisa selalu berdekatan. Well, saya mungkin belum merasakan ‘kejangkapan’ itu. Tapi, dari saya mendengar, membaca, dan melihat, saya bisa merasakan ‘chemistry’ dari mereka. Hebat.

Bagaimana untuk mereka yang belum menemukan tanggal pernikahannya ketika tanggal kematiannya sudah diingat beberapa orang?

Entahlah. Itu sebuah kuasa Tuhan. Di otak saya tercentang beberapa faktor yang menjadi sebab kejadian itu. Tapi rasanya itu semua hanya anggapan manusia. Bukankah Tuhan yang merancang semuanya?

Pernikahan. Siapa yang tak menginginkannya? Menjadi raja/ratu sehari, menjalani serentetan acara bersama dia yang sejak dulu dicintai, melihat senyuman kerabat dan cipika-cipiki yang menyebabkan polesan bedak menipis, dan mungkin pernikahan menjadi salah satu ritual sakral yang sangat dihormati.

Serentetan acara. Akhir-akhir ini, ketika bermain internet, mendengar berita, membaca majalah, atau sekedar berjalan-jalan, saya sering menemukan sesuatu hal yang berkaitan dengan pernikahan. Entah itu foto pre-wedding, foto-foto acara pernikahan orang, undangan pernikahan yang unik, souvenir yang berkesan, dan ini dan itu. Ini yang membuat saya tiba-tiba berpikir, bagaimana nanti pernikahanku? Dan, coba tebak, apa yang saya lakukan setelah itu? Yap, membayangkan serentetan acara dengan beberapa pernis.

Let’s begin.

Menikah pasti dengan orang yang dicintai. Dengan seseorang yang tulang rusuknya masih ada di dalam tubuh saya. Masalah nanti jodoh saya akan seperti apa, itu rahasia Tuhan. Dan saya tahu, semakin Tuhan menyimpan rahasia itu rapat-rapat, semakin kita akan sangat bahagia ketika mendapatkannya. Pada umur berapa saya menikah, saya tidak berani menjatuhkan pada angka berapa. Mungkin setelah saya bisa benar-benar menemukan jati diri saya, dan tentunya, jodoh saya. Hm, sepertinya dengan siapa, pada umur berapa, atau ketika musim apa, saya rasa hal itu tidak akan saya bahas disini. Saya ingin menuturkan bagaimana nanti pernikahan yang saya ingini.

Sebelum menjalani ‘proses’, mungkin akan menjalani photoshoots pre-wedding. Photoshoot pre-wed yang saya ingini tidak biasa. Saya tidak mau berfoto bersama pria yang akan menjadi suami saya dengan pose memegang dadanya, kemudian mata kami mengarah ke arah lain, bukan kamera. Bukan berdiri tegak, bergandengan tangan, melihat kamera. Yang saya inginkan adalah, kita berdua tertawa, memiliki chemistry yang luar biasa ketika orang lain melihat hasil fotonya. Saya ingin mereka tahu bahwa kami bahagia memiliki satu sama lain. Klasik, dinamis.

Kemudian siraman. Salah satu adat jawa yang dilakukan sehari sebelum hari pernikahan. Saya tidak mungkin meninggalkan hal ini. Selain menuruti ‘kata orang tua’, saya ingin melestarikannya. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Siraman cukup di datangi keluarga dan kerabat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana lucunya bapak dan ibu saya berjualan dawet. Iya, ada acara jual dawet. Setiap orang diberi koin-koin tanah untuk membeli dawet. Saya tidak tahu secara terperinci mengapa ada acara jual dawet di malam terakhir sebagai perawan.

Seingat saya, malam setelah acara siraman, si wanita akan di dandani dengan dandanan yang sederhana, kemudian ‘temu’ dengan si pria. Tapi hanya sebentar. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin, kalau saya menikah nanti, kita berdua selama semalam itu tidak boleh berkomunikasi. Boleh meng-SMS, mention twitter, update status facebook, ping BBM, atau telepon. Boleh. Tapi sayangnya, yang menerima tidak boleh menanggapinya/membalasnya. Agar kita berdua mendapatkan rindu yang bergejolak sebelum pada akhirnya kita menjadi milik satu sama lain.

