Wednesday, 4 July 2012

Dimensi Perantau

Liburan 3 minggu. Cukup dipertanyakan apa yang dilakukan selama 3 minggu tersebut. Banyak kegiatan sebenernya dari kampus. Dan kebanyakan dari temen saya selalu ngeluh untuk 'Kapan aku pulang', atau 'Aku kepengen pulang'. Intinya sih sama saja : Kebelet pulang.
Beberapa teman saya, entah itu dalam satu angkatan, satu jurusan, beda angkatan, beda jurusan, atau bahkan malah beda universitas/institut, malah nggak pengen pulang. Banyak sekali alasan dan kenyataan yang menyebabkan mereka cukup mampu bertahan di Surabaya, yang udaranya nggak lebih seger dari kampung halaman mereka.
"Buat apa pulang, toh nggak ada apa-apa dirumah."
"Buat apa pulang, toh di rumah nggak ngapa-ngapain, garing"
"Disini banyak kegiatan yang bisa bikin liburan lebih menyenangkan"
"Buat apa kangen rumah?"
Macem-macem alasan mereka, dengan background ideologi yang berbeda juga. Terserah mau bilang apa, anak perantauan yang nggak kepengen/kebelet pulang itu keren!!

Monday, 2 July 2012

Tidak Sedang Mendengarkan.

Diiringi irama gitar akustik yang mengarungi rongga telinga, sambil menutup mata dan mendongak, saya membayangkan saya sedang duduk bersila di puncak bukit, di bawah pohon, merasakan dedaunan runtuh di sela-sela ruang saya dan rambut yang membelai lembut pipi karena akngin. Posisi  terbaik nomor sekian yang saya impikan. 
Dan, disaat saya membuka mata, saya menemukan seseorang duduk di samping saya, sedang memeluk lututnya, dengan mata terbuka, ia mengikuti posisi saya : mendongak, melihat langit.
**
Seperti itulah.

Thursday, 7 June 2012

Koneksi


Masih sore sebenarnya. Dan lelah tidak punya cukup daya yang banyak untuk menumbangkan tubuhku agar tertidur di atas lahan lelap. Mata terjaga saja. Untungnya, tidak menagih untuk mendapat penyelamatan berupa selamat malam, cepat tidur, atau mimpi indah jatuh di ujung mata atau telinga.
Suara tukang nyenyak kubiarkan berlarian di ruang dengar. Bernyanyi sekenanya, menawarkan jasa pengantaran untuk bertolak dari alam nyata. Siapa yang tidak tertarik untuk menerimanya dengan kondisi seperti ini? Aku mengiyakan.
Ketika nyawaku sudah nyaris tidak ada di lahan lelap, suara gending Bali ikut berlari, dan nama yang sama seperti yang sering bercokol di daftar kotak masuk pesan berkedip di layar ponsel. Tidak girang. Tidak juga menolak untuk menjawab, karena putri tidur tak pernah menolak Pangeran menciumnya agar terbangun.
“Halo?” responku seketika, mencoba tidak terlihat seperti terbangun dari tidur. Tidak ada putri tidur yang menolak berdialog dengan Pangerannya setelah dibangunkan.
“Sedang apa?” tanyanya.
“Sedang akan tidur. Nyaris saja sampai.”
“Mengganggu ya? Maaf. Kunyanyikan nina bobo ya. Sebentar,” suaranya sedikit menjauh. Setelah diam sejenak, terdengar suara badan gitar yang beradu dengan lantai. Sedetik kemudian, petikan gitar terdengar lembut.
Tanpa permintaan pemberitahuan, refrain terdengar dari dua sumber suara bersamaan. Berlarian di ujung-ujung tempat ini, dan di ujung telinga. Putri tidur tak bisa tidur karena menunggu lagu selesai. Dan Pangeran tidak pernah benci dengan lagu yang ia mainkan.