Paginya, di hari yang akan kita ingat hingga kita tidak bisa mengingat apapun, Akad Nikah. Ketika bapak menjabat tangan pria itu, menikahkan saya, didampingi dengan penghulu dan saksi. Disaksikan oleh sahabat-sahabat dan keluarga tentunya. Ya, saya ingin sahabat saya menyaksikan. Menyaksikan salah satu mimpi saya terwujud.

Saya ingin Akad Nikah saya seperti di film Ayat-Ayat Cinta. Ketika Fahri mengucapkan ijab kabul, dan panghulu menanyakan ‘sah?’ kepada saksi, kemudian berdoa, amin, dan kelopak-kelopak mawar merah yang semalaman sudah direndam air mawar berjatuhan mewarnai ruangan itu. Mewarnai awal ‘kami’. Setelah itu menandatangani surat nikah, tukar cincin, mencium tangan suami, dan suami mencium keningku, dan… Ah saya tidak tahu urutannya.

Untuk resepsi, saya ingin garden party. Di rooftop atau taman. Tidak dengan busana pernikahan modern. Tapi dengan busana pernikahan yang dicoreti keningku. Yang hitam. Atau ala apa itu namanya? Yang nanti suamiku bertelanjang dada, dan saya sendiri mengenakan kemben. Entahlah.

Resepsi masih ada ‘injak telur’. Saya tak mau menghilangkan tradisi jawa. Saya ini kan orang Indonesia.

Saya tidak mau berfoto dengan berdiri, tersenyum, memegang tangan suami ketika berfoto dengan teman ‘kami’. Hal ini boleh dilakukan dengan keluarga. Untuk teman ‘kami’, satu foto seperti ini, beberapa foto lagi dengan tawa. Pasti menyenangkan. Mungkin saya juga akan mengerahkan beberapa photographer teman ‘kami’ untuk memotret ‘kita’.

Resepsi berjalan seperti umumnya. Makanan yang tersedia mungkin jajanan pasar dan kuliner Indonesia. Konsepnya bisa jadi Indonesia dengan sedikit nuansa ke-eropaan. Eropa mungkin terletak pada keklasikan penataan dekorasi. Lagu yang diputar adalah jazz (meski jazz bukan musik dari eropa), dan campur sari klasik yang sudah di re-aransemen oleh beberapa teman ‘kami’ yang ahli menjadi sedikit keeropaan. Atau mungkin band pengisinya adalah teman ‘kami’ sendiri yang mengaransemen itu semua. Menyenangkan!

Dan ketika acara resepsi berada pada puncak keramaian tamu, tiba-tiba suami berdiri di panggung. Mengambil mic, mematikan suara musik yang berdentang, meminta seluruh tamu melihatnya. Setelah terlaksana, ia mengatakan ini :
“saya tidak menyanyikan lagu kesukaan istri saya, atau beberapa lagu favorit ‘kami’. Tapi sebuah lagu yang sengaja saya tulis untuk hari ini. Untuk istri saya, agar tamu yang berada disini tak perlu ragu kalau saya benar-benar mencintainya. Dunia tak perlu tahu. Cukup kita. Enjoy ”
Suami memetikkan gitar, dan bernyanyi. Di beberapa liriknya berisi pendapat saya dan dia dulu ketika masih berpacaran, membicarakan tentang dunia, tentang beberapa kecintaan kita terhadap suatu hal atau bahkan kebencian kita. Lirik terakhir adalah kalimat ucapan malamnya kepadaku ketika masih berpacaran dulu. Kalimatnya sendiri.

Acara selesai. Bulan madu tidak perlu dunia. Cukup loteng dimana kami bisa melihat langit jernih di setiap malam. Dimana kami bisa menyambut pagi secepat yang kami bisa. Dimana kami bisa saling bersamaan mencintai langit. Rumah yang kami singgahi nanti bukan perumahan. Mungkin cukup perkampungan sederhana dengan atap-atap rendah, dan rumah kami paling menjulang. Kami menginginkan langit!

Jadi, bagaimana keinginan pernikahanmu?